Isra Miraj Jadi Momentum Perkuat Komitmen Perjuangan Bangsa
Kamis, 11 Maret 2021 - 05:31 WIB
loading...
A
A
A
Apalagi, menurut dia, jika dilihat lanjutannya pada saat peristiwa Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina dan kemudian ke Sidratul Muntaha. Ini adalah peristiwa spiritual yang dialami oleh Nabi, yang kemudian mendapatkan tugas dari Allah untuk membawa perintah salat lima waktu.
”Salat lima waktu ini sebagai sebuah sistem yang turun di malam Isra Miraj untuk menata kehidupan masyarakat di dunia untuk sebagai bekal menuju akhirat. Karena dengan sistem salat lima waktu ini kita bisa menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat,” kata Ali.
Dia mencontohkan dari subuh kita diperintahkan salat, kemudian pagi persiapan bekerja, kemudian dari pagi sampai siang kerja, terus zuhur istirahat kemudian kerja lagi masuk ashar salat lagi.
Menurut dia, di sini Allah mengatur sedemikian rupa supaya hambanya ini memiliki kesadaran bahwa dunia dan akhirat ini harus bisa diraih dengan kesuksesan. Jangan sampai orientasi hidupnya hanya sebatas mengejar dunia, karena di akhirat nanti ada kehidupan yang lebih panjang.
”Sistem salat ini ada untuk menjaga keseimbangan rotasi waktu 24 jam antara keseimbangan duniawi dan rohani bahwa itu harus simetris. Pasca Isra Miraj ini Nabi melakukan sebuah proses hijrah ke Madinah,” ujarnya.
Kiai Ali menyebut bahwa di Madinah inilah Nabi membuat sebuah aturan berbangsa dan bernegara. Masyarakat Madinah saat itu terdiri atas berbagai suku dan agama. Nabi mampu menjadi pemimpin yang bisa diterima oleh semua rakyatnya, baik yang beragama Yahudi, Nasrani maupun Majusi dan dapat diterima dengan baik oleh para kepala suku yang ada di sana.
”Rasulullah menunjukkan diri sebagai seorang pemimpin yang bisa hadir di tengah-tengah masyarakat. Konsep yang dilakukan oleh Rasulullah, yaitu konsep Piagam Madinah yang dalam konteks Indonesia ini kemudian diadopsi dengan bentuk Pancasila,” katanya.
”Salat lima waktu ini sebagai sebuah sistem yang turun di malam Isra Miraj untuk menata kehidupan masyarakat di dunia untuk sebagai bekal menuju akhirat. Karena dengan sistem salat lima waktu ini kita bisa menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat,” kata Ali.
Dia mencontohkan dari subuh kita diperintahkan salat, kemudian pagi persiapan bekerja, kemudian dari pagi sampai siang kerja, terus zuhur istirahat kemudian kerja lagi masuk ashar salat lagi.
Menurut dia, di sini Allah mengatur sedemikian rupa supaya hambanya ini memiliki kesadaran bahwa dunia dan akhirat ini harus bisa diraih dengan kesuksesan. Jangan sampai orientasi hidupnya hanya sebatas mengejar dunia, karena di akhirat nanti ada kehidupan yang lebih panjang.
”Sistem salat ini ada untuk menjaga keseimbangan rotasi waktu 24 jam antara keseimbangan duniawi dan rohani bahwa itu harus simetris. Pasca Isra Miraj ini Nabi melakukan sebuah proses hijrah ke Madinah,” ujarnya.
Kiai Ali menyebut bahwa di Madinah inilah Nabi membuat sebuah aturan berbangsa dan bernegara. Masyarakat Madinah saat itu terdiri atas berbagai suku dan agama. Nabi mampu menjadi pemimpin yang bisa diterima oleh semua rakyatnya, baik yang beragama Yahudi, Nasrani maupun Majusi dan dapat diterima dengan baik oleh para kepala suku yang ada di sana.
”Rasulullah menunjukkan diri sebagai seorang pemimpin yang bisa hadir di tengah-tengah masyarakat. Konsep yang dilakukan oleh Rasulullah, yaitu konsep Piagam Madinah yang dalam konteks Indonesia ini kemudian diadopsi dengan bentuk Pancasila,” katanya.
Lihat Juga :