Saatnya Makna Baru Kata Sosial dalam Media Sosial
Sabtu, 03 Oktober 2020 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Dapat pula berbagi pengalaman unik, yang kemudian berkembang jadi memamerkan keberanian menantang hal-hal yang berbahaya dan konyol. Dan dalam hal penyajian keindahan yang ditangkap lewat kamera, atau saran melakukan sesuatu yang disajikan secara audiovisual, bergeser jadi penyajian prank yang tak mengindahkan kewarasan akal budi, maupun soal baik-buruk.
Tujuan akhirnya satu dimensi: membangun interaktivitas yang bernilai ekonomi. Jika keadaan ini diteruskan, tentu situasinya jadi tak nyaman dan mengkhawatirkan. Akumulasi membangun interaktivitas, tak ada lagi batasnya. Makna sosial, yang mengasumsikan aktivitas yang dilakukan secara sehat, tak jelas lagi letak sehatnya. Gejala ini kemudian memunculkan gerakan senyap dan masif, mulai dari membatalkan penggunaan media sosial, diet media sosial, hingga membatasi interaktivitas sosial hanya dengan orang-orang yang jelas motif dan status kesehatan mentalnya.
Sara Wilson, 2020 dalam artikelnya The Era of Antisocial Social Media, yang dimuat di Harvard Business Review, melaporkan adanya gelombang besar memberi makna baru frasa sosial, dalam media sosial. Dan itu diikuti tindakan nyata yang relevan. Gelombang besar itu terindikasi dari maraknya pengunduhan aplikasi-aplikasi yang membatasi kesertaan sosial pihak-pihak yang tak dikehendaki, dalam bermedia sosial.
Ilustrasinya, ada Text Rex suatu layanan rekomendasi restoran yang dipersonalisasi khusus untuk anggota. Aplikasi ini berbasis pesan teks dari situs ulasan makanan The Infatuation. Fasilitas teknologi ini dapat digunakan untuk mengajukan pertanyaan dan memperoleh jawaban. Dan jawaban hanya diperoleh dari orang-orang yang telah jadi anggota.
Demikian pula ada aplikasi untuk membantu perusahaan, bintang, maupun personal terkenal, yang memfasilitasi percakapan langsung dengan penggemarnya, lewat pesan teks. Ini dapat berlansung tanpa resiko terkubur oleh umpan sosial dan algoritma. Maka, alih-alih berharap pengembang platform menyempurnakan teknologi media sosialnya agar layak digunakan, memberi makna baru kata sosial yang lebih menyehatkan, bisa jadi piihan cerdas. Lalu, apa makna sosial dalam bermedia sosial Anda, hari ini?
Tujuan akhirnya satu dimensi: membangun interaktivitas yang bernilai ekonomi. Jika keadaan ini diteruskan, tentu situasinya jadi tak nyaman dan mengkhawatirkan. Akumulasi membangun interaktivitas, tak ada lagi batasnya. Makna sosial, yang mengasumsikan aktivitas yang dilakukan secara sehat, tak jelas lagi letak sehatnya. Gejala ini kemudian memunculkan gerakan senyap dan masif, mulai dari membatalkan penggunaan media sosial, diet media sosial, hingga membatasi interaktivitas sosial hanya dengan orang-orang yang jelas motif dan status kesehatan mentalnya.
Sara Wilson, 2020 dalam artikelnya The Era of Antisocial Social Media, yang dimuat di Harvard Business Review, melaporkan adanya gelombang besar memberi makna baru frasa sosial, dalam media sosial. Dan itu diikuti tindakan nyata yang relevan. Gelombang besar itu terindikasi dari maraknya pengunduhan aplikasi-aplikasi yang membatasi kesertaan sosial pihak-pihak yang tak dikehendaki, dalam bermedia sosial.
Ilustrasinya, ada Text Rex suatu layanan rekomendasi restoran yang dipersonalisasi khusus untuk anggota. Aplikasi ini berbasis pesan teks dari situs ulasan makanan The Infatuation. Fasilitas teknologi ini dapat digunakan untuk mengajukan pertanyaan dan memperoleh jawaban. Dan jawaban hanya diperoleh dari orang-orang yang telah jadi anggota.
Demikian pula ada aplikasi untuk membantu perusahaan, bintang, maupun personal terkenal, yang memfasilitasi percakapan langsung dengan penggemarnya, lewat pesan teks. Ini dapat berlansung tanpa resiko terkubur oleh umpan sosial dan algoritma. Maka, alih-alih berharap pengembang platform menyempurnakan teknologi media sosialnya agar layak digunakan, memberi makna baru kata sosial yang lebih menyehatkan, bisa jadi piihan cerdas. Lalu, apa makna sosial dalam bermedia sosial Anda, hari ini?
(dam)
Lihat Juga :