Menunggu Hajatan Paman Sam
Kamis, 22 Oktober 2020 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Para analis pasar keuangan global menilai, investor tetap mengantisipasi dampak pilpres AS. Meskipun dalam dua pekan menjelang pilpres, pasar AS memberikan respons positif terhadap kebijakan yan dikeluarkan oleh pemerintahan Trump. Dengan latar belakang seorang pengusaha sukses, Trump dinilai mumpuni memperbaiki perekonomian AS yang terkoyak akibat pandemi Covid-19.
Seperti halnya pilpres-pilpres sebelumnya, mata dunia akan terarah ke AS pada 3 November mendatang. Sebagai salah satu negara terkuat di dunia, tentu saja banyak yang menunggu siapa sosok pemenang pilpres. Penguasa terpilih tentu akan memiliki kebijakan-kebijakan baru. Trump tetap mengusung jargon Make America Great Again yang mengedepankan semangat nasionalisme, berdiri di kaki sendiri dengan mengurangi ketergantungan impor dari negara lain. Trump juga berkomitmen untuk menarik pasukan perangnya kembali ke AS. Sedangkan Biden berulang kali menekankan pentingnya peningkatan pajak untuk menggerakkan ekonomi domestik. Biden juga menilai penting menjalin hubungan dagang dengan negara lain terutama China, negara yang oleh Trump dinilai sebagai biang melemahnya ekonomi AS.
Kebijakan-kebijakan politik, keamanan termasuk ekonomi dari pemerintahan AS yang baru pada bulan depan tentunya akan memberikan pengaruh terhadap dunia. Sebagai negara adidaya, AS punya pengaruh besar terhadap negara-negara di dunia. Hal ini juga berlaku dalam hal ekonomi.
Setiap kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah AS, pengaruhnya tak hanya dirasakan orang masyarakat negeri Paman Sam saja, tetapi juga si seluruh dunia. Bahkan, negara-negara berkembang yang ekonominya baik-baik saja bisa ikut kena getahnya. Salah satu contohnya, perang dagang antara AS dengan China yang tak kunjung usai membuat ekonomi dunia limbung, selain akibat dari pandemi Covid-19.
Bahkan, kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) mampu menelan atau melambungkan pasar uang dunia. Salah satu contohnya, dalam sebulan terakhir kebijakan stimulus dari The Fed direspons positif oleh pasar dunia termasuk Indonesia. Pasar saham di negara-negara berkembang ikut merekah seperti halnya pasar AS.
Seperti halnya pilpres-pilpres sebelumnya, mata dunia akan terarah ke AS pada 3 November mendatang. Sebagai salah satu negara terkuat di dunia, tentu saja banyak yang menunggu siapa sosok pemenang pilpres. Penguasa terpilih tentu akan memiliki kebijakan-kebijakan baru. Trump tetap mengusung jargon Make America Great Again yang mengedepankan semangat nasionalisme, berdiri di kaki sendiri dengan mengurangi ketergantungan impor dari negara lain. Trump juga berkomitmen untuk menarik pasukan perangnya kembali ke AS. Sedangkan Biden berulang kali menekankan pentingnya peningkatan pajak untuk menggerakkan ekonomi domestik. Biden juga menilai penting menjalin hubungan dagang dengan negara lain terutama China, negara yang oleh Trump dinilai sebagai biang melemahnya ekonomi AS.
Kebijakan-kebijakan politik, keamanan termasuk ekonomi dari pemerintahan AS yang baru pada bulan depan tentunya akan memberikan pengaruh terhadap dunia. Sebagai negara adidaya, AS punya pengaruh besar terhadap negara-negara di dunia. Hal ini juga berlaku dalam hal ekonomi.
Setiap kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah AS, pengaruhnya tak hanya dirasakan orang masyarakat negeri Paman Sam saja, tetapi juga si seluruh dunia. Bahkan, negara-negara berkembang yang ekonominya baik-baik saja bisa ikut kena getahnya. Salah satu contohnya, perang dagang antara AS dengan China yang tak kunjung usai membuat ekonomi dunia limbung, selain akibat dari pandemi Covid-19.
Bahkan, kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) mampu menelan atau melambungkan pasar uang dunia. Salah satu contohnya, dalam sebulan terakhir kebijakan stimulus dari The Fed direspons positif oleh pasar dunia termasuk Indonesia. Pasar saham di negara-negara berkembang ikut merekah seperti halnya pasar AS.
Lihat Juga :