Evita: Sinergi Ekosistem Ultra Mikro Bantu Percepatan Pemulihan Ekonomi
Selasa, 08 Juni 2021 - 04:33 WIB
loading...
A
A
A
Dia menilai, UMKM merupakan penyangga atau tulang punggung ekonomi nasional, terutama saat menghadapi situasi sulit seperti pandemi Covid-19. Itu sebabnya Evita percaya upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional saat ini akan berjalan dengan baik ketika dimulai dengan membantu UMKM untuk bangkit kembali.
Data menunjukkan, dari 65 juta dunia usaha yang ada di Indonesia, sebanyak 99,9% adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKMK). Dari jumlah itu, usaha besar hanya 5.637 (0,01%), usaha kecil 798.679 (1,22%), usaha menengah 65.465 (0,10%), sedangkan jumlah yang terbesar ada di usaha mikro dan ultra mikro yang jumlahnya 64 juta (98%). Artinya, usaha mikro dan ultra mikro ini sangat penting peranannya.
Tapi meskipun peranannya sangat penting, namun ternyata dari data yang ada, dari 64 juta usaha mikro dan ultra mikro ada 30 juta belum memiliki akses kepada sumber pendanaan. Kemudian hanya ada 15 juta terlayani oleh sumber pendanaan mulai dari bank, gadai, group lending, BPR, hingga fintech. Selanjutnya ternyata ada 18 juta tidak terlayani. “Yang tidak terlayani dan yang belum memiliki akses kepada sumber pendanaan ini tentunya akan sangat mudah untuk terjerat kepada rentenir, termasuk rentenir online yang begitu menjamur saat ini. Ini yang juga perlu mendapat perhatian kita,” katanya.
Data menunjukkan, dari 65 juta dunia usaha yang ada di Indonesia, sebanyak 99,9% adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKMK). Dari jumlah itu, usaha besar hanya 5.637 (0,01%), usaha kecil 798.679 (1,22%), usaha menengah 65.465 (0,10%), sedangkan jumlah yang terbesar ada di usaha mikro dan ultra mikro yang jumlahnya 64 juta (98%). Artinya, usaha mikro dan ultra mikro ini sangat penting peranannya.
Tapi meskipun peranannya sangat penting, namun ternyata dari data yang ada, dari 64 juta usaha mikro dan ultra mikro ada 30 juta belum memiliki akses kepada sumber pendanaan. Kemudian hanya ada 15 juta terlayani oleh sumber pendanaan mulai dari bank, gadai, group lending, BPR, hingga fintech. Selanjutnya ternyata ada 18 juta tidak terlayani. “Yang tidak terlayani dan yang belum memiliki akses kepada sumber pendanaan ini tentunya akan sangat mudah untuk terjerat kepada rentenir, termasuk rentenir online yang begitu menjamur saat ini. Ini yang juga perlu mendapat perhatian kita,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :