Fukushima, BATAN Indah, dan Transformasi Digital
Jum'at, 12 Maret 2021 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
BATAN Indah maupun Fukushima bukan black swan, sebetulnya dapat dicegah. Idealnya, seluruh Indonesia diliput oleh detektor yang menetap, yang dapat memberikan “alert” atau “alarm” secara real-time, ketika ada zat radioaktif yang terbuka dan dibuang sehingga 2 unkowns dapat diketahui. Detektor terdekat akan memberikan info lokasi dan info waktu, saat alarm berbunyi. Namun demikian, keterbatasan dana membuat pilihan itu tidak feasible. Sistem BAPETEN dapat memberikan potret ekosistem industri nuklir Indonesia. Data perizinan dan inspeksi dapat dianalisis untuk menentukan lokasi potensial terjadinya “BATAN Indah” lainnya. Langkah-langkah proaktif dapat ditempuh untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa depan.
Karena BAPETEN sebagai Pengawas Nuklir harus well-informed, maka data adalah kekayaan. Transformasi digital, yang dapat melibatkan juga konsep “nuclear-vigilant smart cities”, akan semakin meningkatkan keselamatan, keamanan, garda aman, dan kesiapsiagaan nuklir.
Informasi, knowledge, dan wisdom diperoleh melalui pemrosesan data. Analitika Data tidak boleh dilakukan sembarangan. “If you torture the data long enough, it will confess” (dalam bahasa Jawa adalah othak athik gathuk, antardata pasti dapat dihubung-hubungkan, sekalipun tidak berkorelasi) adalah satu dari sekian banyak kelemahan Analitika Data, menurut Gary Smith and Jay Cordes, dalam bukunya The 9 Pitfalls of Data Science, mensitir Ronald Coase, Namun demikian, tanpa Analitika Data, kemampuan prediktif sistem informasi tidak dapat diperoleh. Keselamatan dan keamanan nuklir sangat bertumpu pada pengetahuan badan pengawas atas ekosistem industri nuklir. “Alert” dan “alarm” yang muncul dari data perizinan dan inspeksi akan mampu mencegah insiden nuklir.
Karena BAPETEN sebagai Pengawas Nuklir harus well-informed, maka data adalah kekayaan. Transformasi digital, yang dapat melibatkan juga konsep “nuclear-vigilant smart cities”, akan semakin meningkatkan keselamatan, keamanan, garda aman, dan kesiapsiagaan nuklir.
Informasi, knowledge, dan wisdom diperoleh melalui pemrosesan data. Analitika Data tidak boleh dilakukan sembarangan. “If you torture the data long enough, it will confess” (dalam bahasa Jawa adalah othak athik gathuk, antardata pasti dapat dihubung-hubungkan, sekalipun tidak berkorelasi) adalah satu dari sekian banyak kelemahan Analitika Data, menurut Gary Smith and Jay Cordes, dalam bukunya The 9 Pitfalls of Data Science, mensitir Ronald Coase, Namun demikian, tanpa Analitika Data, kemampuan prediktif sistem informasi tidak dapat diperoleh. Keselamatan dan keamanan nuklir sangat bertumpu pada pengetahuan badan pengawas atas ekosistem industri nuklir. “Alert” dan “alarm” yang muncul dari data perizinan dan inspeksi akan mampu mencegah insiden nuklir.
(bmm)
Lihat Juga :