TII Temukan Relasi Korupsi Pebisnis dan Politik Masih Marak
Kamis, 28 Januari 2021 - 14:55 WIB
loading...
TII menemukan relasi korupsi pebisnis dengan pemberi pelayanan publik hingga maraknya korupsi politik menjadi faktor anjloknya skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2020. FOTO/DOK.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Transparency International Indonesia (TII) menemukan relasi korupsi pebisnis dengan pemberi pelayanan publik hingga maraknya korupsi politik menjadi faktor anjloknya skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2020 menjadi 37.
Sekretaris Jenderal TII, J Danang Widoyoko menyatakan, turunnya Corruption Perception Index (CPI) atau Indeks Persepsi Korusi (IPK) Indonesia pada 2020 membuktikan bahwa sejumlah kebijakan yang dijalankan Indonesia hanya bertumpu pada kacamata ekonomi dan investasi. Kebijakan tersebut, ujar Danang, tanpa mengindahkan faktor integritas dan hanya akan memicu terjadinya korupsi, termasuk dalam hal penanganan pandemi COVID-19 saat ini.
"Penurunan terbesar yang dikontribusikan oleh Global Insight dan PRS dipicu oleh relasi korupsi yang masih lazim dilakukan oleh pebisnis kepada pemberi layanan publik untuk mempermudah proses berusaha," kata Danang saat peluncuran CPI 2020 di Jakarta, Kamis (28/1/2021).
Baca juga: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2020 Turun Jadi 37 Setara Negara Gambia
Dia memaparkan, indikator terkait politik dan demokrasi (pemilu) mengalami penurunan skor (VDem). Hal ini berarti sektor politik masih rentan terhadap kejadian korupsi. Dari sisi demokrasi juga, ujar Danang, terjadi penurunan dua poin yang dikontribusikan pada Varieties of Democracy.
Sekretaris Jenderal TII, J Danang Widoyoko menyatakan, turunnya Corruption Perception Index (CPI) atau Indeks Persepsi Korusi (IPK) Indonesia pada 2020 membuktikan bahwa sejumlah kebijakan yang dijalankan Indonesia hanya bertumpu pada kacamata ekonomi dan investasi. Kebijakan tersebut, ujar Danang, tanpa mengindahkan faktor integritas dan hanya akan memicu terjadinya korupsi, termasuk dalam hal penanganan pandemi COVID-19 saat ini.
"Penurunan terbesar yang dikontribusikan oleh Global Insight dan PRS dipicu oleh relasi korupsi yang masih lazim dilakukan oleh pebisnis kepada pemberi layanan publik untuk mempermudah proses berusaha," kata Danang saat peluncuran CPI 2020 di Jakarta, Kamis (28/1/2021).
Baca juga: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2020 Turun Jadi 37 Setara Negara Gambia
Dia memaparkan, indikator terkait politik dan demokrasi (pemilu) mengalami penurunan skor (VDem). Hal ini berarti sektor politik masih rentan terhadap kejadian korupsi. Dari sisi demokrasi juga, ujar Danang, terjadi penurunan dua poin yang dikontribusikan pada Varieties of Democracy.
Lihat Juga :