Kota Sehat, Solusi Tepat Menghadapi Pandemi
Jum'at, 19 Februari 2021 - 06:37 WIB
loading...
Pandemi Covid-19 semakin menyadarkan akan pentingnya kota sehat. FOTO/WIN CAHYONO
A
A
A
JAKARTA - Virus korona yang menyebar cepat ke berbagai kota di seluruh dunia, menjadi momentum terbaik untuk menggugah kembali pentingnya kota sehat. Dengan langkah ini ke depan kota-kota di dunia bisa lebih kuat menghadapi berbagai ancaman pandemi .
Perubahan persepsi tentang perlunya kota sehat muncul karena fakta ya kota-kota modern yang didesain khusus pun tak mampu membendung pandemi virus korona. Dengan demikian, kota idealnya bukan hanya mengoneksikan antara bekerja, lalu lintas kerja, wisata, dan hiburan saja. Kini semua orang membutuhkan kota yang sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada awal Februari menggelar peluncuran jaringan kota sehat di Qatar. Anggota jaringan yang terdiri dari entitas pemerintah dan lembaga non-pemerintah dan swasta akan mewujudkan agenda kota sehat sebagai strategi kesehatan nasional.
Baca juga: Kota Sehat, Bangsa Sehat
Pertemuan Doha tersebut merupakan aksi lanjut dari Alliance for Healthy Cities berdiri untuk menjadi ajang peningkatan kerja sama dan perawatan kesehatan antar kota, dan organisasi di seluruh dunia yang digelar di Helsinki, 2003.
Hingga pada 2016 digelar Konferensi Global ke-9 yang mempromosikan kesehatan digelar di Shanghai. Konferensi itu digelar disela-sela Forum Wali Kota Internasional di mana pemimpin kota memainkan peranan utama untuk menciptakan lingkungan urban yang sehat seiring dengan meningkatnya populasi. Saat itu, lebih dari 100 wali kota bersiap mengadopsi Shanghai Consensus on Health Cities 2016.
"Pemerintah perlu mengembangkan rencana strategi dan kebijakan untuk mewujudkan pendekatan kota sehat dengan partisipasti komunitas, kemitraan, pemberdayaan dan ekuitas," kata pejabat WHO, Roberto Bertollini, dilansir The Peninsula Qatar.
Baca juga: Sukses Bangun Kota Sehat, Pemkot Tangerang Sabet 4 Penghargaan Kemenkes RI
WHO sebenarnya telah mengampanyekan program Kota Sehat sejak 1986 dengan lahirnya Ottawa Charter for Health Promotion. Sejak itu, program kota sehat pun menyebar ke seluruh dunia. Kota sehat memiliki tujuan, menurut WHO, adalah menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, menyediakan kualitas kehidupan yang baik, menyediakan sanitas dasar dan higienitas, dan mendukung akses perawatan kesehatan.
“Program kota sehat seharusnya mempromosikan pemberdayaan masyarakat dan memperkuat partisipasi masyarakat,” kata Sadriya Al Kohji, Kepala Jaringan Kota Sehat WHO.
“Kota sehat juga bisa menciptakan struktur organisasi untuk implementasi program kesehatan publik dan memperkuat sinergisitas lintas sektoral serta membangun masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak,” ujarnya.
Kota-kota di dunia selama ini mengabaikan upaya pencegahan terhadap terjadinya pandemi. Pertumbuhan kota di dunia juga masih berfokus pada Revolusi Industri yang menyebabkan jalanan dipenuhi polusi, seperti London dan New York. Pertumbuhan kota maju juga tidak mampu membendung berbagai wabah di mana sistem sanitasi menjadi hal utama.
“Banyak orang tinggal di kota yang menjadi jebakan kematian karena mengurangi ekspektasi kehidupan,” kata penulis buku The Fever and Pandemic, Sonia Shah. Menurut dia, justru banyak kota yang mengundang kematian dan wabah.
Dalam beberapa tahun terakhir, juga banyak kota fokus pada kesehatan dalam perencanaan dan pertumbuhannya.
Perubahan persepsi tentang perlunya kota sehat muncul karena fakta ya kota-kota modern yang didesain khusus pun tak mampu membendung pandemi virus korona. Dengan demikian, kota idealnya bukan hanya mengoneksikan antara bekerja, lalu lintas kerja, wisata, dan hiburan saja. Kini semua orang membutuhkan kota yang sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada awal Februari menggelar peluncuran jaringan kota sehat di Qatar. Anggota jaringan yang terdiri dari entitas pemerintah dan lembaga non-pemerintah dan swasta akan mewujudkan agenda kota sehat sebagai strategi kesehatan nasional.
Baca juga: Kota Sehat, Bangsa Sehat
Pertemuan Doha tersebut merupakan aksi lanjut dari Alliance for Healthy Cities berdiri untuk menjadi ajang peningkatan kerja sama dan perawatan kesehatan antar kota, dan organisasi di seluruh dunia yang digelar di Helsinki, 2003.
Hingga pada 2016 digelar Konferensi Global ke-9 yang mempromosikan kesehatan digelar di Shanghai. Konferensi itu digelar disela-sela Forum Wali Kota Internasional di mana pemimpin kota memainkan peranan utama untuk menciptakan lingkungan urban yang sehat seiring dengan meningkatnya populasi. Saat itu, lebih dari 100 wali kota bersiap mengadopsi Shanghai Consensus on Health Cities 2016.
"Pemerintah perlu mengembangkan rencana strategi dan kebijakan untuk mewujudkan pendekatan kota sehat dengan partisipasti komunitas, kemitraan, pemberdayaan dan ekuitas," kata pejabat WHO, Roberto Bertollini, dilansir The Peninsula Qatar.
Baca juga: Sukses Bangun Kota Sehat, Pemkot Tangerang Sabet 4 Penghargaan Kemenkes RI
WHO sebenarnya telah mengampanyekan program Kota Sehat sejak 1986 dengan lahirnya Ottawa Charter for Health Promotion. Sejak itu, program kota sehat pun menyebar ke seluruh dunia. Kota sehat memiliki tujuan, menurut WHO, adalah menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, menyediakan kualitas kehidupan yang baik, menyediakan sanitas dasar dan higienitas, dan mendukung akses perawatan kesehatan.
“Program kota sehat seharusnya mempromosikan pemberdayaan masyarakat dan memperkuat partisipasi masyarakat,” kata Sadriya Al Kohji, Kepala Jaringan Kota Sehat WHO.
“Kota sehat juga bisa menciptakan struktur organisasi untuk implementasi program kesehatan publik dan memperkuat sinergisitas lintas sektoral serta membangun masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak,” ujarnya.
Kota-kota di dunia selama ini mengabaikan upaya pencegahan terhadap terjadinya pandemi. Pertumbuhan kota di dunia juga masih berfokus pada Revolusi Industri yang menyebabkan jalanan dipenuhi polusi, seperti London dan New York. Pertumbuhan kota maju juga tidak mampu membendung berbagai wabah di mana sistem sanitasi menjadi hal utama.
“Banyak orang tinggal di kota yang menjadi jebakan kematian karena mengurangi ekspektasi kehidupan,” kata penulis buku The Fever and Pandemic, Sonia Shah. Menurut dia, justru banyak kota yang mengundang kematian dan wabah.
Dalam beberapa tahun terakhir, juga banyak kota fokus pada kesehatan dalam perencanaan dan pertumbuhannya.
Lihat Juga :