Disiplin Kunci Atasi Corona
Jum'at, 08 Mei 2020 - 06:33 WIB
loading...
A
A
A
Walaupun pemerintah telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), mantan Wali Kota Solo itu mempersilakan masyarakat beraktivitas secara terbatas. Namun, sekali lagi, dia mengingatkan agar tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. “Semua ini membutuhkan kedisiplinan kita semuanya, kedisiplinan warga, serta peran aparat yang bekerja secara tepat dan terukur,” katanya.
Jokowi lantas menuturkan bahwa Indonesia beruntung sejak awal memilih kebijakan PSBB, bukan lockdown atau karantina wilayah. Pasalnya, PSBB hanya bersifat membatasi kegiatan di tempat-tempat umum dan fasilitas umum dalam bentuk pembatasan jumlah orang dan pengaturan jarak antar orang. “Artinya, dengan PSBB, masyarakat masih bisa beraktivitas, tapi memang dibatasi. Masyarakat juga harus membatasi diri, tidak boleh berkumpul dalam skala besar,” ucapnya.
Di sisi lain dia mengakui saat ini masih ditemukan masyarakat yang berkerumun dan tidak disiplin menggunakan masker. Dia berharap bukan hanya aparat yang mengingatkan untuk disiplin, tapi masyarakat juga bisa secara sadar mendisiplinkan diri.
Sebelumnya Jokowi berharap pada Mei ini kurva kasus positif korona di Indonesia menurun. Selanjutnya pada Juni masuk pada posisi sedang dan pada Juli bisa masuk posisi ringan. Dia optimistis harapan tersebut bisa terwujud jika semua elemen bangsa bersatu bersama-sama mengatasi corona.
Seperti diketahui, virus corona menyebar luas ke seluruh negara di dunia. Dengan tingkat penyebaran yang beraneka ragam, setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda-beda dalam menangani dan menghadapi virus mematikan tersebut. Namun, semuanya sepakat: mencegah lebih baik daripada mengobati.
China yang menjadi pusat wabah Covid-19 juga bergerak agresif dan efektif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memuji China sebagai negara dengan respons tercepat dan terbaik di sepanjang sejarah penyakit menular. Kelebihan China ialah pemerintah dan masyarakatnya kompak menangani virus itu.
Sejak Covid-19 mewabah di Kota Wuhan, Provinsi Hubei pada Januari lalu, Pemerintah China langsung mengisolasi kawasan berpenduduk 60 juta jiwa itu dari provinsi lainnya. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk atau keluar. Uniknya, masyarakat setempat sangat taat terhadap pemimpin mereka walau ketakutan.
Di saat masyarakat mengurung diri di rumah, petugas menggalakkan sterilisasi di tempat umum, memeriksa kesehatan warga, dan merazia truk pengangkut hewan liar. Pasien yang terinfeksi Covid-19 akan diprioritaskan di rumah sakit (RS), sedangkan mereka yang mengalami gejala demam dikarantina di tempat lain.
Jokowi lantas menuturkan bahwa Indonesia beruntung sejak awal memilih kebijakan PSBB, bukan lockdown atau karantina wilayah. Pasalnya, PSBB hanya bersifat membatasi kegiatan di tempat-tempat umum dan fasilitas umum dalam bentuk pembatasan jumlah orang dan pengaturan jarak antar orang. “Artinya, dengan PSBB, masyarakat masih bisa beraktivitas, tapi memang dibatasi. Masyarakat juga harus membatasi diri, tidak boleh berkumpul dalam skala besar,” ucapnya.
Di sisi lain dia mengakui saat ini masih ditemukan masyarakat yang berkerumun dan tidak disiplin menggunakan masker. Dia berharap bukan hanya aparat yang mengingatkan untuk disiplin, tapi masyarakat juga bisa secara sadar mendisiplinkan diri.
Sebelumnya Jokowi berharap pada Mei ini kurva kasus positif korona di Indonesia menurun. Selanjutnya pada Juni masuk pada posisi sedang dan pada Juli bisa masuk posisi ringan. Dia optimistis harapan tersebut bisa terwujud jika semua elemen bangsa bersatu bersama-sama mengatasi corona.
Seperti diketahui, virus corona menyebar luas ke seluruh negara di dunia. Dengan tingkat penyebaran yang beraneka ragam, setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda-beda dalam menangani dan menghadapi virus mematikan tersebut. Namun, semuanya sepakat: mencegah lebih baik daripada mengobati.
China yang menjadi pusat wabah Covid-19 juga bergerak agresif dan efektif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memuji China sebagai negara dengan respons tercepat dan terbaik di sepanjang sejarah penyakit menular. Kelebihan China ialah pemerintah dan masyarakatnya kompak menangani virus itu.
Sejak Covid-19 mewabah di Kota Wuhan, Provinsi Hubei pada Januari lalu, Pemerintah China langsung mengisolasi kawasan berpenduduk 60 juta jiwa itu dari provinsi lainnya. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk atau keluar. Uniknya, masyarakat setempat sangat taat terhadap pemimpin mereka walau ketakutan.
Di saat masyarakat mengurung diri di rumah, petugas menggalakkan sterilisasi di tempat umum, memeriksa kesehatan warga, dan merazia truk pengangkut hewan liar. Pasien yang terinfeksi Covid-19 akan diprioritaskan di rumah sakit (RS), sedangkan mereka yang mengalami gejala demam dikarantina di tempat lain.
Lihat Juga :