Kota Sehat, Solusi Tepat Menghadapi Pandemi
Jum'at, 19 Februari 2021 - 06:37 WIB
loading...
A
A
A
“Untuk daya tahan dan keberlanjutan, kota memerlukan desain dan evaluasi berbasis lensa kesehatan,” kata Layla McCay, direktur Centre for Urban Design and Mental Health.
Baca juga: Kawasan Pejalan Kaki di Kota Tua Harus Diperluas
Banyak kota yang sudah memberikan contoh. Sejak 2016, Singapura membangun banyak taman untuk terapi dan meningkatkan kesehatan mental dan emosi. Di Tokyo, penduduk juga bekerja sama dengan desainer untuk mendesain lingkungan yang lebih hijau.
Di masa pandemi, kota yang padat dan sibuk menjadi permasalahan besar. Tanpa langkah kesehatan publik untuk melawan penyebaran infeksi, maka kota itu akan menghadapi masalah.
“Kota yang menjadi pusat dan penghubung komersial dan mobiltas umumnya berpenduduk padat dan terkoneksi sehingga memunculkan risiko pandemi,” kata Rebecca Katz, direktur Centre for Global Health Science and Security dan Robert Muggah, direktur Igarapé Institute.
Dengan estimasi 68% populasi dunia akan tinggal di kota pada 2050, maka dibutuhkan desain kota yang baik untuk menghadapi pandemi yang bukan hanya korona saja.
Kota-kota kaya seperti Kopenhagen yang memiliki ruang terbuka hijau dan jalur sepeda menjadi pengecualian. Tapi berbeda dengan kota yang kurang beruntung seperti Nairobi, di Kenya dan Dhaka, Bangladesh.
“Tanpa sanitasi yang baik atau akses air bersih untuk mencuci tangan menjadikan pandemi bisa menyebar,” kata Elvis Garcia, pakar kesehatan publik di Harvard Graduate School of Design. “Dalam 10 tahun, 10% populasi dunia akan tinggal di kota dengan akses air, kesehatan dan sanitasi yang terbatas,” katanya.
Kepadatan penduduk menjadi faktor penting yang mempengaruhi penyebaran penyakit infeksi seperti virus korona. Itu dikarenakan munculnya kerumunan yang meningkatkan frekuensi penyebaran penyakit. Misalnya, Wuhan, kota yang menjadi awal munculnya virus korona, dikenal sebagai kota padat dengan 11 juta jiwa.
Sepertinya New York merupakan pusat wabah korona di Amerika Serikat karena merupakan kota paling padat di Negeri Paman Sam. Di masa depan atau pascapandemi, kota harus memiliki pedestrian yang lebar dan memiliki ruang terbuka hijau.
Dalam pandangan Johan Woltjer dari Universitas Westminster, pandemi akan mnjadi bagian kehidupan manusia, untuk itu kota harus bisa beradaptasi.
“Selama krisis, kita seperti pada momen untuk bisa memiliki kota yang memiliki pusat kesehatan yang fleksibel dan luas,” ujarnya.
Baca juga: Di Tengah Pandemi, Pemerintah Didorong Kembali Terapkan Tax Amnesty
Dia mengungkapkan, Rumah Sakit Nightingale di London mampu menambung 4.000 pasien. Di Wuhan, rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur bisa dibangun dalam sembilan hari. “Kota harus mampu berubah dengan cepat, baik suplai produk esensial, berlanja dan rute evakuasi,” kata Woltjer.
Baca juga: Kawasan Pejalan Kaki di Kota Tua Harus Diperluas
Banyak kota yang sudah memberikan contoh. Sejak 2016, Singapura membangun banyak taman untuk terapi dan meningkatkan kesehatan mental dan emosi. Di Tokyo, penduduk juga bekerja sama dengan desainer untuk mendesain lingkungan yang lebih hijau.
Di masa pandemi, kota yang padat dan sibuk menjadi permasalahan besar. Tanpa langkah kesehatan publik untuk melawan penyebaran infeksi, maka kota itu akan menghadapi masalah.
“Kota yang menjadi pusat dan penghubung komersial dan mobiltas umumnya berpenduduk padat dan terkoneksi sehingga memunculkan risiko pandemi,” kata Rebecca Katz, direktur Centre for Global Health Science and Security dan Robert Muggah, direktur Igarapé Institute.
Dengan estimasi 68% populasi dunia akan tinggal di kota pada 2050, maka dibutuhkan desain kota yang baik untuk menghadapi pandemi yang bukan hanya korona saja.
Kota-kota kaya seperti Kopenhagen yang memiliki ruang terbuka hijau dan jalur sepeda menjadi pengecualian. Tapi berbeda dengan kota yang kurang beruntung seperti Nairobi, di Kenya dan Dhaka, Bangladesh.
“Tanpa sanitasi yang baik atau akses air bersih untuk mencuci tangan menjadikan pandemi bisa menyebar,” kata Elvis Garcia, pakar kesehatan publik di Harvard Graduate School of Design. “Dalam 10 tahun, 10% populasi dunia akan tinggal di kota dengan akses air, kesehatan dan sanitasi yang terbatas,” katanya.
Kepadatan penduduk menjadi faktor penting yang mempengaruhi penyebaran penyakit infeksi seperti virus korona. Itu dikarenakan munculnya kerumunan yang meningkatkan frekuensi penyebaran penyakit. Misalnya, Wuhan, kota yang menjadi awal munculnya virus korona, dikenal sebagai kota padat dengan 11 juta jiwa.
Sepertinya New York merupakan pusat wabah korona di Amerika Serikat karena merupakan kota paling padat di Negeri Paman Sam. Di masa depan atau pascapandemi, kota harus memiliki pedestrian yang lebar dan memiliki ruang terbuka hijau.
Dalam pandangan Johan Woltjer dari Universitas Westminster, pandemi akan mnjadi bagian kehidupan manusia, untuk itu kota harus bisa beradaptasi.
“Selama krisis, kita seperti pada momen untuk bisa memiliki kota yang memiliki pusat kesehatan yang fleksibel dan luas,” ujarnya.
Baca juga: Di Tengah Pandemi, Pemerintah Didorong Kembali Terapkan Tax Amnesty
Dia mengungkapkan, Rumah Sakit Nightingale di London mampu menambung 4.000 pasien. Di Wuhan, rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur bisa dibangun dalam sembilan hari. “Kota harus mampu berubah dengan cepat, baik suplai produk esensial, berlanja dan rute evakuasi,” kata Woltjer.
Lihat Juga :