Saatnya Menertibkan Para Buzzer

Kamis, 11 Februari 2021 - 04:30 WIB
loading...
Saatnya Menertibkan...
Selain mengadu domba, para buzzer atau pendengung juga membahayakan kemerdekaan masyarakat dalam berpendapat. (IIustrasi: SINDONews/Wawan Bastian)
A A A
ISTILAH buzzer atau pendengung semakin populer di jagat maya. Sayangnya, kebanyakan buzzer yang ”beroperasi” secara berkelompok itu cenderung menyajikan konten yang menimbulkan perpecahan dan kegaduhan dalam kehidupan sosial. Tak jarang konten-konten adu domba disajikan secara vulgar tanpa filter, tanpa tedeng aling-aling.

Masyarakat pun, yang secara politik sudah terbelah menjadi dua kubu, menjadi semakin terbelah. Konten-konten yang banyak menyudutkan pihak-pihak tertentu, penggunaan diksi yang bernuansa SARA, dan penggunaan narasi radikal, intoleran, antikeberagaman, dan narasi-narasi lain disajikan semakin brutal.

Memang belum bisa dibuktikan siapa pengguna dari jasa para buzzer tersebut. Namun, setidaknya masyarakat sudah bisa melihat siapa-siapa saja yang kerap menyajikan narasi yang memecah belah antaranak bangsa itu.

Para buzzer ini seolah menjadi penguasa baru alam pikiran masyarakat. Seolah tak bisa tersentuh oleh hukum alias kebal hukum, para gerombolan buzzer ini bebas saja terus memproduksi berbagai konten provokatif di sosial media. Media, sebagai salah satu pilar penjaga demokrasi dan berfungsi sebagai kontrol sosial, seolah tak berdaya menghadapi para pendengung ini.

Selain membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa, semakin tak terkendalinya tingkah laku para pendengung ini juga membahayakan kemerdekaan masyarakat dalam berpendapat, termasuk juga kebebasan pers. Sebab, tak jarang para buzzer itu melakukan serangan-serangan psikologis terhadap orang-orang yang dianggap menjadi penghalang keberhasilan narasi yang sedang dibangun.

Bahkan, pers pun tak luput dari serangan para pendengung ini. Dengan menggunakan akun-akun anonim alias bersembunyi dibalik anonimitas, para pendengung sangat bernyali untuk menyerang jurnalis yang membuat berita. Kejadian tersebut pernah dialami oleh beberapa jurnalis nasional. Serangan secara masif tersebut bisa dimaknai sebagai upaya untuk menurunkan kredibilitas media, dan kredibilitas pribadi para jurnalis. Upaya killing the messenger terus dilakukan terhadap ulasan-ulasan objektif yang disajikan media massa nasional.

Perilaku para pendengung yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun itu tentunya semakin merusak ruang publik. Keberadaan para buzzer ini juga sangat membahayakan bagi demokrasi. Para buzzer ini mengarahkan percakapan dan opini publik. Sehingga masyarakat tidak lagi mengetahui mana yang benar, karena informasi yang disebar sudah dimodifikasi. Masyarakat juga dijauhkan dari informasi-informasi objektif yang diangkat oleh media masa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Dukung Blokir Konten...
Dukung Blokir Konten LGBT di Medsos, DPR: Jika Dibiarkan Menormalisasi Perilaku Menyimpang
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Serangan ke Prabowo...
Serangan ke Prabowo di Medsos Tak Organik, Pengamat Curigai Pola yang Tidak Biasa
Pemerintah Perlu Menetralisir...
Pemerintah Perlu Menetralisir Narasi Negatif di Media Sosial
Jangan Jadi Korban!...
Jangan Jadi Korban! Ini Strategi Melawan Hoaks Lowongan Kerja yang Wajib Diketahui
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Rizky Billar Laporkan...
Rizky Billar Laporkan Akun Penyebar Fitnah Selingkuh dengan Anak Ramzi
Rekomendasi
Transisi Net Zero Ubah...
Transisi Net Zero Ubah Peran CFO Menjadi Penggerak Transformasi Bisnis
Markas Judi Online Hayam...
Markas Judi Online Hayam Wuruk Mirip di Kamboja dan Myanmar
Galon Guna Ulang Berizin...
Galon Guna Ulang Berizin Edar BPOM dan Ber-SNI Dipastikan Aman Dipakai
Berita Terkini
Jokowi Pakai Baju Berlogo...
Jokowi Pakai Baju Berlogo PSI: Artinya Tahu Sendiri
Bangun Integrasi Hukum...
Bangun Integrasi Hukum dan Seni Lewat Pustaka Nada
Kemhan Beberkan Materi...
Kemhan Beberkan Materi Latihan Fisik Calon Manajer Kopdes: Baris-berbaris hingga Hormat Militer
Boni Hargens: Peningkatan...
Boni Hargens: Peningkatan Kepercayaan Publik kepada Polri Perkuat Stabilitas Demokrasi
DPR Desak Latsarmil...
DPR Desak Latsarmil Peserta SPPI Disetop: Nyawa Jangan Dianggap Enteng!
Saatnya Muktamar NU...
Saatnya Muktamar NU Hadirkan Kepemimpinan yang Tak Lagi Wariskan Pertengkaran Berkepanjangan
Infografis
Perkembangan Tentara...
Perkembangan Tentara Robotik China Bikin Para Ahli Khawatir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved