Menakar Peluang Dua Unicorn Bersatu

loading...
Menakar Peluang Dua Unicorn Bersatu
Dyah Ayu Febriani (Foto: Istimewa)
Dyah Ayu Febriani
Asisten Peneliti INDEF

BELAKANGAN ini diketahui bahwa dua unicorn kenamaan Indonesia, Gojek dan Tokopedia, telah melakukan penandatanganan conditional sales and purchase agreement (CSPA). Perjanjian jual beli saham bersyarat atau CSPA ini seakan membawa angin segar bahwa akan segera ada merger di antara kedua unicorn tersebut. Menurut Deal Street Asia, apabila terjadi merger antara Gojek dan Tokopedia, nilai perusahaan yang akan tercipta sebesar USD35-40 miliar. Jumlah tersebut akan melampaui status batas decacorn (valuasi USD10 miliar). Tapi rasio merger yang akan memberikan Gojek dan Tokopedia kepemilikan ekuitas substansial masih dalam tahap pembahasan, terutama untuk terfokus pada penandatanganan term sheet mendatang, skenario hingga tujuan akhir dari penggabungan dua entitas raksasa ride hailing dan e-commerce ini.

Bloomberg melaporkan bahwa kedua perusahaan unicorn tersebut berencana menciptakan Indonesia Internet Powerhouse, yakni strategi bisnis mulai dari pemesanan kendaraan dan pembayaran digital hingga belanja dan pengiriman online. Berkaitan dengan hal tersebut, Cross ASEAN Research melaporkan bahwa jika terjadi merger, keduanya memiliki peluang yang lebih baik untuk mendapatkan modal dalam jumlah besar untuk membiayai pertumbuhannya di masa depan.

Merger antara Gojek dan Tokopedia diprediksi mampu memperkuat posisi kedua perusahaan di antara kompetitornya seperti Shopee dan OVO yang sejauh ini menduduki posisi sebagai toko online dan dompet digital terbesar di Indonesia. Menurut laporan Iprice hingga Q4 2020, Tokopedia berada di posisi kedua di bawah Shopee berdasarkan pengunjung website dan aplikasi. Adapun Gojek melalui Gopay berada di peringkat ketiga penggunaan dompet digital setelah Shopee dan OVO. Tampaknya persaingan kini akan lebih sulit ketika sekarang Shopee mulai melakukan ekspansi pasar pada sektor antar makanan yang akan mengganggu ekosistem Gojek yang selama ini menjadi salah satu pemain besar pada bisnis antar makanan. Selain adanya persaingan dalam pasar, merger dinilai juga akan mampu mengurangi biaya operasional yang akan berimplikasi pada menurunnya biaya produksi kedua perusahaan sehingga berdampak positif bagi output yang nantinya akan dihasilkan.

Google, Temasek, dan Bain pada 2020 melaporkan bahwa pada 2025 mendatang pengeluaran masyarakat di Asia Tenggara terhadap pembelian di e-commerce, transportasi online, dan pemesanan makanan secara online akan meningkat sebanyak 300% dengan total USD214 miliar. Hal tersebut akan menjadi peluang yang besar bagi Gojek maupun Tokopedia untuk memperluas pasar dan memperbesar perusahaannya.



Dalam informasi lainnya dikatakan bahwa Gojek akan memiliki sekitar 60% saham dari entitas gabungan, sedangkan investor Tokopedia memegang 40%. Masa depan cerah terlihat apabila kedua perusahaan tersebut menggabungkan dirinya dikarenakan kedua perusahaan melakukan kegiatan bisnis yang berbeda dan tidak berpotensi untuk menghilangkan pekerjaan di antara salah satu pihak. Isu merger ini sendiri bukan tanpa alasan. Faktor pendukung dengan adanya kesamaan investor antara lain Google, Temasek, dan Sequoia Capital India pada Gojek dan Tokopedia membuat isu ini semakin kuat dan diperkirakan akan memberikan kelancaran terhadap penyatuan kedua perusahaan ini.

Selain itu alasan merger juga tidak lain untuk mendapatkan pendanaan yang lebih luas untuk modal bersaing dengan kompetitor lain. Dengan nilai valuasi yang besar, merger antara Gojek dan Tokopedia juga bisa melakukan pendanaan melalui pasar saham dan para investor yang sebelumnya sudah berinvestasi mendapatkan keuntungan dari kegiatan tersebut. Bloomberg melaporkan bahwa rencananya entitas gabungan perusahaan ini akan didaftarkan tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di Amerika Serikat melalui initial public offering (IPO) ataupun melalui special purpose acquisition company (SPAC). Peluncuran saham perdana merger Gojek dan Tokopedia dinilai mampu menarik perhatian para pemain saham ritel yang relatif dari generasi milenial di Indonesia dikarenakan merger ini akan menjadi perusahaan digital pertama yang akan meluncur di bursa saham Indonesia. Namun sampai saat ini baik dari pihak Gojek maupun Tokopedia masih enggan membuka berbagai rencana merger tersebut kepada publik.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), IPO memberi manfaat yang besar bagi perusahaan. Di antaranya adalah untuk memperoleh sumber pendanaan baru sebagai sarana pendanaan jangka panjang (digunakan untuk membiayai pertumbuhan perusahaan, membayar utang, membayar akuisisi, diinvestasikan kembali, dan meningkatkan nilai ekuitas perusahaan), meningkatkan nilai perusahaan (pemberian pinjaman akan lebih mudah dikarenakan credit risk perusahaan yang terbuka), meningkatkan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usaha, dan adanya insentif pajak sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 56 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2013 tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang Berbentuk Perseroan Terbuka di mana wajib pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka akan memperoleh penurunan tarif pajak penghasilan sebesar 5% lebih rendah dengan beberapa syarat tertentu.

Namun IPO juga akan mengalami potensi kegagalan apabila rilis laporan kinerja finansial suatu perusahaan mengalami penurunan yang akan mengakibatkan investor institusional memutuskan untuk mundur. Dengan keadaan tersebut, investor ritel yang akan menanggung kerugiannya. Selanjutnya Chemmanur dan Paeglis melalui penelitiannya menyatakan bahwa ukuran perusahaan akan menentukan gagal atau tidaknya IPO. Total aset adalah indikator untuk mengukur skala perusahaan, total aset yang tinggi akan berimplikasi pada manajemen yang bereputasi dan memiliki kualitas sehingga akan meningkatkan kinerja harga saham post-IPO dan kinerja operasional. Selain itu tingkat ketidakpastian perusahaan berskala besar secara jangka panjang pada umumnya rendah.

Pada 2019 lalu Lyft Inc, perusahaan ride-hailing pertama di Amerika Serikat yang melantai di bursa saham New York, berhasil mengumpulkan IPO sebanyak USD2,34 miliar. Tapi sayangnya Reuters melaporkan bahwa saham Lyft Inc menyusut pasca-IPO dikarenakan Uber, kompetitornya, juga akan melakukan IPO dalam waktu dekat. Selain itu analis KeyBank menyatakan bahwa merosotnya saham Lyft Inc juga disebabkan kurangnya profitabilitas dengan melihat catatan Lyft Inc yang mengalami kerugian sebesar USD911 juta pada tahun 2018.



Jika gabungan antara Gojek dan Tokopedia dilanjutkan dengan IPO, hal itu akan memberi investor global kesempatan lain untuk bertaruh di salah satu ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Isu merger ini akan mengarahkan Gojek dan Tokopedia untuk menawarkan saham perdana atau IPO di mana kedua perusahaan tersebut akan menduduki peringkat ketiga kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Jika merger ini benar terjadi, IPO yang akan dilakukan akan menuju kesuksesan dengan menarik banyak dana investor asing untuk masuk ke pasar saham Indonesia dan menciptakan entitas yang kuat dan bernilai yang akan menarik para investor baru.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top