Seperti Koruptor, Psikolog Forensik Usul Pembatasan Ruang Gerak Buzzer
Selasa, 02 Februari 2021 - 09:00 WIB
loading...
Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan adanya bayaran menyebabkan ekspresi kebencian dan rasisme bukan lagi dinamika psikologis alamiah karena lebih didorong motif instrumental ketimbang emosional. Foto: SNDOnews/Yulianto
A
A
A
JAKARTA - Aksi para pendengung ( buzzer ) di media sosial (medsos) tengah menjadi sorotan. Kasus yang tengah membetot perhatian saat ini adalah cuitan Permadi Arya alias Abu Janda yang menyebut Islam arogan dan dugaan rasisme terhadap mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM ) Natalius Pigai.
Kedua cuitan itu sekarang sedang ditangani Bareskrim Polri. Cuitan yang dianggap berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dikhawatirkan dapat menimbulkan permusuhan diantara masyarakat.
Baca juga : Kontribusi Abu Janda dan Lawan Sesama Buzzer: Langgengnya Permusuhan
Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan kebencian adalah urusan perasaan. Sementara rasisme berangkat dari bias implisit. Lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menerangkan perasaan dan bias itu ada pada dimensi pribadi (si pembenci dan di rasis) dan muncul secara alamiah.
(Baca: Menguak Persaingan Bisnis Tidak Sehat dengan Memakai Buzzer)
Kedua cuitan itu sekarang sedang ditangani Bareskrim Polri. Cuitan yang dianggap berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dikhawatirkan dapat menimbulkan permusuhan diantara masyarakat.
Baca juga : Kontribusi Abu Janda dan Lawan Sesama Buzzer: Langgengnya Permusuhan
Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan kebencian adalah urusan perasaan. Sementara rasisme berangkat dari bias implisit. Lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menerangkan perasaan dan bias itu ada pada dimensi pribadi (si pembenci dan di rasis) dan muncul secara alamiah.
(Baca: Menguak Persaingan Bisnis Tidak Sehat dengan Memakai Buzzer)
Lihat Juga :