Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut di Masa Pandemi Covid-19
Senin, 14 Juni 2021 - 22:38 WIB
loading...
A
A
A
Sebuah penelitian di BMC Oral Health baru-baru ini sebenarnya menunjukkan bahwa menyikat lidah yang merupakan bagian penting dari kebersihan gigi dan mulut, juga dapat mencegah infeksi Covid-19. Lidah adalah tempat berkembang biaknya bakteri dan virus, dan menyikat adalah cara paling efektif untuk membersihkannya, jauh lebih efektif daripada menggunakan obat kumur saja. Penelitian ini menunjukkan penyebab virus Covid-19 yaitu SARS-CoV-2 juga merupakan salah satu virus yang jika terakumulasi di lidah dapat dilawan dengan cara menyikatnya.
Konsentrasi 1-1,5% larutan hidrogen peroksida atau 1-0,2% povidone-iodine diyakini oleh para peneliti dapat menjadi obat kumur yang efektif untuk mengurangi viral load di rongga mulut pasien Covid-19. Obat kumur klorheksidin juga dilaporkan efektif dalam mengurangi viral load SARS-CoV-2 dalam air liur untuk jangka pendek.
Di masa pandemi ini, para orang tua harus lebih waspada dan memberi perhatian lebih pada kesehatan gigi dan mulutputra-putrinya.Selain karena hal-hal tersebut di atas, juga karena keterbatasan akses ke tempat pelayanan kesehatan gigi.Kunjungan ke Dokter Gigi sebaiknya hanya untuk kasus emergensi atau kegawatdaruratan saja. Kalau bisa ditunda sebaiknya ditunda untuk mengurangi risiko terpaparCovid-19.
Kasus emergensi adalah keadaan klinis pasien yang perlu tindakan medis segera, guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. Sebagai contohnya adalah adanya rasa sakit yang menetap, abses atau pembengkakan, kasus trauma karena jatuh, kecelakaan, pasien gigi dengan penyakit penyerta yang berbahaya untuk kesehatan tubuh, dan lain-lain.
Bila terpaksa harus berobat ke Dokter Gigi, maka ada protokol kesehatan baru yang harus diikuti. Pada umumnya protokol kesehatan baru yang harus diikuti di tempat praktik Dokter Gigi adalah :
Skrining pasien
1. Pemeriksaan suhu tubuh, dengan thermal gun atau kamera pemindai
2. Pemeriksaan tanda-tanda klinis seperti demam, batuk, kelelahan, myalgia atau nyeri otot, peningkatan produksi sputum, nafas cepat-pendek
3. Pemeriksaan laboratorium
4. Dilakukan tes : rapid antigen, GeNose, swab PCR dll
Pengaturan pasien
1. Penjadwalan dan jumlah pasien (okupansi ruangan) maksimal sebesar 50%.
2. Menjaga jarak antar pasien sejauh minimal 1 meter.
3. Tetap melakukan protokol kesehatan (selalu menggunakan masker dengan benar, cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, berkumur antiseptik povidone iodine)
4. Pemasangan signage untuk alur antrian pasien.
Konsentrasi 1-1,5% larutan hidrogen peroksida atau 1-0,2% povidone-iodine diyakini oleh para peneliti dapat menjadi obat kumur yang efektif untuk mengurangi viral load di rongga mulut pasien Covid-19. Obat kumur klorheksidin juga dilaporkan efektif dalam mengurangi viral load SARS-CoV-2 dalam air liur untuk jangka pendek.
Di masa pandemi ini, para orang tua harus lebih waspada dan memberi perhatian lebih pada kesehatan gigi dan mulutputra-putrinya.Selain karena hal-hal tersebut di atas, juga karena keterbatasan akses ke tempat pelayanan kesehatan gigi.Kunjungan ke Dokter Gigi sebaiknya hanya untuk kasus emergensi atau kegawatdaruratan saja. Kalau bisa ditunda sebaiknya ditunda untuk mengurangi risiko terpaparCovid-19.
Kasus emergensi adalah keadaan klinis pasien yang perlu tindakan medis segera, guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. Sebagai contohnya adalah adanya rasa sakit yang menetap, abses atau pembengkakan, kasus trauma karena jatuh, kecelakaan, pasien gigi dengan penyakit penyerta yang berbahaya untuk kesehatan tubuh, dan lain-lain.
Bila terpaksa harus berobat ke Dokter Gigi, maka ada protokol kesehatan baru yang harus diikuti. Pada umumnya protokol kesehatan baru yang harus diikuti di tempat praktik Dokter Gigi adalah :
Skrining pasien
1. Pemeriksaan suhu tubuh, dengan thermal gun atau kamera pemindai
2. Pemeriksaan tanda-tanda klinis seperti demam, batuk, kelelahan, myalgia atau nyeri otot, peningkatan produksi sputum, nafas cepat-pendek
3. Pemeriksaan laboratorium
4. Dilakukan tes : rapid antigen, GeNose, swab PCR dll
Pengaturan pasien
1. Penjadwalan dan jumlah pasien (okupansi ruangan) maksimal sebesar 50%.
2. Menjaga jarak antar pasien sejauh minimal 1 meter.
3. Tetap melakukan protokol kesehatan (selalu menggunakan masker dengan benar, cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, berkumur antiseptik povidone iodine)
4. Pemasangan signage untuk alur antrian pasien.
Lihat Juga :