Menyoal Kebijakan Impor Beras Mendag
Jum'at, 19 Maret 2021 - 19:52 WIB
loading...
A
A
A
Padahal Bulog tidak minta stoknya ditambah 500.000 ton. Pada tahun 2018 Bulog juga tidak pernah minta kepada pemerintah untuk impor beras, karena cadangan masih kuat. Budi Wasesa dengan tegas mengatakan tak mengusulkan impor beras pada tahun ini (2018).
Hal ini karena Bulog masih memiliki cadangan beras di gudang dan petani akan menyambut panen raya. Lalu ia kemukakan data dari BPS bahwa pada Maret, April, Mei itu ada surplus beras. “ sehingga pada Rapat Koordinasi Terbatas), kita tidak memutuskan impor.”
Menurut Buwas, langkah impor beras ini muncul setelah pihaknya menerima perintah mendadak dari Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto.
Jelas kan? Kejadiannya idem ditto dengan 2018. Ketika itu Amran Sulaeman selaku Mentan tidak memberikan rekomendasi impor beras, Kepala Bulog sama sikapnya. Impor diputuskan sendiri oleh Menteri Perdagangan, dan disetujui oleh Menko Perekonomian. Kebijakan impor beras yang diumumkan M Lutfi juga tanpa rekomendasi Menteri Pertanian, atau usulan Kepala Bulog. Sisa impor beras 2018 sebanyak 275.811 ton saja masih disimpan di gudang Bulog, kata Budi Waseso.
Ironisnya, seminggu sebelum M Lutfi mengumumkan impor beras 1 juta ton, Presiden Jokowi ngomong dengan suara tegas bahwa, “Kita harus mencintai produk dalam negeri; tapi kita harus membenci produk asing. Jelas ya? Apakah mengonsumsi beras impor tidak bertabrakan dengan seruan tegas Presiden untuk membenci produk asing? Bukankah impor beras 1 juta ton diadakan di tengah kuatnya cadangan Bulog dan bakal banjirnya produksi padi dalam negeri ?
Jika pada 2018 kebijakan impor 2 juta ton beras ditentang keras oleh Gubernur Sulawesi Selatan, kini Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendesak supaya pemerintah memperhitungkan kembali secara matang kebijakan impor 1 juta ton beras, karena alasan, “Petani kita mulai panen, petani butuh perhatian agar hasil panennya betul-betul bisa terbeli (pemerintah) karena ongkos produksinya tidak murah," kata Ganjar.
Ia juga mempertanyakan urgensi impor beras dan meminta pemerintah memperhitungkan agar tidak mengguncang situasi pada saat memasuki musim panen ini. Sama dengan Mendag sebelumnya, Mendag sekarang, M Lutfi rupanya juga tak akan menggubris kritik banyak pihak untuk membatalkan, setidaknya menunda impor jutaan ton beras.
Hal ini karena Bulog masih memiliki cadangan beras di gudang dan petani akan menyambut panen raya. Lalu ia kemukakan data dari BPS bahwa pada Maret, April, Mei itu ada surplus beras. “ sehingga pada Rapat Koordinasi Terbatas), kita tidak memutuskan impor.”
Menurut Buwas, langkah impor beras ini muncul setelah pihaknya menerima perintah mendadak dari Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto.
Jelas kan? Kejadiannya idem ditto dengan 2018. Ketika itu Amran Sulaeman selaku Mentan tidak memberikan rekomendasi impor beras, Kepala Bulog sama sikapnya. Impor diputuskan sendiri oleh Menteri Perdagangan, dan disetujui oleh Menko Perekonomian. Kebijakan impor beras yang diumumkan M Lutfi juga tanpa rekomendasi Menteri Pertanian, atau usulan Kepala Bulog. Sisa impor beras 2018 sebanyak 275.811 ton saja masih disimpan di gudang Bulog, kata Budi Waseso.
Ironisnya, seminggu sebelum M Lutfi mengumumkan impor beras 1 juta ton, Presiden Jokowi ngomong dengan suara tegas bahwa, “Kita harus mencintai produk dalam negeri; tapi kita harus membenci produk asing. Jelas ya? Apakah mengonsumsi beras impor tidak bertabrakan dengan seruan tegas Presiden untuk membenci produk asing? Bukankah impor beras 1 juta ton diadakan di tengah kuatnya cadangan Bulog dan bakal banjirnya produksi padi dalam negeri ?
Jika pada 2018 kebijakan impor 2 juta ton beras ditentang keras oleh Gubernur Sulawesi Selatan, kini Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendesak supaya pemerintah memperhitungkan kembali secara matang kebijakan impor 1 juta ton beras, karena alasan, “Petani kita mulai panen, petani butuh perhatian agar hasil panennya betul-betul bisa terbeli (pemerintah) karena ongkos produksinya tidak murah," kata Ganjar.
Ia juga mempertanyakan urgensi impor beras dan meminta pemerintah memperhitungkan agar tidak mengguncang situasi pada saat memasuki musim panen ini. Sama dengan Mendag sebelumnya, Mendag sekarang, M Lutfi rupanya juga tak akan menggubris kritik banyak pihak untuk membatalkan, setidaknya menunda impor jutaan ton beras.
(bmm)
Lihat Juga :