Harga BBM dan Wabah Virus Korona

Jum'at, 15 Mei 2020 - 04:30 WIB
loading...
A A A
Namun, pertanyaannya, apakah kita tega menjual BBM dengan harga semurah kacang goreng atau lebih murah dari satu botol air mineral? Inilah yang harus kita pertimbangkan secara serius. Ada beberapa catatan terkait hal ini. Pertama, harga minyak mentah cenderung fluktuatif. Jika perubahan harga BBM selalu mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia, dampaknya bisa memicu instabilitas harga di sektor riil. Selain itu, lazimnya perubahan harga BBM selalu menjadi komoditas politik. Turunnya gampang, tetapi untuk menaikkan gaduh politiknya bukan main. Kedua, turunnya harga BBM untuk saat ini juga kurang strategis. Sebab, relevan dengan protokol kesehatan, masyarakat diminta “ndekem” di rumah. Pulang kampung dan mudik Lebaran pun dilarang. Nyaris tak bermanfaat! Dalam kondisi wabah seperti ini yang penting dibutuhkan masyarakat adalah harga bahan pangan terjangkau, bukan turunnya harga BBM. Bahkan, untuk keperluan belajar di rumah, bantuan pulsa/internet justru lebih mendesak. Masyarakat berteriak konsumsi pulsanya melambung.

Ketiga, menjual BBM dengan harga murah adalah tidak sejalan dengan kebijakan energi berkelanjutan, bahkan kontra produktif dengan sektor lingkungan hidup dan kesehatan. Alasannya, pada konteks energi berkelanjutan, BBM adalah energi fosil yang tidak pantas dijual murah, apalagi jika BBM-nya masih diimpor. Konsekuensi sebagai energi fosil yang mempunyai dampak eksternalitas negatif bagi lingkungan bahkan kesehatan, seharusnya diberikan pembebanan (disinsentif)—dijual dengan harga mahal, bukan dijual dengan harga murah (insentif).

Selain itu, dari sisi lingkungan hidup dan kualitas polusi udara khususnya di Kota Jakarta adalah bagaimana pemerintah dan PT Pertamina mewujudkan BBM berkualitas, yakni BBM yang ramah lingkungan bahkan ramah kesehatan.

BBM di Indonesia harus sejalan dengan standar Euro, minimal Euro 2. Bahkan, sesuai regulasi Kementerian KLHK, produk BBM yang dijual di Indonesia harus memenuhi standar Euro 4. Karena itu, BBM seperti premium seharusnya sudah dikandangkan atau maksimal untuk konsumsi luar Pulau Jawa. Bahkan, kualitas BBM berkelindan dengan aspek kesehatan. Terbukti seiring dengan wabah virus korona di Eropa, kualitas udara di Eropa justru makin baik karena menurunnya aktivitas dan penggunaan BBM. Kematian yang ditimbulkan oleh dampak polutan BBM pun turun, padahal kualitas BBM di Eropa standar Euro 6. Studi terbaru dari Pusat Penelitian tentang Energi dan Udara Bersih menemukan bahwa angka kematian polusi udara selama lockdown berkurang. Penelitian itu menyatakan sekitar 11 ribu kematian dini terhindar karena udara yang membaik, sebab kadar PM 2,5 turun 10 persen.

Keempat, murahnya harga BBM kontra produktif dengan upaya mengoptimalkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT). BBM murah akan mematikan upaya mengeksplorasi EBT yang sudah mulai menjadi fokus. Ingat, selama puluhan tahun setidaknya sejak 1960-an kita terkena kutukan energi fosil, fenomena oil boom. Padahal Indonesia adalah negeri gemah ripah loh jinawi soal EBT. Mulai dari panas bumi (geotermal) yang sangat melimpah, nomor satu di dunia dengan 40 persen cadangan panas bumi dunia.

Jika harga minyak dijual murah, maka praktis EBT tidak akan pernah berkembang, bahkan mati.
Kelima, harga BBM yang sangat murah juga tidak sejalan dengan manajemen transportasi publik. Sebab, mendorong migrasi besar-besaran ke kendaraan bermotor pribadi. Harga BBM murah menjadi ancaman serius bagi transportasi publik masal yang kini makin aksis, seperti Commuter Line, Transjakarta, MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan segera menyusul LRT Jabodebek.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Melembagakan ‘Otot’...
Melembagakan ‘Otot’ Diplomasi Prabowo
Dukung Pemerintah Hemat...
Dukung Pemerintah Hemat Energi, Rodalink Ajak Masyarakat Bandung Bersepeda
Gaza Dibanjiri Coklat...
Gaza Dibanjiri Coklat dan Minuman Ringan saat Bahan Bakar dan Obat-obatan Ditahan Israel
Perang Iran-AS Bikin...
Perang Iran-AS Bikin Warga Asia Ramai-Ramai Borong Mobil Listrik!
Rekomendasi
Ini Menu Sarapan Terbaik...
Ini Menu Sarapan Terbaik sebelum Olahraga, Pisang dan Ubi Cilembu Juaranya
Ingin Menikah? Bulan...
Ingin Menikah? Bulan Zulhijjah dan Muharram Jadi Waktu yang Penuh Keberkahan
Bos NATO: Ukraina Menang...
Bos NATO: Ukraina Menang Perang, Rusia Semakin Putus Asa!
Berita Terkini
KPK Segel Rumah Wamen...
KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim
Dadan Hindayana Cs Tersangka...
Dadan Hindayana Cs Tersangka Korupsi, Politikus PDIP Sebut Bolak-balik Singgung Kelemahan Tata Kelola MBG
Wamen Imipas Silmy Karim...
Wamen Imipas Silmy Karim Tersangka Kasus Pemerasan Ratusan Miliar
Silmy Karim dan 7 Orang...
Silmy Karim dan 7 Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pengurusan Dokumen Keimigrasian
Silmy Karim Ditahan...
Silmy Karim Ditahan KPK, Jabatan Wamen Imipas Segera Dicopot?
Silmy Karim dan Dadan...
Silmy Karim dan Dadan Hindayana Terjerat Korupsi, Istana Hormati Proses Hukum
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved