Joe Biden Lebih Dialogis, Tensi Ketegangan di LCS Diharapkan Menurun
Kamis, 05 November 2020 - 14:42 WIB
loading...
A
A
A
Pakar politik yang meraih magister dari Asian Studies, Faculty of Asian Studies Australian National University ini mengatakan, dengan kepemimpinan baru nanti, diharapkan AS bisa meyakinkan China untuk tidak terlalu provokatif di kawasan. "Biden kan memang dianggap jauh lebih lunak, mengedepankan dialog sehingga mungkin dengan pendekatan seperti ini akan lebih didengarkan oleh China," paparnya.
Firman Noor mengatakan, ke depan, siapapun presidennya, AS akan tetap mengaji partner Indonesia baik dari segi ekonomi dan juga politik. "Secara umum tidak akan ada sesuatu yang berbeda, hanya saja mungkin tensi keakraban dan komunikasi akan lebih kuat di zaman Biden. Trump kan menutup pintu dan cenderung musuh gitu, seperti yang dia lakukan terhadap WHO dan Unesco. Kalau Joe Biden kurang lebih akan seperti Obama lah, jadi banyak langkah diplomatik yang akan dibangun ke depan," tutur peraih gelar doktor dari School of Social Science and Humanities, specialising Indonesia Politics, University of Exeter, Inggris ini.
Menurutnya, AS akan tetap menganggap Indonesia sebagai rekan yang strategis di kawasan Asia Tenggara, juga sebagai negara yang mempromosikan nilai-nilai moderat keislaman. Namun, di sisi lain juga tetap ada ketidakcocokan antara AS dengan Indonesia dalam konteks Palestina yang tidak akan pernah berubah. "Dalam konteks Palestina kan sikap AS jelas, siapapun presidennya, pasti akan mem-backup Israel. Begitu pula kita, siapapun presiden AS, pasti akan support Palestina," pungkasnya.
Firman Noor mengatakan, ke depan, siapapun presidennya, AS akan tetap mengaji partner Indonesia baik dari segi ekonomi dan juga politik. "Secara umum tidak akan ada sesuatu yang berbeda, hanya saja mungkin tensi keakraban dan komunikasi akan lebih kuat di zaman Biden. Trump kan menutup pintu dan cenderung musuh gitu, seperti yang dia lakukan terhadap WHO dan Unesco. Kalau Joe Biden kurang lebih akan seperti Obama lah, jadi banyak langkah diplomatik yang akan dibangun ke depan," tutur peraih gelar doktor dari School of Social Science and Humanities, specialising Indonesia Politics, University of Exeter, Inggris ini.
Menurutnya, AS akan tetap menganggap Indonesia sebagai rekan yang strategis di kawasan Asia Tenggara, juga sebagai negara yang mempromosikan nilai-nilai moderat keislaman. Namun, di sisi lain juga tetap ada ketidakcocokan antara AS dengan Indonesia dalam konteks Palestina yang tidak akan pernah berubah. "Dalam konteks Palestina kan sikap AS jelas, siapapun presidennya, pasti akan mem-backup Israel. Begitu pula kita, siapapun presiden AS, pasti akan support Palestina," pungkasnya.
(cip)
Lihat Juga :