Pendidikan Vokasi Dinilai Belum Jawab Kebutuhan Industri
Rabu, 06 Mei 2020 - 12:40 WIB
loading...
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih menilai, pendidikan vokasi di Tanah Air dinilai belum mampu menjawab tantangan. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Perkembangan pendidikan vokasi di Tanah Air dinilai belum mampu menjawab tantangan yang ada saat ini, yakni pembukaan lapangan kerja yang besar dalam memenuhi kebutuhan industri. Maka itu, Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih mengritiknya. (Baca juga: Pemerintah Dorong Industri Buka Pendidikan Vokasi)
“Karena kebutuhan dunia usaha berapa, kualitas seperti apa, dan jenis-jenis lulusannya berapa, kita tidak tahu datanya,” ujar Fikri dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/5/2020).
Dia melanjutkan, untuk menjawab kebutuhan industri, diperlukan kesesuaian data antara jenis-jenis industri yang membutuhkan tenaga kerja dengan banyak nya lulusan vokasi, baik SMK maupun perguruan tinggi. “Kalau tidak jelas datanya, maka terjadi ketimpangan seperti saat ini, lulusan satu jenis vokasi melimpah, sementara lainnya bisa jadi kosong, akhirnya impor dari China,” kata Fikri. (Baca juga: Pendidikan vokasi dan Sumber Daya Insani Unggul)
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis tahun lalu, kata Fikri, dimana lulusan SMK lebih banyak mengganggur daripada lulusan SMA. Menurut data itu, dari 7 juta pengangguran di Indonesia, lulusan SMK mendominasi sebanyak 11,24%, sisanya lulusan SMA sebesar 7,95%.
Fikri menilai lulusan SMA memang wajar lebih rendah menganggur, “Karena sebagian yang mampu meneruskan pendidikan ke jenjang lanjutan,” kata Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
“Karena kebutuhan dunia usaha berapa, kualitas seperti apa, dan jenis-jenis lulusannya berapa, kita tidak tahu datanya,” ujar Fikri dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/5/2020).
Dia melanjutkan, untuk menjawab kebutuhan industri, diperlukan kesesuaian data antara jenis-jenis industri yang membutuhkan tenaga kerja dengan banyak nya lulusan vokasi, baik SMK maupun perguruan tinggi. “Kalau tidak jelas datanya, maka terjadi ketimpangan seperti saat ini, lulusan satu jenis vokasi melimpah, sementara lainnya bisa jadi kosong, akhirnya impor dari China,” kata Fikri. (Baca juga: Pendidikan vokasi dan Sumber Daya Insani Unggul)
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis tahun lalu, kata Fikri, dimana lulusan SMK lebih banyak mengganggur daripada lulusan SMA. Menurut data itu, dari 7 juta pengangguran di Indonesia, lulusan SMK mendominasi sebanyak 11,24%, sisanya lulusan SMA sebesar 7,95%.
Fikri menilai lulusan SMA memang wajar lebih rendah menganggur, “Karena sebagian yang mampu meneruskan pendidikan ke jenjang lanjutan,” kata Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Lihat Juga :