Waspada! Anak Kecanduan Gadget Bisa Mengalami Gangguan Jiwa
Sabtu, 27 Maret 2021 - 06:57 WIB
loading...
A
A
A
Peran Orang Tua dan Keluarga Sangat Menentukan
Pada era teknologi saat ini memang banyak kesempatan anak dan remaja dalam meningkatkan pengetahuan dan mendapatkan informasi secara cepat dan tepat dengan sebuah layar kecil dalam genggaman tangan. Namun, ada hal negatif dalam penggunaan gawai. "Sebanyak 34,8% anak bermain gawai 2 jam hingga 5 jam per hari dan 25,4% anak bermain lebih dari 5 jam per hari di luar belajar," ungkap Komisioner Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah.
Orang tua hendaknya membangun komitmen yang baik dengan anak tentang pembatasan waktu penggunaan gawai serta melakukan pendampingan pada saat anak menggunakan gawai agar terhindar dari perilaku kecanduan serta bebas dari pornografi dan kejahatan siber. Masyarakat perlu membangun budaya melapor sehingga jika ada kasus anak yang mengalami kecanduan gawai, masyarakat bisa segera melaporkannya kepada KPAI. "Kami yakin di luar sana banyak orang tua yang anaknya mengalami kecanduan gawai dan mungkin tidak menyadari perubahannya, bahkan tidak menyadari bahwa ini merupakan gangguan jiwa," ungkapnya.
Jika diketahui terdapat kasus anak yang kecanduan gawai, KPAI membuka layanan pengaduan. KPAI pun meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melakukan sosialisasi tentang literasi digital secara menyeluruh bagi masyarakat dan orang tua di seluruh pelosok Indonesia sebagai salah satu tindakan pencegahan demi mencapai Indonesia yang ramah anak.
Di sisi lain, bahaya penggunaan gawai akan memengaruhi kesehatan psikis dan fisik anak, psikiater dan kepala instalasi rehabilitasi psikososial rumah sakit Siloam Lahargo Kembaren menuturkan, pengaruhnya terhadap kesehatan psikis bisa mengganggu fungsi personal seperti mengganggu belajar, pekerjaan dan aktivitas umum lain. Perihal kesehatan fisik, salah satu yang mudah diserang adalah kontraksi otot cilliaris di dalam bola mata, atau yang dikenal dengan istilah akomodasi dan akan merangsang timbulnya mata minus. "Untuk kasus psikis cirinya apabila dijauhkan dari gawai dia akan cemas, bisa sampai keringat dingin, jantung berdebar, nafas lebih cepat, dan bisa sampai serangan panik. Untuk fisik terutama pada mata biasanya mulai berair, tampak lebih merah, sering dikucek, berkedip, atau anak mengeluh pusing, bisa jadi anak mengalami kelelahan mata," paparnya.
Apabila ditemukan gejala-gejala terebut wajib melakukan digital detox. Artinya, membatasi akses ke dunia digital, termasuk media sosial, online game , dan segala bentuk akses digital lain. Harus juga konsultasi ke profesional kesehatan jiwa seperti psikiater, perawat jiwa, psikolog, konselor untuk mendapatkan pertolongan.
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam melakukan digital detox adalah mengurangi akses ke gawai selama 30 menit sehari untuk menurunkan risiko terjadinya depresi. Langkah berikutnya menghilangkan distraksi yang bisa menyebabkan keinginan untuk mengakses gawai. "Bisa dengan menghapus aplikasi di gadget , menghilangkan notifikasi, menaruh gadget di ruangan lain yang sulit dijangkau dan beraktivitas di luar tanpa membawa gadget ," tambah Lahargo.
Psikolog anak dan remaja, Cecilia Sinaga, menilai positif pada pembatasan telepon pintar bagi anak. Kecanduan gawai bisa memperlambat kemampuan bicara anak. Dia menjelaskan, kemampuan bicara anak dipengaruhi oleh bagaimana dia berinteraksi dan stimulus yang diberikan oleh lingkungan di sekitarnya. "Saat diajak berinteraksi anak akan kesulitan untuk berbicara dan perlu terapi yang cukup panjang agar motoriknya bisa terlatih kembali," ungkapnya.
Pada saat anak terlalu sering bermain dengan gawai, mereka tidak meningkatkan stimulasi motoriknya. Peran stimulasi motorik sangat penting agar anak mengetahui ‎perbedaan benda halus, kasar, dan sebagainya. Jika anak terlalu sering dihadapkan pada gawai, perkembangan motoriknya bisa melambat.(adi haryanto/ faorick pakpahan/aprilia s andyna)
Pada era teknologi saat ini memang banyak kesempatan anak dan remaja dalam meningkatkan pengetahuan dan mendapatkan informasi secara cepat dan tepat dengan sebuah layar kecil dalam genggaman tangan. Namun, ada hal negatif dalam penggunaan gawai. "Sebanyak 34,8% anak bermain gawai 2 jam hingga 5 jam per hari dan 25,4% anak bermain lebih dari 5 jam per hari di luar belajar," ungkap Komisioner Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah.
Orang tua hendaknya membangun komitmen yang baik dengan anak tentang pembatasan waktu penggunaan gawai serta melakukan pendampingan pada saat anak menggunakan gawai agar terhindar dari perilaku kecanduan serta bebas dari pornografi dan kejahatan siber. Masyarakat perlu membangun budaya melapor sehingga jika ada kasus anak yang mengalami kecanduan gawai, masyarakat bisa segera melaporkannya kepada KPAI. "Kami yakin di luar sana banyak orang tua yang anaknya mengalami kecanduan gawai dan mungkin tidak menyadari perubahannya, bahkan tidak menyadari bahwa ini merupakan gangguan jiwa," ungkapnya.
Jika diketahui terdapat kasus anak yang kecanduan gawai, KPAI membuka layanan pengaduan. KPAI pun meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melakukan sosialisasi tentang literasi digital secara menyeluruh bagi masyarakat dan orang tua di seluruh pelosok Indonesia sebagai salah satu tindakan pencegahan demi mencapai Indonesia yang ramah anak.
Di sisi lain, bahaya penggunaan gawai akan memengaruhi kesehatan psikis dan fisik anak, psikiater dan kepala instalasi rehabilitasi psikososial rumah sakit Siloam Lahargo Kembaren menuturkan, pengaruhnya terhadap kesehatan psikis bisa mengganggu fungsi personal seperti mengganggu belajar, pekerjaan dan aktivitas umum lain. Perihal kesehatan fisik, salah satu yang mudah diserang adalah kontraksi otot cilliaris di dalam bola mata, atau yang dikenal dengan istilah akomodasi dan akan merangsang timbulnya mata minus. "Untuk kasus psikis cirinya apabila dijauhkan dari gawai dia akan cemas, bisa sampai keringat dingin, jantung berdebar, nafas lebih cepat, dan bisa sampai serangan panik. Untuk fisik terutama pada mata biasanya mulai berair, tampak lebih merah, sering dikucek, berkedip, atau anak mengeluh pusing, bisa jadi anak mengalami kelelahan mata," paparnya.
Apabila ditemukan gejala-gejala terebut wajib melakukan digital detox. Artinya, membatasi akses ke dunia digital, termasuk media sosial, online game , dan segala bentuk akses digital lain. Harus juga konsultasi ke profesional kesehatan jiwa seperti psikiater, perawat jiwa, psikolog, konselor untuk mendapatkan pertolongan.
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam melakukan digital detox adalah mengurangi akses ke gawai selama 30 menit sehari untuk menurunkan risiko terjadinya depresi. Langkah berikutnya menghilangkan distraksi yang bisa menyebabkan keinginan untuk mengakses gawai. "Bisa dengan menghapus aplikasi di gadget , menghilangkan notifikasi, menaruh gadget di ruangan lain yang sulit dijangkau dan beraktivitas di luar tanpa membawa gadget ," tambah Lahargo.
Psikolog anak dan remaja, Cecilia Sinaga, menilai positif pada pembatasan telepon pintar bagi anak. Kecanduan gawai bisa memperlambat kemampuan bicara anak. Dia menjelaskan, kemampuan bicara anak dipengaruhi oleh bagaimana dia berinteraksi dan stimulus yang diberikan oleh lingkungan di sekitarnya. "Saat diajak berinteraksi anak akan kesulitan untuk berbicara dan perlu terapi yang cukup panjang agar motoriknya bisa terlatih kembali," ungkapnya.
Pada saat anak terlalu sering bermain dengan gawai, mereka tidak meningkatkan stimulasi motoriknya. Peran stimulasi motorik sangat penting agar anak mengetahui ‎perbedaan benda halus, kasar, dan sebagainya. Jika anak terlalu sering dihadapkan pada gawai, perkembangan motoriknya bisa melambat.(adi haryanto/ faorick pakpahan/aprilia s andyna)
(ynt)
Lihat Juga :