Vaksin Jadi Harapan Utama Memutus Rantai Covid-19
Rabu, 11 November 2020 - 08:24 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun di Indonesia cakupan bersih dari pneumonia masih 65%, menurut Kusnandi cakupan imunisasinya juga harus ditingkatkan untuk mencegah penyakit yang hanya bisa dicegah dengan vaksin. “Nah, sekarang cangkupan di Indonesia hanya 65%, sedangkan di Amerika yang sudah bersih dari segala macam pneumonia itu 97%. Nah kita hanya 65%, itu paling kurang bagus kalau dibandingkan dengan yang lain,” katanya.
Dia mengaku bahwa perlu kerja keras untuk meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia. Banyak kendala yang menghalangi proses vaksinasi di tanah air mulai dari keyakinan masyarakat hingga berita hoaks. “Jadi kita harus meningkatkan bekerja berat, ya harus berjuang keras bagaimana caranya cakupan imunisasi di Indonesia itu meningkat. Karena penyakit-penyakit pada anak ada yang hanya dapat dicegah oleh imunisasi,” katanya. (Baca juga: Kemendikbud Dukung Pelaksanaan Kampus Merdeka Selama Pandemi)
Mengenai uji coba vaksin Sinovac , Kusnadi mengungkapkan tahap penyuntikan telah selesai dilakukan kepada 1.620 relawan. Saat ini proses yang dilakukan hanya tinggal menunggu hasil evaluasi serta melihat efikasi vaksin. “Uji klinis vaksin Covid-19 di Bandung ada 1.620 subjek penelitian dan semuanya itu telah disuntik, selesai. Jadi sudah nggak ada suntikannya lagi, tinggal diikuti ya,” katanya.
Dia mengungkapkan sebelum dilakukan penyuntikan vaksin, seorang relawan harus diambil darahnya. Proses ini dilakukan kembali satu bulan kemudian. Setelah disuntik vaksin, darah relawan kembali diambil tiga bulan kemudian. Pengambilan darah terakhir dilakukan setelah 6 bulan pasca-penyuntikan. “Jadi dia sebelum disuntik kan diambil darahnya, diambil darah kemudian satu bulan itu diambil darahnya lagi. Kemudian 3 bulan setelah disuntik diambil darahnya lagi. Dan 6 bulan setelah suntik diambil darahnya lagi,” kata Kusnandi.
Pengambilan darah para relawan ini dilakukan untuk mengevaluasi kadar zat antivirus dalam tubuh. Selain itu pengambilan darah dilakukan untuk mengevaluasi keamanan vaksin. “Pengambilan darah untuk mengevaluasi kadar zat anti-nya di samping untuk mengevaluasi keamanan vaksin, juga untuk melihat efikasi vaksin,” ungkap Kusnandi. (Baca juga: Lima Langkah Sederhana Agar Tubuh Tetap Sehat Selama Pandemi)
Dalam uji klinis tahap III, lanjut Kusnadi, tidak semua relawan disuntik vaksin Covid-19 . Ada sebagian dari mereka yang hanya mendapatkan plasebo. “Karena nggak semuanya itu diberi vaksin, tapi ada yang plasebo. Nanti dibandingkan antara yang dapat vaksin dengan yang dapat plasebo berapa yang dapat penyakit Covid ini,” ucapnya.
Dengan begitu efikasi vaksin juga akan terlihat hasilnya. Namun Kusnandi mengatakan bahwa proses efikasi vaksin Sinovac tidak hanya dari uji klinis di Indonesia saja tetapi juga dari uji klinis vaksin Sonovac di luar negeri. “Tapi itu tentu diambil bukan dari Bandung aja. Nanti penelitian ini tentang efikasi. Karena efikasi itu harus puluhan ribu sebetulnya. Mungkin diambil juga dari Brasil ya, yang dari India dan sebagainya untuk efikasi,” urai Kusnandi.
Dia mengaku bahwa perlu kerja keras untuk meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia. Banyak kendala yang menghalangi proses vaksinasi di tanah air mulai dari keyakinan masyarakat hingga berita hoaks. “Jadi kita harus meningkatkan bekerja berat, ya harus berjuang keras bagaimana caranya cakupan imunisasi di Indonesia itu meningkat. Karena penyakit-penyakit pada anak ada yang hanya dapat dicegah oleh imunisasi,” katanya. (Baca juga: Kemendikbud Dukung Pelaksanaan Kampus Merdeka Selama Pandemi)
Mengenai uji coba vaksin Sinovac , Kusnadi mengungkapkan tahap penyuntikan telah selesai dilakukan kepada 1.620 relawan. Saat ini proses yang dilakukan hanya tinggal menunggu hasil evaluasi serta melihat efikasi vaksin. “Uji klinis vaksin Covid-19 di Bandung ada 1.620 subjek penelitian dan semuanya itu telah disuntik, selesai. Jadi sudah nggak ada suntikannya lagi, tinggal diikuti ya,” katanya.
Dia mengungkapkan sebelum dilakukan penyuntikan vaksin, seorang relawan harus diambil darahnya. Proses ini dilakukan kembali satu bulan kemudian. Setelah disuntik vaksin, darah relawan kembali diambil tiga bulan kemudian. Pengambilan darah terakhir dilakukan setelah 6 bulan pasca-penyuntikan. “Jadi dia sebelum disuntik kan diambil darahnya, diambil darah kemudian satu bulan itu diambil darahnya lagi. Kemudian 3 bulan setelah disuntik diambil darahnya lagi. Dan 6 bulan setelah suntik diambil darahnya lagi,” kata Kusnandi.
Pengambilan darah para relawan ini dilakukan untuk mengevaluasi kadar zat antivirus dalam tubuh. Selain itu pengambilan darah dilakukan untuk mengevaluasi keamanan vaksin. “Pengambilan darah untuk mengevaluasi kadar zat anti-nya di samping untuk mengevaluasi keamanan vaksin, juga untuk melihat efikasi vaksin,” ungkap Kusnandi. (Baca juga: Lima Langkah Sederhana Agar Tubuh Tetap Sehat Selama Pandemi)
Dalam uji klinis tahap III, lanjut Kusnadi, tidak semua relawan disuntik vaksin Covid-19 . Ada sebagian dari mereka yang hanya mendapatkan plasebo. “Karena nggak semuanya itu diberi vaksin, tapi ada yang plasebo. Nanti dibandingkan antara yang dapat vaksin dengan yang dapat plasebo berapa yang dapat penyakit Covid ini,” ucapnya.
Dengan begitu efikasi vaksin juga akan terlihat hasilnya. Namun Kusnandi mengatakan bahwa proses efikasi vaksin Sinovac tidak hanya dari uji klinis di Indonesia saja tetapi juga dari uji klinis vaksin Sonovac di luar negeri. “Tapi itu tentu diambil bukan dari Bandung aja. Nanti penelitian ini tentang efikasi. Karena efikasi itu harus puluhan ribu sebetulnya. Mungkin diambil juga dari Brasil ya, yang dari India dan sebagainya untuk efikasi,” urai Kusnandi.
Lihat Juga :