Transformasi Jalur Rempah Maritim
Senin, 14 Desember 2020 - 05:41 WIB
loading...
A
A
A
Kepelabuhanan, kota-kota pantai, dan pasar adalah tiga komponen yang berkelindan dalam era perdagangan maritim Kepulauan Nusantara berbasis komoditas strategis Sebelum Masehi hingga Abad Pertengahan. Barus yang berlokasi di pantai barat Sumatera, kepulauan Maluku, pulau Sulawesi, pantai utara dan selatan Jawa, Bali, pesisir Kalimantan hingga Nusa Tenggara berkembang menjadi pelabuhan dan kota-kota pantai. Di pantai barat Sumatera kita mengenal Pelabuhan Barus, Sibolga, dan Teluk Bayur-Padang. Di pantai timur Sumatera pelabuhan Sabang dan Belawan-Medan.
Di pantai utara dan selatan Jawa terdapat Pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta, Banten, Cirebon, Semarang, Gresik, Tanjung Perak-Surabaya, Pelabuhanratu, dan Cilacap. Di Sulawesi Selatan dikenal Pelabuhan Paotere dan kini Pelabuhan Makassar, Bau-Bau, Ambon, Bitung hingga Ternate. Di masa silam berkembangnya kota-kota pantai dan pasar serta pelabuhan menjadi pusat gravitasi ekonomi maritim dari kerajaan-kerajaan pesisir. Utamanya kerajaan Islam pesisir. Di masa kini pelabuhan dan kota-kota pantai berkembang menjadi kawasan ekonomi berikat, seperti wilayah Gresik dan Surabaya. Komoditasnya pun kian beragam. Bedanya dengan masa silam, Nusantara jadi kiblat perdagangan internasional. Klaim sebagai poros maritim dunia masa itu jadi keniscayaan.
Pertanyaannya, apakah basis kekuatan ekonomi maritim Indonesia kekinian supaya bertransformasi sebagai poros maritim sekaligus gravitasi ekonomi dunia? Apakah perkebunan, pertambangan, rempah-rempah, pariwisata bahari, atau perikanan itu sendiri? Tak mudah menjawabnya. Membutuhkan kajian mendalam supaya pengambilan keputusannya secara ekonomi politik tak menyimpang.
Sebetulnya pemerintah sejak 2014 telah mencanangkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Akan tetapi, hingga 2020 perkembangannya terkesan mati suri. Pembangunan nasional terlalu memfokuskan infrastruktur berupa jalan tol dan bandara. Pemerintah memang mengembangkan juga infrastruktur maritim. Di antaranya pelabuhan, tol laut, dan bandara di pulau kecil perbatasan. Sayangnya, implementasinya belum optimal. Kasus di Maluku sempat mencuat soal mahalnya ongkos distribusi barang dan jasa lewat tol laut yang masih relatif tinggi. Bandingkan dengan China yang kini jadi kekuatan raksasa dunia di bidang kemaritiman lewat visi jalur sutra maritimnya.
Presiden China Xi Jinping mencanangkannya One Belt One Road Innitiative (BRI) mencakup dua komponen utama, yakni the Silk Road Economic Belt (SREB) dan the 21st Century Maritime Silk Road (CMSR). SREB merupakan jalur darat yang tujuannya mengoneksikan provinsi tertinggal bagian barat China dengan Eropa lewat Asia Tengah. CMSR merupakan rute laut yang tujuannya mengoneksikan provinsi pesisir kaya dengan kawasan Afrika dan Asia Tenggara lewat pelabuhan laut dan jalur kereta api.
Makanya, wajar saja Vietnam permintaannya tinggi terhadap kebutuhan benih lobster dari Indonesia untuk memasok budi dayanya. Pasalnya, Vietnam mengekspornya ke China karena jaraknya dekat dan biaya rantai pasoknya murah. Bagaimana mentransformasikan kekuatan ekonomi maritim berbasiskan jalur rempah maritim (JRM) di era kekinian?
Di pantai utara dan selatan Jawa terdapat Pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta, Banten, Cirebon, Semarang, Gresik, Tanjung Perak-Surabaya, Pelabuhanratu, dan Cilacap. Di Sulawesi Selatan dikenal Pelabuhan Paotere dan kini Pelabuhan Makassar, Bau-Bau, Ambon, Bitung hingga Ternate. Di masa silam berkembangnya kota-kota pantai dan pasar serta pelabuhan menjadi pusat gravitasi ekonomi maritim dari kerajaan-kerajaan pesisir. Utamanya kerajaan Islam pesisir. Di masa kini pelabuhan dan kota-kota pantai berkembang menjadi kawasan ekonomi berikat, seperti wilayah Gresik dan Surabaya. Komoditasnya pun kian beragam. Bedanya dengan masa silam, Nusantara jadi kiblat perdagangan internasional. Klaim sebagai poros maritim dunia masa itu jadi keniscayaan.
Pertanyaannya, apakah basis kekuatan ekonomi maritim Indonesia kekinian supaya bertransformasi sebagai poros maritim sekaligus gravitasi ekonomi dunia? Apakah perkebunan, pertambangan, rempah-rempah, pariwisata bahari, atau perikanan itu sendiri? Tak mudah menjawabnya. Membutuhkan kajian mendalam supaya pengambilan keputusannya secara ekonomi politik tak menyimpang.
Sebetulnya pemerintah sejak 2014 telah mencanangkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Akan tetapi, hingga 2020 perkembangannya terkesan mati suri. Pembangunan nasional terlalu memfokuskan infrastruktur berupa jalan tol dan bandara. Pemerintah memang mengembangkan juga infrastruktur maritim. Di antaranya pelabuhan, tol laut, dan bandara di pulau kecil perbatasan. Sayangnya, implementasinya belum optimal. Kasus di Maluku sempat mencuat soal mahalnya ongkos distribusi barang dan jasa lewat tol laut yang masih relatif tinggi. Bandingkan dengan China yang kini jadi kekuatan raksasa dunia di bidang kemaritiman lewat visi jalur sutra maritimnya.
Presiden China Xi Jinping mencanangkannya One Belt One Road Innitiative (BRI) mencakup dua komponen utama, yakni the Silk Road Economic Belt (SREB) dan the 21st Century Maritime Silk Road (CMSR). SREB merupakan jalur darat yang tujuannya mengoneksikan provinsi tertinggal bagian barat China dengan Eropa lewat Asia Tengah. CMSR merupakan rute laut yang tujuannya mengoneksikan provinsi pesisir kaya dengan kawasan Afrika dan Asia Tenggara lewat pelabuhan laut dan jalur kereta api.
Makanya, wajar saja Vietnam permintaannya tinggi terhadap kebutuhan benih lobster dari Indonesia untuk memasok budi dayanya. Pasalnya, Vietnam mengekspornya ke China karena jaraknya dekat dan biaya rantai pasoknya murah. Bagaimana mentransformasikan kekuatan ekonomi maritim berbasiskan jalur rempah maritim (JRM) di era kekinian?