Patuhi Tarif Tes Usap!
Senin, 05 Oktober 2020 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
“Tes rapid antigen kerap memberikan hasil palsu sehingga mengabaikan kasus sebenarnya,” kata Raymond Lin, direktur Laboratorium Kesehatan Publik Nasional di Pusat Nasional Penyakit Infeksi Singapura, dilansir The Straits Times.
Dia mengatakan, tes rapid antigen bisa mengabaikan satu dari enam kasus atau lebih. “Jika mengabaikan kasus ini, kita akan memiliki wabah yang terus menerus,” katanya.
Tes PCR dinilai lebih mampu mendeteksi material genetik virus pada sampel pasien dan menjadi tes yang standar untuk mengetahui Covid-19. Kelemahannya, proses tes PCR memerlukan waktu pengiriman ke laboratorium dan memakan waktu selama satu hari. Selain itu, biaya tes PCR juga lebih mahal dan membutuhkan personel terlatih.
Ini berbeda dengan tes rapid dengan antigen yang hanya menguji protein virus di permukaan dan hasilnya bisa terlihat dalam hitungan menit. Tes serologi akan mampu mendeteksi kehadiran antibodi yang digunakan guna mengetahui apakah orang tersebut pernah terinfeksi di masa lalu. (Baca juga: 10 Pertempuran Udara Paling Sengit Dalam Sejarah)
Badan Kesehatan Dunia (WHO) hanya merekomendasikan penggunaan tes rapid dalam kondisi tertentu, misalnya lokasi terpencil dan pelaksanaan tes PCR tidak tersedia. Tes rapid hanya dijadikan sebagai upaya memonitor kondisi kesehatan semata.
Berbeda dengan Singapura, di Filipina, pemerintah masih menerapkan tes rapid dan PCR. Apalagi, banyak warga Filipina berinisiatif melakukan tes PCR dan rapid sehingga mereka merasa aman. Jika dinyatakan terinfeksi, mereka juga harus mengisolasi diri di rumah.
Badan Kesehatan Inggris (NHS) akan memberikan tes PCR gratis jika ada warga yang mengalami gejala terinfeksi virus corona seperti demam dan batuk terus-menerus. Tes gratis juga diberikan kepada orang yang pernah tinggal dengan pasien yang sudah terinfeksi virus corona.
Pemerintah Inggris sudah mengizinkan penggunaan tes corona yang bisa diketahui dalam waktu satu jam. "Tes baru itu akan bisa mendeteksi flu musim dingin dan virus corona. Nantinya, tes itu digunakan untuk mencegah penyebaran virus corona menjelang musim dingin," kata Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, dilansir Euro News. Dia mengatakan bahwa Inggris menggunakan teknologi inovasi untuk menangkal virus corona.
Bagaimana dengan di Amerika Serikat (AS)? Pada akhir Agustus lalu, Badan Obat-obatan dan Makanan (FDA) mengizinkan penggunaan tes rapid dengan biaya USD5 dalam kondisi darurat. Hasil tes rapid itu bisa diketahui dalam waktu 15 menit karena tidak memerlukan laboratorium. AS menghabiskan anggaran USD760 juta untuk memproduksi 150 juta tes rapid dari Abbott Laboratories. (Lihat videonya: Lawan Covid-19, Pakai Masker Berfiltrasi Baik)
“Membuat tes yang cepat, murah, dan mudah memang menjadi tujuan utama. Saya pikir tes antigen adalah solusinya,” papar Martin Burke, pakar kimia dari Universitas Illinois at Urbana-Champaign. (Bima Setyadi/Faorick Pakpahan /F.W. Bahtiar/Raka Dwi N/Andika H Mustaqim)
Dia mengatakan, tes rapid antigen bisa mengabaikan satu dari enam kasus atau lebih. “Jika mengabaikan kasus ini, kita akan memiliki wabah yang terus menerus,” katanya.
Tes PCR dinilai lebih mampu mendeteksi material genetik virus pada sampel pasien dan menjadi tes yang standar untuk mengetahui Covid-19. Kelemahannya, proses tes PCR memerlukan waktu pengiriman ke laboratorium dan memakan waktu selama satu hari. Selain itu, biaya tes PCR juga lebih mahal dan membutuhkan personel terlatih.
Ini berbeda dengan tes rapid dengan antigen yang hanya menguji protein virus di permukaan dan hasilnya bisa terlihat dalam hitungan menit. Tes serologi akan mampu mendeteksi kehadiran antibodi yang digunakan guna mengetahui apakah orang tersebut pernah terinfeksi di masa lalu. (Baca juga: 10 Pertempuran Udara Paling Sengit Dalam Sejarah)
Badan Kesehatan Dunia (WHO) hanya merekomendasikan penggunaan tes rapid dalam kondisi tertentu, misalnya lokasi terpencil dan pelaksanaan tes PCR tidak tersedia. Tes rapid hanya dijadikan sebagai upaya memonitor kondisi kesehatan semata.
Berbeda dengan Singapura, di Filipina, pemerintah masih menerapkan tes rapid dan PCR. Apalagi, banyak warga Filipina berinisiatif melakukan tes PCR dan rapid sehingga mereka merasa aman. Jika dinyatakan terinfeksi, mereka juga harus mengisolasi diri di rumah.
Badan Kesehatan Inggris (NHS) akan memberikan tes PCR gratis jika ada warga yang mengalami gejala terinfeksi virus corona seperti demam dan batuk terus-menerus. Tes gratis juga diberikan kepada orang yang pernah tinggal dengan pasien yang sudah terinfeksi virus corona.
Pemerintah Inggris sudah mengizinkan penggunaan tes corona yang bisa diketahui dalam waktu satu jam. "Tes baru itu akan bisa mendeteksi flu musim dingin dan virus corona. Nantinya, tes itu digunakan untuk mencegah penyebaran virus corona menjelang musim dingin," kata Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, dilansir Euro News. Dia mengatakan bahwa Inggris menggunakan teknologi inovasi untuk menangkal virus corona.
Bagaimana dengan di Amerika Serikat (AS)? Pada akhir Agustus lalu, Badan Obat-obatan dan Makanan (FDA) mengizinkan penggunaan tes rapid dengan biaya USD5 dalam kondisi darurat. Hasil tes rapid itu bisa diketahui dalam waktu 15 menit karena tidak memerlukan laboratorium. AS menghabiskan anggaran USD760 juta untuk memproduksi 150 juta tes rapid dari Abbott Laboratories. (Lihat videonya: Lawan Covid-19, Pakai Masker Berfiltrasi Baik)
“Membuat tes yang cepat, murah, dan mudah memang menjadi tujuan utama. Saya pikir tes antigen adalah solusinya,” papar Martin Burke, pakar kimia dari Universitas Illinois at Urbana-Champaign. (Bima Setyadi/Faorick Pakpahan /F.W. Bahtiar/Raka Dwi N/Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :