Putus Penularan Covid-19, Penerapan 3M dan 3T Harus Berjalan Seiring
Jum'at, 13 November 2020 - 08:08 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan data ini, imbuh Soeprapto, ada kesan bahwa 3M dan 3T adalah dua hal yang berbeda. Padahal, keduanya harus menjadi kesatuan untuk memutus rantai penularan Covid-19 . Apalagi, saat ini lebih masif iklan-iklan mengenai 3M dibandingkan 3T. “Memang kan awal campaign-nya kan fokus kita disiplin kepada 3M di radio, di sosial media pun, bahkan di TV pun social aware-nya lebih tinggi dibandingkan dengan 3T. Jadi ya sekarang seharusnya progressing ya, 3M udah, dan saya rasa sekarang saatnya 3T dimasifkan,” tegas Soeprapto.
Peran Lembaga Filantropi Kesehatan
Sementara di tempat terpisah, lembaga Filantropi Indonesia bekerja sama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK-KMK UGM) dan Yayasan TAHIJA meluncurkan Kluster Filantropi Kesehatan.
Kluster ini dibentuk dalam rangka meningkatkan kualitas program kesehatan yang didukung, didanai, dan dikelola oleh lembaga-lembaga filantropi di Indonesia. Pembentukan kluster ini juga diharapkan bisa membantu mengatasi dampak kesehatan yang muncul akibat pandemi Covid-19 yang tengah melanda Indonesia yang membutuhkan sumber daya dan dukungan dari filantropi.
Peluncuran Kluster Filantropi Kesehatan ini digelar di sela-sela workshop “Menggali Potensi Filantropi untuk Andil Indonesia” yang digelar di Jakarta kemarin. Pada acara ini Filantropi Indonesia juga mengukuhkan dan mengenalkan PKMK FK-KMK UGM dan Yayasan TAHIJA sebagai koordinator Kluster Filantropi Kesehatan kepada para penggiat filantropi. (Baca juga: Bantuan Kuota Internet, Naidem Minta Kepsek Segera Unggah Surat Pernyataan)
Direktur Filantropi Indonesia Hamid Abidin menyatakan bahwa pembentukan Kluster Filantropi Kesehatan ini dinilai penting karena isu atau sektor kesehatan merupakan salah satu program yang banyak didukung oleh masyarakat, lembaga filantropi, maupun sektor swasta. Di sisi lain, kesehatan masih menjadi masalah utama di Indonesia yang membutuhkan banyak dukungan. Problem kesehatan ini menjadi lebih kompleks mana kala pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan ditetapkan sebagai bencana kesehatan.
Peran Lembaga Filantropi Kesehatan
Sementara di tempat terpisah, lembaga Filantropi Indonesia bekerja sama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK-KMK UGM) dan Yayasan TAHIJA meluncurkan Kluster Filantropi Kesehatan.
Kluster ini dibentuk dalam rangka meningkatkan kualitas program kesehatan yang didukung, didanai, dan dikelola oleh lembaga-lembaga filantropi di Indonesia. Pembentukan kluster ini juga diharapkan bisa membantu mengatasi dampak kesehatan yang muncul akibat pandemi Covid-19 yang tengah melanda Indonesia yang membutuhkan sumber daya dan dukungan dari filantropi.
Peluncuran Kluster Filantropi Kesehatan ini digelar di sela-sela workshop “Menggali Potensi Filantropi untuk Andil Indonesia” yang digelar di Jakarta kemarin. Pada acara ini Filantropi Indonesia juga mengukuhkan dan mengenalkan PKMK FK-KMK UGM dan Yayasan TAHIJA sebagai koordinator Kluster Filantropi Kesehatan kepada para penggiat filantropi. (Baca juga: Bantuan Kuota Internet, Naidem Minta Kepsek Segera Unggah Surat Pernyataan)
Direktur Filantropi Indonesia Hamid Abidin menyatakan bahwa pembentukan Kluster Filantropi Kesehatan ini dinilai penting karena isu atau sektor kesehatan merupakan salah satu program yang banyak didukung oleh masyarakat, lembaga filantropi, maupun sektor swasta. Di sisi lain, kesehatan masih menjadi masalah utama di Indonesia yang membutuhkan banyak dukungan. Problem kesehatan ini menjadi lebih kompleks mana kala pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan ditetapkan sebagai bencana kesehatan.
Lihat Juga :