Kemenkes Ingatkan Penyakit Tidak Menular Silent Killer di Masa Pandemi COVID-19
Kamis, 10 Desember 2020 - 14:34 WIB
loading...
A
A
A
Cut mengatakan kalau dilihat dari angka kematian komorbid pada masa pandemi ini cukup memprihatinkan. “Hipertensi itu sekitar 11,8% yang meninggal dengan perburukan karena terinfeksi diabetes 10,5%, kemudian diikuti penyakit jantung 6,7%, kemudian penyakit ginjal 3%, paru kronik 2,3%, kanker 0,5% dan lain sebagainya.”
Tentu, tegas Cut, pemerintah tidak ingin menambah jumlah orang yang meninggal dengan komorbid pada masa pandemi COVID-19 ini. “Apa yang bisa kita lakukan? Tentu saja kita harus menghindar dari situasi yang memperburuk kondisi PTM di masa pandemi.”
Misalnya, kata Cut, stres meningkat akibat ketidakstabilan ekonomi. “Banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan ini sangat berpengaruh pada ketahanan pangan, ketahanan imunitas. Jangan lupa bawa stres itu adalah faktor risiko dari hipertensi. Bagaimana agar kondisi ini tidak terjadi? Tentunya ini memerlukan beberapa langkah.”
Kemudian kedua, ungkap Cut, adalah terbatasnya akses pelayanan kesehatan esensial dan obat rutin. Pasalnya, pada masa pandemi beberapa fasilitas pelayanan kesehatan hampir di semua daerah fokus kepada penanganan COVID-19. “Sehingga pelayanan kesehatan seringkali tidak terlayani karena penuhnya konsentrasi tenaga kesehatan kepada penanganan COVID-19.” (Baca juga:Pastikan Isolasi Mandiri Pasien Covid-19, Mahasiswa ITS Gagas SIMBOX)
“Ini yang kita harapkan kami sangat membantu pemerintah daerah tetap melakukan penyelenggaraan pelayanan kesehatan esensial, agar para penyandang PTM ini betul-betul dapat terlayani karena mereka membutuhkan pengobatan yang rutin dan obat-obat yang rutin,” sambung Cut.
Tentu, tegas Cut, pemerintah tidak ingin menambah jumlah orang yang meninggal dengan komorbid pada masa pandemi COVID-19 ini. “Apa yang bisa kita lakukan? Tentu saja kita harus menghindar dari situasi yang memperburuk kondisi PTM di masa pandemi.”
Misalnya, kata Cut, stres meningkat akibat ketidakstabilan ekonomi. “Banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan ini sangat berpengaruh pada ketahanan pangan, ketahanan imunitas. Jangan lupa bawa stres itu adalah faktor risiko dari hipertensi. Bagaimana agar kondisi ini tidak terjadi? Tentunya ini memerlukan beberapa langkah.”
Kemudian kedua, ungkap Cut, adalah terbatasnya akses pelayanan kesehatan esensial dan obat rutin. Pasalnya, pada masa pandemi beberapa fasilitas pelayanan kesehatan hampir di semua daerah fokus kepada penanganan COVID-19. “Sehingga pelayanan kesehatan seringkali tidak terlayani karena penuhnya konsentrasi tenaga kesehatan kepada penanganan COVID-19.” (Baca juga:Pastikan Isolasi Mandiri Pasien Covid-19, Mahasiswa ITS Gagas SIMBOX)
“Ini yang kita harapkan kami sangat membantu pemerintah daerah tetap melakukan penyelenggaraan pelayanan kesehatan esensial, agar para penyandang PTM ini betul-betul dapat terlayani karena mereka membutuhkan pengobatan yang rutin dan obat-obat yang rutin,” sambung Cut.
(kri)
Lihat Juga :