GeNose Jadi Syarat Perjalanan Mulai 1 April, Epidemiolog: Terburu-buru dan Berbahaya
Rabu, 31 Maret 2021 - 08:24 WIB
loading...
Calon penumpang kereta melakukan tes GeNose C19 di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 resmi memberlakukan pemeriksaan tes Covid-19 dengan menggunakan GeNose C19 di semua moda transportasi sebagai alternatif screening kesehatan untuk syarat perjalanan, mulai 1 April 2021.
Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengkritisi penggunaan GeNose C19 ini. Dia menegaskan bahwa penggunaan GeNose untuk umum terlalu terburu-buru, bahkan cenderung berbahaya. "Jadi ini menurut saya terlalu terburu-buru, sangat terburu-buru. Dan sangat berbahaya ya, cenderung berbahaya," ungkap Dicky saat dihubungi, Rabu (31/3/2021).
Apalagi, kata Dicky, saat ini riset GeNose juga belum selesai dan masih ada titik lemah di sisi metodologinya. Alat screening lewat embusan napas buatan Universitas Gadjah Mada ini diklaim memiliki keakuratan mendeteksi Covid-19 lebih dari 90%. Namun, kata Dicky, akurasi deteksi lebih dari 90% itu berbasis setting di rumah sakit.
Baca juga: Tes GeNose di Stasiun Senen, Petugas: Ramai Setiap Pagi, Kewalahan di Hari Jumat
"Akurasi deteksi lebih dari 90% itu, itu yang berbasis di-setting rumah sakit ya, di-setting rumah sakit. Tapi kalau di populasi itu belum ada datanya, di populasi umum," tegasnya.
Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengkritisi penggunaan GeNose C19 ini. Dia menegaskan bahwa penggunaan GeNose untuk umum terlalu terburu-buru, bahkan cenderung berbahaya. "Jadi ini menurut saya terlalu terburu-buru, sangat terburu-buru. Dan sangat berbahaya ya, cenderung berbahaya," ungkap Dicky saat dihubungi, Rabu (31/3/2021).
Apalagi, kata Dicky, saat ini riset GeNose juga belum selesai dan masih ada titik lemah di sisi metodologinya. Alat screening lewat embusan napas buatan Universitas Gadjah Mada ini diklaim memiliki keakuratan mendeteksi Covid-19 lebih dari 90%. Namun, kata Dicky, akurasi deteksi lebih dari 90% itu berbasis setting di rumah sakit.
Baca juga: Tes GeNose di Stasiun Senen, Petugas: Ramai Setiap Pagi, Kewalahan di Hari Jumat
"Akurasi deteksi lebih dari 90% itu, itu yang berbasis di-setting rumah sakit ya, di-setting rumah sakit. Tapi kalau di populasi itu belum ada datanya, di populasi umum," tegasnya.
Lihat Juga :