Fortifikasi dan Biofortifikasi Atasi Problem Gizi
Rabu, 03 Februari 2021 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Pemanfaatan beras fortifikasi di berbagai negara menunjukkan adanya perbaikan status gizi. Di Meksiko, ibu-ibu usia 18-49 tahun yang mengonsumsi beras fortifikasi selama enam bulan jumlah prevalensi anemia gizi besi turun dari 33% menjadi 23%. Demikian pula, riset di Brasil pada anak baduta membuktikan konsumsi beras fortifikasi selama lima bulan menurunkan anemia dari 69% ke 25%.
Bulog telah mengembangkan beras fortifikasi FORTIVIT sejak 2019. Ini merupakan langkah strategis di bidang fortifikasi setelah penerapannya pada garam, terigu, dan minyak sawit. Perlu dipikirkan agar beras fortifikasi ini bisa dikonsumsi oleh rakyat miskin melalui Program BPNT (Bantuan Pangan Nontunai). Untuk masyarakat yang ekonominya mampu, kekurangan gizi mikro mungkin tidak separah masyarakat miskin. Masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi telah mengonsumsi aneka ragam pangan termasuk pangan hewani yang merupakan sumber besi sehingga konsumsi harian (daily intake) mereka telah dapat memenuhi standar gizi.
Mengapa gizi mikro penting untuk fortifikasi? Masalah gizi mikro yang hingga kini masih dialami bangsa Indonesia adalah kurang zat besi dan seng. Stunting (pendek) dapat disebabkan oleh resultante kurang gizi makro (energi dan protein) dan kurang gizi mikro (seng dan zat besi). Seng harus ada dalam asupan konsumsi pangan sehari-hari dan seng bersifat esensial karena tubuh tidak dapat membuatnya.
Banyak enzim di dalam tubuh manusia yang mengandung seng sehingga kehadiran seng dalam tubuh bersifat vital. Mengingat peran seng yang penting untuk pertumbuhan dan pembelahan sel serta berpengaruh terhadap nafsu makan, maka defisiensi seng sangat mungkin mengganggu pertumbuhan anak sehingga terjadilah stunting.
Sementara zat besi juga berperan penting untuk mendukung pertumbuhan. Besi adalah bagian dari unsur enzim dan hemoglobin darah. Di Indonesia, kekurangan zat besi banyak diderita oleh remaja, ibu hamil, maupun wanita usia subur. Padahal, kaum perempuan sebagai calon ibu bangsa seharusnya tercukupi asupan gizi besinya agar tidak lahir bayi-bayi stunting.
Bulog telah mengembangkan beras fortifikasi FORTIVIT sejak 2019. Ini merupakan langkah strategis di bidang fortifikasi setelah penerapannya pada garam, terigu, dan minyak sawit. Perlu dipikirkan agar beras fortifikasi ini bisa dikonsumsi oleh rakyat miskin melalui Program BPNT (Bantuan Pangan Nontunai). Untuk masyarakat yang ekonominya mampu, kekurangan gizi mikro mungkin tidak separah masyarakat miskin. Masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi telah mengonsumsi aneka ragam pangan termasuk pangan hewani yang merupakan sumber besi sehingga konsumsi harian (daily intake) mereka telah dapat memenuhi standar gizi.
Mengapa gizi mikro penting untuk fortifikasi? Masalah gizi mikro yang hingga kini masih dialami bangsa Indonesia adalah kurang zat besi dan seng. Stunting (pendek) dapat disebabkan oleh resultante kurang gizi makro (energi dan protein) dan kurang gizi mikro (seng dan zat besi). Seng harus ada dalam asupan konsumsi pangan sehari-hari dan seng bersifat esensial karena tubuh tidak dapat membuatnya.
Banyak enzim di dalam tubuh manusia yang mengandung seng sehingga kehadiran seng dalam tubuh bersifat vital. Mengingat peran seng yang penting untuk pertumbuhan dan pembelahan sel serta berpengaruh terhadap nafsu makan, maka defisiensi seng sangat mungkin mengganggu pertumbuhan anak sehingga terjadilah stunting.
Sementara zat besi juga berperan penting untuk mendukung pertumbuhan. Besi adalah bagian dari unsur enzim dan hemoglobin darah. Di Indonesia, kekurangan zat besi banyak diderita oleh remaja, ibu hamil, maupun wanita usia subur. Padahal, kaum perempuan sebagai calon ibu bangsa seharusnya tercukupi asupan gizi besinya agar tidak lahir bayi-bayi stunting.
Lihat Juga :