Misi Politik Kemanusiaan Ramadan
Kamis, 14 Mei 2020 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Bulan puasa menjadi momentum mewujudkan misi politik kemanusiaan. Menjadikan korona sebagai prioritas. Membantu mereka yang kesusahan. Tragedi korona faktual bukan fiksi apalagi dongeng. Butuh gerakan solidaritas kemanusiaan yang juga nyata. Semua energi politik sejatinya diarahkan menanggulangi tragedi kemanusiaan ini.
Peran Partai Politik
Di tengah hiruk-pikuk penanggulangan korona, kiprah partai politik senyap bak ditelan bumi. Padahal bekas jejak mengikuti pemilu 2019 masih terasa. Ruang publik pengap dengan narasi politik mereka. Berebut klaim populis. Merasa paling dekat dengan rakyat. Agresivitas kampanye dilakukan nyaris tanpa jeda. Berdenyut setiap saat.
Suka tak suka negara ini bekerja di bawah kuasa rezim partai politik. Semua kebijakan politik strategis ditentukan oleh pejabat publik yang dipenuhi kader partai. Presiden, menteri, anggota dewan, gubernur, bupati, dan wali kota mayoritas kader partai politik. Sangat wajar jika peran partai politik dalam kasus korona dinantikan publik. Menggugah sedikit kepedulian mereka untuk terlibat.
Partai politik akan kehilangan legitimasi politik sebagai institusi yang mengagregasi kepentingan rakyat. Berjarak dengan realitas sosial. Pada saat rakyat banyak yang susah uluran tangan, partai politik nyaris tak terdengar. Secara institusional belum terlihat instruksi nyata turut serta menangani wabah korona. Hanya sedikit saja yang terlihat bergerak menolong. Itu pun masih parsial, belum menjadi gerakan kolektif yang bergerak masif dari pusat hingga akar rumput. Sikap partai politik terlihat begitu landai. Sepertinya isu korona tak seksi untuk kepentingan politik elektoral. Mungkin karena pemilu masih jauh.
Inilah cacat bawaan partai politik. Hanya hadir jelang pemilu. Bersolek lima tahun sekali. Semacam partai politik musiman yang abai dengan isu-isu humanis. Mestinya korona menjadi topik sentral karena semua ini musibah kemanusiaan yang datang tanpa diundang. Partai politik perlu memeluk hati rakyat yang cemas ketakutan terjangkit virus. Menguatkan dan memotivasi rakyat untuk terus optimistis menghadapi wabah korona.
Pada titik ini publik berharap partai politik sibuk berjibaku memberikan bantuan sosial langsung. Ramadan menjadi momen bersafari dari pintu ke pintu memastikan kesehatan dan kebutuhan hidup rakyat. Mengapitalisasi segala sumber daya ekonomi mereka dengan membagikan masker, hand sanitizer, sembako, dan bantuan sosial lain yang bisa meringankan beban hidup terdampak korona. Semoga bulan suci membuka mata hati partai politik tergerak secara kolektif untuk membantu kesulitan mereka.
Peran Partai Politik
Di tengah hiruk-pikuk penanggulangan korona, kiprah partai politik senyap bak ditelan bumi. Padahal bekas jejak mengikuti pemilu 2019 masih terasa. Ruang publik pengap dengan narasi politik mereka. Berebut klaim populis. Merasa paling dekat dengan rakyat. Agresivitas kampanye dilakukan nyaris tanpa jeda. Berdenyut setiap saat.
Suka tak suka negara ini bekerja di bawah kuasa rezim partai politik. Semua kebijakan politik strategis ditentukan oleh pejabat publik yang dipenuhi kader partai. Presiden, menteri, anggota dewan, gubernur, bupati, dan wali kota mayoritas kader partai politik. Sangat wajar jika peran partai politik dalam kasus korona dinantikan publik. Menggugah sedikit kepedulian mereka untuk terlibat.
Partai politik akan kehilangan legitimasi politik sebagai institusi yang mengagregasi kepentingan rakyat. Berjarak dengan realitas sosial. Pada saat rakyat banyak yang susah uluran tangan, partai politik nyaris tak terdengar. Secara institusional belum terlihat instruksi nyata turut serta menangani wabah korona. Hanya sedikit saja yang terlihat bergerak menolong. Itu pun masih parsial, belum menjadi gerakan kolektif yang bergerak masif dari pusat hingga akar rumput. Sikap partai politik terlihat begitu landai. Sepertinya isu korona tak seksi untuk kepentingan politik elektoral. Mungkin karena pemilu masih jauh.
Inilah cacat bawaan partai politik. Hanya hadir jelang pemilu. Bersolek lima tahun sekali. Semacam partai politik musiman yang abai dengan isu-isu humanis. Mestinya korona menjadi topik sentral karena semua ini musibah kemanusiaan yang datang tanpa diundang. Partai politik perlu memeluk hati rakyat yang cemas ketakutan terjangkit virus. Menguatkan dan memotivasi rakyat untuk terus optimistis menghadapi wabah korona.
Pada titik ini publik berharap partai politik sibuk berjibaku memberikan bantuan sosial langsung. Ramadan menjadi momen bersafari dari pintu ke pintu memastikan kesehatan dan kebutuhan hidup rakyat. Mengapitalisasi segala sumber daya ekonomi mereka dengan membagikan masker, hand sanitizer, sembako, dan bantuan sosial lain yang bisa meringankan beban hidup terdampak korona. Semoga bulan suci membuka mata hati partai politik tergerak secara kolektif untuk membantu kesulitan mereka.
(mpw)