Bank Dunia Proyeksi Ekonomi 2020 Minus

Jum'at, 18 Desember 2020 - 05:10 WIB
loading...
Bank Dunia Proyeksi Ekonomi 2020 Minus
Bank Dunia telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari minus 1,6% menjadi minus 2,2%. (Ilustrasi: SINDONews/Wawan Bastian)
A A A
KINERJA pemulihan ekonomi Indonesia belum menunjukkan penguatan signifikan, bahkan cenderung melemah dari proyeksi sebelumnya. Dengan alasan itu Bank Dunia telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari minus 1,6% menjadi minus 2,2%. Hal itu tertuang dalam laporan Bank Dunia yang bertajuk Indonesia Economic Prospects (IEP) Desember 2020. Sejumlah lembaga internasional lainnya juga memprediksi perekonomian Indonesia masih dalam teritori negatif sepanjang tahun ini. Di antaranya prediksi dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level minus 2,4% tahun ini.

Walau demikian pemerintah masih menaruh harapan sebaliknya. Setidaknya hal itu tebersit dari pernyataan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa berbalik arah dari negatif menjadi positif pada akhir tahun ini. Optimisme mantan Menteri Perindustrian itu didasari sejumlah angka indikator ekonomi yang mulai membaik. Di antaranya pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga membaik dan melewati titik terendah dengan kontraksi lebih kecil minus 3,49% bil dibandingkan dengan triwulan kedua yang minus 5,32%. Indikator lainnya, konsumsi pemerintah yang terus bertumbuh, begitu pula realisasi bantuan sosial (bansos) semakin meningkat. Lalu sektor industri penopang mulai bergerak di tengah Covid-19.

Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional berada pada level minus 1,7% hingga 0,6%. Sri Mulyani Indrawati mengibaratkan kondisi dunia usaha saat ini sedang pingsan akibat tekanan yang sangat berat. Hal itu dapat dibaca dari sikap perbankan yang tidak punya keberanian menyalurkan kredit. Sebaliknya pihak korporasi enggan meminta kredit di masa sulit ini. Seretnya penyaluran kredit perbankan jelas sebuah tanda bahaya karena aktivitas korporasi pasti tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Tentu ini sebuah tugas berat bagi pemerintah bagaimana membuat dunia usaha siuman dari pingsan.

Sementara itu Bank Dunia memprediksi perekonomian nasional akan kembali membaik pada tahun depan dan bakal menguat secara perlahan pada 2022. Tahun depan diproyeksi pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 4,4%. Namun untuk mencapai pertumbuhan positif dengan syarat kondisi pandemi korona (Covid-19) sudah bisa diminimalkan melalui penyuntikan vaksin yang efektif dan aman. Sri Mulyani berharap dana pemulihan ekonomi nasional yang jumlahnya mencapai Rp 695,2 triliun bisa memutar roda perekonomian yang dapat membuat arah pertumbuhan ekonomi lebih baik alias keluar dari resesi ekonomi.

Terlepas dari proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional, sejumlah pekerjaan rumah berat lainnya menunggu aksi pemerintah sebagai dampak dari Covid-19. Salah satunya sebagaimana dibeberkan Bank Dunia dalam laporan IEP adalah masalah pangan yang dinilai cukup krusial. Persoalan pangan bukan menyangkut ketersediaan, tetapi keterjangkauan untuk kelompok tertentu, yakni masyarakat miskin dan rentan miskin dengan kemampuan daya beli yang melorot untuk mendapatkan bahan pangan.

Lalu apa solusi mengatasi masalah keterjangkauan pangan untuk masyarakat miskin atau kelas bawah? Bank Dunia menyodorkan tiga jalan keluar. Pertama, pendekatan ketahanan pangan perlu diperluas untuk menjawab kebutuhan dan mewujudkan visi ketahanan pangan komprehensif yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Pangan. Kedua, tujuan dan instrumen kebijakan perlu disesuaikan dan cakupan kebijakan didefinisikan kembali. Ketiga, pengeluaran publik perlu dialokasikan kembali untuk mendapatkan dampak yang lebih besar dan produktif. Selanjutnya diversifikasi dengan melaksanakan transisi dari fokus pada tanaman terpilih menjadi pertanian yang terdiversifikasi dan menguntungkan semua pihak. Menyangkut daya saing, Bank Dunia merekomendasikan untuk melindungi pasar domestik dengan pembatasan impor dan membuka pasar ekspor lebih luas bagi produsen dalam negeri. Tugas yang sungguh berat.
(bmm)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2962 seconds (11.210#12.26)