Peran Strategis Kader NU Kembalikan Kejayaan PPP
Jum'at, 04 Desember 2020 - 15:03 WIB
loading...
A
A
A
Alhamdulillah, ramalan tersebut meleset tidak sepenuhnya terjadi. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa PPP masih bisa bertahan, kendati telah mengalami penurunan perolehan suara yang signifikan? Jawabannya, karena PPP masih memiliki basis pendukung setia (die hard voters) dari massa tradisional yang fanatic dan loyal dengan pengurus yang masih setia di seluruh wilayah Indonesia.
Kemudian ke mana larinya sebagian suara PPP? Di antaranya karena pemilih banyak yang telah memutuskan mencoba pilihan pada partai lain yang bahkan tidak memiliki kesamaan ideologi dengan PPP sekalipun, karena telah masuk dalam arus rasionalisme atupun pragmatisme politik. Banyak fakta bahwa pola hubungan politik terjadi dalam ikatan jangka pendek baik dengan menggunakan instrumen uang (money politics), jasa atau kepentingan politik sesaat.
Jadi tantangan dan persaingan yang dihadapi oleh PPP semakin hari semakin berat seperti deideologisasi, rasionalisme dan pragmatisme pemilih serta persaingan dalam penguasaan media komunikasi massa serta keterbatasan sumber pendanaan. Oleh karena itu PPP harus mengantisipasi dengan berbagai program percepatan (advanced planning) yang bisa menjawab tantangan tersebut melalui langkah-langkah transformasi PPP menuju parpol modern melalui rekonsolidasi, kaderisasi, modernisasi dan pengembangan narasi branding partai yang efektif.
Langkah rekonsolidasi mutlak diperlukan melalui upaya serius merapatkan barisan semua komponen partai serta menutup gejala dan potensi konflik, menciptakan stabilitas organisasi dan mengembangkan relasi structural yang sehat. Saat ini dengan situasi kondisi yang ada, PPP telah menemukan momentumnya untuk melakukan rekonsolidasi.
Pada saat yang sama kaderisasi adalah salah satu jawaban dan merupakan kebutuhan mendesak untuk segera dilakukan secara serius, massif, dan sistemik oleh PPP. Bagi PPP kaderisasi memiliki arti penting setidaknya sebagai upaya pendidikan dan ideologisasi politik yang merupakan tanggung jawab PPP sebagai bagian dari komponen masyarakat politik sekaligus ajang dalam menyiapkan calon pemimpin untuk regenerasi politik.
Sedayung bersambut modernisasi infrastruktur dan suprastruktur partai menjadi keniscayaan dalam menghadapi era perkembangan jaman yang serba digital. Organisasi politik sebagai mesin utama harus diaktifkan dengan pendekatan profesionalisme dengan ditunjang perangkat system manajemen dan teknologi yang memadahi. Mengenai keterbatasan dukungan pendanaan, PPP harus melakukan upaya-upaya kreatif fund rising dengan mengoptimalkan kekuatan jaringan yang telah terbangun selama ini.
Pola komunikasi massa yang selama ini berjalan satu arah menggunakan media konvensional harus diubah mengikuti perkembangan media social yang semakin massif dan canggih. Dengan didukung oleh sistem produksi gagasan dan ide yang selalu up to date pengembangan narasi dan konten branding partai harus terus digelorakan sepanjang waktu.
Perubahan demografi pemilih yang makin didominasi kaum muda, membuat strategi, program, maupun komunikasi partai harus beradaptasi. Apalagi, ada harapan besar pada generasi muda, bahwa parpol-parpol besar ke depannya memberikan ruang semakin besar dan strategis bagi kaum muda. Dan bagi PPP yang paling relevan adalah upaya serius menggarap segmen kaum santri.
Mengapa kaum santri, karena sebagian besar dikalangan pemilih santri tradisional, tolak ukur untuk menentukan pilihan politik partai tidak semata pada platform partai melainkan pada siapa tokoh yang duduk di partai itu. Hal ini merupakan bagian dari tradisi di kalangan NU yang menjadikan pemimpin agama (dalam hal ini ulama/kyai) sebagai panutan.
Tidak hanya untuk urusan keagamaan dan kehidupan sosial, namun juga untuk urusan politik ulama menjadi referensi dalam menentukan pilihan politik mereka. Karena hal ini lebih baik dan bermartabat jika dibandingkan dengan pragmatisme politik yang cenderung transaksional dengan catatan bahwa santri tidak semata dijadikan sebagai objek politik untuk dimobilisasi suaranya saja tanpa ada upaya pendidikan politik dan pemberdayaan aspirasi politiknya.
Lebih dari itu PPP harus terus meningkatkan sikap keberpihakan yang nyata kepada santri dan pesantren melalui perjuangan kebijakan dan implementasi program-programnya.
Potensi besar yang dimiliki PPP saat ini untuk menggalang kekuatan pada segmen kaum santri adalah dengan upaya membangkitkan spirit dan nama besar almarhum Mbah Moen sebagai figur inspirator panutan santri yang telah memiliki nama besar dalam percaturan politik kebangsaan di tanah air.
Ketokohan Mbah Moen tidak hanya diakui oleh generasi tua saja tapi juga telah terbukti menjadi panutan hingga melampaui jamannya, karena pengaruhnya telah dapat beradaptasi dengan generasi masa kini (millennial). Sebagaimana partai lain yang telah memiliki figur rujukan atau inspirator.
PPP bisa terus memanfaatkan ketokohan beliau sebagai perekat senyawa dalam mengkonsolidasikan persamaan spirit, pemikiran dan sikap politik santri. PPP harus percaya diri menampilkan sosok inspiratifnya sebagai referensi dalam memberikan pendidikan politik kepada kader-kadernya. Setidaknya bisa digunakan sebagai benteng terakhir untuk menanggulangi perpecahan internal kembali terjadi di tubuh PPP. Wasallam
Kemudian ke mana larinya sebagian suara PPP? Di antaranya karena pemilih banyak yang telah memutuskan mencoba pilihan pada partai lain yang bahkan tidak memiliki kesamaan ideologi dengan PPP sekalipun, karena telah masuk dalam arus rasionalisme atupun pragmatisme politik. Banyak fakta bahwa pola hubungan politik terjadi dalam ikatan jangka pendek baik dengan menggunakan instrumen uang (money politics), jasa atau kepentingan politik sesaat.
Jadi tantangan dan persaingan yang dihadapi oleh PPP semakin hari semakin berat seperti deideologisasi, rasionalisme dan pragmatisme pemilih serta persaingan dalam penguasaan media komunikasi massa serta keterbatasan sumber pendanaan. Oleh karena itu PPP harus mengantisipasi dengan berbagai program percepatan (advanced planning) yang bisa menjawab tantangan tersebut melalui langkah-langkah transformasi PPP menuju parpol modern melalui rekonsolidasi, kaderisasi, modernisasi dan pengembangan narasi branding partai yang efektif.
Langkah rekonsolidasi mutlak diperlukan melalui upaya serius merapatkan barisan semua komponen partai serta menutup gejala dan potensi konflik, menciptakan stabilitas organisasi dan mengembangkan relasi structural yang sehat. Saat ini dengan situasi kondisi yang ada, PPP telah menemukan momentumnya untuk melakukan rekonsolidasi.
Pada saat yang sama kaderisasi adalah salah satu jawaban dan merupakan kebutuhan mendesak untuk segera dilakukan secara serius, massif, dan sistemik oleh PPP. Bagi PPP kaderisasi memiliki arti penting setidaknya sebagai upaya pendidikan dan ideologisasi politik yang merupakan tanggung jawab PPP sebagai bagian dari komponen masyarakat politik sekaligus ajang dalam menyiapkan calon pemimpin untuk regenerasi politik.
Sedayung bersambut modernisasi infrastruktur dan suprastruktur partai menjadi keniscayaan dalam menghadapi era perkembangan jaman yang serba digital. Organisasi politik sebagai mesin utama harus diaktifkan dengan pendekatan profesionalisme dengan ditunjang perangkat system manajemen dan teknologi yang memadahi. Mengenai keterbatasan dukungan pendanaan, PPP harus melakukan upaya-upaya kreatif fund rising dengan mengoptimalkan kekuatan jaringan yang telah terbangun selama ini.
Pola komunikasi massa yang selama ini berjalan satu arah menggunakan media konvensional harus diubah mengikuti perkembangan media social yang semakin massif dan canggih. Dengan didukung oleh sistem produksi gagasan dan ide yang selalu up to date pengembangan narasi dan konten branding partai harus terus digelorakan sepanjang waktu.
Perubahan demografi pemilih yang makin didominasi kaum muda, membuat strategi, program, maupun komunikasi partai harus beradaptasi. Apalagi, ada harapan besar pada generasi muda, bahwa parpol-parpol besar ke depannya memberikan ruang semakin besar dan strategis bagi kaum muda. Dan bagi PPP yang paling relevan adalah upaya serius menggarap segmen kaum santri.
Mengapa kaum santri, karena sebagian besar dikalangan pemilih santri tradisional, tolak ukur untuk menentukan pilihan politik partai tidak semata pada platform partai melainkan pada siapa tokoh yang duduk di partai itu. Hal ini merupakan bagian dari tradisi di kalangan NU yang menjadikan pemimpin agama (dalam hal ini ulama/kyai) sebagai panutan.
Tidak hanya untuk urusan keagamaan dan kehidupan sosial, namun juga untuk urusan politik ulama menjadi referensi dalam menentukan pilihan politik mereka. Karena hal ini lebih baik dan bermartabat jika dibandingkan dengan pragmatisme politik yang cenderung transaksional dengan catatan bahwa santri tidak semata dijadikan sebagai objek politik untuk dimobilisasi suaranya saja tanpa ada upaya pendidikan politik dan pemberdayaan aspirasi politiknya.
Lebih dari itu PPP harus terus meningkatkan sikap keberpihakan yang nyata kepada santri dan pesantren melalui perjuangan kebijakan dan implementasi program-programnya.
Potensi besar yang dimiliki PPP saat ini untuk menggalang kekuatan pada segmen kaum santri adalah dengan upaya membangkitkan spirit dan nama besar almarhum Mbah Moen sebagai figur inspirator panutan santri yang telah memiliki nama besar dalam percaturan politik kebangsaan di tanah air.
Ketokohan Mbah Moen tidak hanya diakui oleh generasi tua saja tapi juga telah terbukti menjadi panutan hingga melampaui jamannya, karena pengaruhnya telah dapat beradaptasi dengan generasi masa kini (millennial). Sebagaimana partai lain yang telah memiliki figur rujukan atau inspirator.
PPP bisa terus memanfaatkan ketokohan beliau sebagai perekat senyawa dalam mengkonsolidasikan persamaan spirit, pemikiran dan sikap politik santri. PPP harus percaya diri menampilkan sosok inspiratifnya sebagai referensi dalam memberikan pendidikan politik kepada kader-kadernya. Setidaknya bisa digunakan sebagai benteng terakhir untuk menanggulangi perpecahan internal kembali terjadi di tubuh PPP. Wasallam
(poe)
Lihat Juga :