Kebangkitan Raksasa Tidur 'Sport Tourism'
Selasa, 18 Mei 2021 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Kampanye untuk eliminasi kendala dasar perlu dilakukan karena selama ini terdapat berbagai mindset yang “kurang lurus” yang masih subur bersemayam di masyarakat. Pertama, olahraga merupakan ranah yang sangat berbeda dengan pariwisata dan industri. Olahraga secara pure diposisikan dalam ranah sosial, sementara pariwisata dan industri lebih sebagai sesuatu yang berada di zona bisnis. Terdapat pertimbangan prinsip yang “kurang sreg” ketika keduanya harus dikawinkan dalam bentuk sport tourism.
Kedua, olahraga dipahami sebagai bentuk perhelatan perlombaan dan pertandingan cabang olahraga maupun nomor-nomor olympic games yang sebaiknya lebih fokus saja pada latihan-latihan keras untuk mencapai prestasi, pemecahan rekor, mendulang medali, dan perbaikan peringkat. Sport tourism dianggap sebagai aktivitas sampingan yang tidak boleh secara serta-merta menjadi perencanaan inti dari sebuah penyelenggaraan event olahraga, baik single event maupun multievent.
Ketiga, para pelaku pariwisata olahraga existingfaktanya tidak banyak yang memiliki magnet cerita dan citra sukses karena mereka belum dipersiapkan secara sistematis dan sistemik. Pada umumnya mereka adalah para “pekerja dadakan” sektor nonformal yang memanfaatkan event untuk sekadar mengais rezeki, bukan mendulang rezeki. Artinya, ada aksi gagah dari pemerintah yang perlu segera dihadirkan untuk memberikan layanan dalam bentuk; pemberdayaan, pendampingan, dan advokasi pada sektor riil sport tourism.
Keempat, sebagaimana jenis pariwisata yang lainnya, sport tourism berhubungan dengan mobilitas orang secara fisik yang pada saat sekarang ini terkendala keleluasaannya. Protokol kesehatan yang masih ketat wajib diberlakukan seiring dengan pandemi Covid-19 yang belum bisa dikendalikan secara maksimal. Kendati demikian, sepaket dengan program umum pariwisata nasional telah berhasil disusun panduan CHSE, yakni: Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan). Pertanyaan kritisnya, persoalan disiplin dan taat asas biasanya menjadi tantangan tersendiri di lapangan.
Peluang Emas “Sport Tourism”
Di balik kendala dan tantangan pengembangan yang dimaksud di atas, terdapat peluang emas dalam menyukseskan kebangkitan “raksasa tidur” sport tourism. Pertama, tekanan pandemi Covid-19 melahirkan sikap positif kolektif masyarakat tentang arti pentingnya nilai sehat secara jasmaniah, mental, dan sosial. Sport tourism menjadi sebuah orientasi karena memiliki nilai untuk perbaikan imunitas secara multidimensional. Mengintegrasikan secara dinamis opsi untuk perbaikan kesehatan secara fisik, mental, sosial, dan ekonomi. Pembebasan dari kemungkinan parah karena “terpapar” dalam dimensi kesehatan, sekaligus menjauhkan dari kondisi buruk “terkapar” secara ekonomi.
Kedua, olahraga dipahami sebagai bentuk perhelatan perlombaan dan pertandingan cabang olahraga maupun nomor-nomor olympic games yang sebaiknya lebih fokus saja pada latihan-latihan keras untuk mencapai prestasi, pemecahan rekor, mendulang medali, dan perbaikan peringkat. Sport tourism dianggap sebagai aktivitas sampingan yang tidak boleh secara serta-merta menjadi perencanaan inti dari sebuah penyelenggaraan event olahraga, baik single event maupun multievent.
Ketiga, para pelaku pariwisata olahraga existingfaktanya tidak banyak yang memiliki magnet cerita dan citra sukses karena mereka belum dipersiapkan secara sistematis dan sistemik. Pada umumnya mereka adalah para “pekerja dadakan” sektor nonformal yang memanfaatkan event untuk sekadar mengais rezeki, bukan mendulang rezeki. Artinya, ada aksi gagah dari pemerintah yang perlu segera dihadirkan untuk memberikan layanan dalam bentuk; pemberdayaan, pendampingan, dan advokasi pada sektor riil sport tourism.
Keempat, sebagaimana jenis pariwisata yang lainnya, sport tourism berhubungan dengan mobilitas orang secara fisik yang pada saat sekarang ini terkendala keleluasaannya. Protokol kesehatan yang masih ketat wajib diberlakukan seiring dengan pandemi Covid-19 yang belum bisa dikendalikan secara maksimal. Kendati demikian, sepaket dengan program umum pariwisata nasional telah berhasil disusun panduan CHSE, yakni: Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan). Pertanyaan kritisnya, persoalan disiplin dan taat asas biasanya menjadi tantangan tersendiri di lapangan.
Peluang Emas “Sport Tourism”
Di balik kendala dan tantangan pengembangan yang dimaksud di atas, terdapat peluang emas dalam menyukseskan kebangkitan “raksasa tidur” sport tourism. Pertama, tekanan pandemi Covid-19 melahirkan sikap positif kolektif masyarakat tentang arti pentingnya nilai sehat secara jasmaniah, mental, dan sosial. Sport tourism menjadi sebuah orientasi karena memiliki nilai untuk perbaikan imunitas secara multidimensional. Mengintegrasikan secara dinamis opsi untuk perbaikan kesehatan secara fisik, mental, sosial, dan ekonomi. Pembebasan dari kemungkinan parah karena “terpapar” dalam dimensi kesehatan, sekaligus menjauhkan dari kondisi buruk “terkapar” secara ekonomi.
Lihat Juga :