Natal Air Mata

Kamis, 24 Desember 2020 - 05:10 WIB
loading...
A A A
Mengapa kita perlu memaknai Natal dengan utuh sebagai kegembiraan sekaligus kesedihan, tawa dan air mata, suka tapi juga duka, sangat penting hari-hari ini? Tentu bukan karena kita terpaksa mencicipi realita pahit sepanjang tahun karena pandemi, krisis ekonomi, pun korban kekerasan apa pun. Seperti ungkapan Jacques Derrida meminjam Descartes, saya meratap maka saya ada (I mourn, there for I am). Penderitaan dirangkul sebagai keniscayaan tanpa solusi, selain dipeluk hingga terluka, bahkan jika harus tertikam olehnya saat Natal menjelang.

Jika Natal hanya dimaknai seperti ini kita kehilangan maksud anugerah Allah. Natal justru pertama-tama hadir di dunia yang memang sudah jatuh dalam dosa, yang ditandai dengan serial kesedihan dan air mata. Dunia yang tidak kebal dengan ratap dan tangisan. Kepada dunia seperti inilah Natal diberikan dan memberi pengharapan tentang pengampunan dosa, kekuatan untuk hidup di tengah dunia yang lelah, kalut, tercabik, dan meraih pengharapan kehidupan di sini pun kelak. Natal tahu bahwa dunia yang seperti ini tidak pernah akan sempurna, compang-camping dalam problemnya, dan jika solusi didapat juga selalu menyisakan kesedihan dan air mata. Natal perdana pun Natal setiap Desember, akan tetap hadir dengan sukacita sekaligus keprihatinan.

Aduh Tuhan?!
Jika Yesus lahir pada 2020, Balthasar, Caspar, dan Melchior tiga orang Majus itu mungkin tidak hanya memberi emas, kemenyan, dan mur tapi juga masker, hand sanitizer, dan vitamin. Sukacita Natal direspons, tapi keprihatinan atas dunia pandemi dan krisis tak bisa disangkali. Kita tidak hanya menyanyikan I’m dreaming of a White Christmas, tapi juga I’m weeping of a Dark Christmas. Gereja dan umat Kristiani bisa merespons keduanya berkaca pada Natal perdana dan kisah keselamatan Allah atas dunia yang berdosa. Di mana Yesus juga tidak imun terhadap pandemi dosa manusia, Ia harus terpapar dan meregang di ICU yakni salib Golgota dan di karantina di dunia orang mati. Rekam jejak kisah keselamatan itu bisa dirunut di kitab suci. Kisah anugerah, kasih setia, pertolongan, mukjizat kesembuhan dan Allah yang hadir menolong nyata, terserak melimpah dalam kitab suci. Namun dalam kitab suci pula, kisah sedih dan air mata hadir dan nyata adanya. Sepertiga dari 150 Mazmur Nabi Daud berupa ratapan, air mata, kesedihan, ditinggalkan, sendiri, dan putus asa. Allah diam dan menjauh. Kesedihan dan air mata dihadirkan bersama-sama dengan tawa dan pertolongan Allah.

Allah ingin manusia realistis dan tahu siapa dirinya, serta dunia seperti apa yang mereka tempati. Ciptaan yang lemah dan dunia yang sudah jatuh dalam dosa memperanak-pinakkan skandal air mata. Syukur Allah menyediakan “vaksin Firman” agar manusia imun dalam menghadapinya. Vaksin agar berani mengunyah, mencecap pahit dan menelannya bersama-sama Allah. Vaksin Ilahiah itu berupa Kitab Ratapan dari Nabi Yeremia. Penderitaan, jeritan, ratapan, air mata, lolongan, pertanyaan tanpa jawaban, ketidakpastian, kesakitan, merasa ditinggalkan, ketakutan, keadaan koma bahkan kematian dihadirkan sepanjang kitab ini.

Pandemi dan krisis sepertinya kontras dengan citra sukacita dan kegembiraan Natal. Padahal Ia lahir miskin di palungan domba, mengungsi dan aniaya, Yesus tidak menolak cawan pahit. Ia juga menjeritkan ratapan mengapa Allah meninggalkan, merasakan sakit psikis dan fisik, keterasingan universal, bahkan harus merasakan alam kubur. Natal boleh bereuforia atas hidup berselimut syukur dan janji keselamatan. Namun, Natal yang sama juga tidak mudah patah jika harus berkerudung duka dan air mata.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kakorlantas: Kendaraan...
Kakorlantas: Kendaraan Keluar Jakarta Naik 11% di Momen Nataru
Densus 88 Antiteror...
Densus 88 Antiteror Tangkap 7 Teroris Selama Momen Nataru
Tak Perlu Khawatir di...
Tak Perlu Khawatir di Bandara, InJourney Airports Siap Melayani dengan Ketulusan Selama Nataru
Ingat! Ini 8 Titik Perayaan...
Ingat! Ini 8 Titik Perayaan Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta
Aptrindo Sesalkan Larangan...
Aptrindo Sesalkan Larangan Truk Sumbu Tiga saat Nataru Diperpanjang Jadi 17 Hari
Libur Nataru, BMKG Imbau...
Libur Nataru, BMKG Imbau Waspadai Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Daerah
Akomodasi Baru di Lampung...
Akomodasi Baru di Lampung Bikin Akses ke Destinasi Favorit Kian Mudah
Merasakan Keunikan Budaya...
Merasakan Keunikan Budaya Mongol Tanpa Keluar Negeri
BCA Australia Travel...
BCA Australia Travel Fair Tawarkan Liburan Murah ke Negeri Kanguru
Rekomendasi
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
OSN 2026 Diikuti 941.692...
OSN 2026 Diikuti 941.692 Peserta, Kemendikdasmen Tegaskan Integritas dan Transparansi
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
Rusia: Serangan Natal...
Rusia: Serangan Natal ke Ukraina Sukses Capai Tujuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved