Wartawan Zaman Telex sampai 'Teler'

Jum'at, 05 Februari 2021 - 05:05 WIB
loading...
A A A
Mesin Ketik
Selain pernah sebagai wartawan liputan bidang olahraga, kriminal, musik, dan politik, saya juga selama lima tahun menjadi fotografer jurnalistik. Tentu masih menggunakan film roll, belum ada digital. Foto di media masih hitam putih. Sebagai wartawan foto harus bisa mencetak sendiri hasil jepretan warna hitam putih. Menjadi wartawan foto lumayan ribet. Jika bepergian harus membawa cangkir proses film, obat film dan enlarger (lihat Google) alat pencetak foto lumayan besar. Kamar mandi hotel selalu disulap menjadi kamar gelap tempat proses cetak film. Penting, koordinasi dengan teman sekamar jangan membuka pintu kamar mandi walau penting. Jika pintu dibuka, tiba-tiba sinar masuk, maka film terbakar dan tiada hasil foto lagi. Hangus, nangis!

Masih ada lagi alat pengirim foto ke redaksi dikenal dengan mesin telephoto. Ukurannya sebesar doz air mineral gelas lumayan berat. Pengiriman foto ke redaksi menggunakan jaringan telepon dan lama. Kadang petugas hotel sampai bertanya meyakinkan, apakah benar memakai jaringan telepon hotel untuk SLJJ begitu lama? Hanya media besar menggunakan alat ini. Serbamahal dari harga dan pengoperasiannya.

Sebagian orang mulai menggunakan laptop pada 90-an tetapi baru segelintir karena mahal. Sebelumnya adalah pemandangan umum wartawan menenteng mesin ketik portable dengan merek Brother, Olympia, Oliveti, dan lain-lainnya. Itu sudah gagah karena harganya lumayan mahal. Berat karena terbuat dari besi tetapi masuk ranah praktis. Seru, ketika usai acara, misal pertandingan olahraga bulu tangkis, puluhan wartawan masuk press room, konsentrasi, tidak ada yang bicara, hanya suara mesin ketik puluhan wartawan bersatu memenuhi ruangan. Dikejar deadline cetak.

Era surat elektronik atau e-mail dikenal banyak orang pada 2000-an meskipun sebelumnya sudah banyak yang pakai. Sekarang “semua” orang pakai e-mail untuk komunikasi. E-mail mampu menggantikan tugas “Pak Pos”, telephoto, telex, faksimile dan sebagainya. Sekarang zaman mudah dan murah. Namun, kemudahan dan banjir informasi yang terjadi saat ini juga dapat menimbulkan masalah jika tidak hati-hati. Tidak sedikit wartawan tergelincir dalam kemudahan ini karena “lupa” aturan berjurnalistik, bahkan ada yang tidak paham. Wartawan, memang, dituntut cepat dan tepat tetapi kode etik jurnalistik harus diutamakan. Tujuannya agar pers dan masyarakat “sehat”.

Membandingkan kemajuan alat komunikasi saat ini membuat “orang lama” geleng-geleng kepala. Kini, semua dapat dikerjakan dengan satu alat dalam genggaman tangan. Tapi saya masih sesekali menulis pakai mesin ketik. Sekadar nostalgia.

Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari!
(bmm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
2 Jurnalis Indonesia...
2 Jurnalis Indonesia Ditangkap Israel
PERADI dan Iwakum Teken...
PERADI dan Iwakum Teken MoU, Perkuat Kolaborasi Penegakan Hukum dan Pers
SPS Tekankan Keterbukaan...
SPS Tekankan Keterbukaan Perdagangan Harus Sejalan dengan Perlindungan Pers Nasional
Raih Golden Leader 2026,...
Raih Golden Leader 2026, Wamenhaj Sentil Fenomena Konten Tanpa Isi
Indeks Keselamatan Jurnalis...
Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 Menurun, 67% Jurnalis Pernah Mengalami Kekerasan
Hari Pers Nasional 2026,...
Hari Pers Nasional 2026, Iwakum Raih Penghargaan dari PWI
Beasiswa Media ITB 2026...
Beasiswa Media ITB 2026 Resmi Dibuka, Kuliah S2 MAB Gratis untuk Wartawan
Meriahkan HPN 2026,...
Meriahkan HPN 2026, Seksi Wartawan Olahraga Gelar Fishing Gathering dan Santunan
Peringati HPN 2026,...
Peringati HPN 2026, JIP Sebar Ratusan Bibit Pohon di Depok
Rekomendasi
Bangun Kedaulatan Digital,...
Bangun Kedaulatan Digital, Telkom Pertemukan Regulator dan Pemain Industri
Penggunaan AI Melesat...
Penggunaan AI Melesat Sebabkan Harga Mobil Naik Signifikan
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
Berita Terkini
Islah Bahrawi Mengaku...
Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Penunjukan Kepala BGN...
Penunjukan Kepala BGN Baru Dinilai Tepat untuk Membenahi MBG
KPK Lelang 106 Lot Barang...
KPK Lelang 106 Lot Barang Rampasan Korupsi dari 26 Perkara, Ada Handphone hingga Bidang Tanah
Geledah Rumah Silmy...
Geledah Rumah Silmy Karim, KPK Yakin Ada Bukti Tambahan
Gugatan Paulus Tannos...
Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia
Infografis
Asal Usul Gaza Palestina,...
Asal Usul Gaza Palestina, Kota Penting Sejak Zaman Romawi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved