Mahalnya Harga Stabilitas

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:16 WIB
loading...
A A A
Konsekuensinya sudah jelas bahwa semakin tinggi premi risiko dan tingkat bunga yang diperlukan untuk mempertahankan modal, semakin besar pula biaya pendanaan pemerintah, dunia usaha, dan pada akhirnya masyarakat. Inilah yang penulis maksud ketika stabilitas menjadi barang mahal.

Indonesia memang belum berada dalam krisis. Namun, untuk memastikan krisis itu tidak terjadi, harga yang harus dibayar tampaknya semakin mahal. Rupiah dipertahankan melalui intervensi, suku bunga dinaikkan untuk menjaga arus modal, dan ruang pembiayaan bagi dunia usaha menjadi semakin sempit. Persoalannya tentu bukan semata-mata gejolak global. Hampir semua negara menghadapi badai yang sama, meskipun intensitas dan dampaknya berbeda.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah mengapa sebagian negara mampu menyerap guncangan dengan biaya relatif lebih rendah, sementara negara lain harus mengeluarkan sumber daya lebih besar untuk mempertahankan stabilitas. Jawabannya antara lain terletak pada kualitas fondasi ekonomi dan kelembagaan.

Douglas North, peraih Nobel Ekonomi, menempatkan institusi sebagai salah satu penentu utama kinerja ekonomi karena institusi yang baik mengurangi ketidakpastian dan biaya transaksi. Sementara Francis Fukuyama, melalui pembahasannya mengenai trust, juga menunjukkan betapa kepercayaan merupakan modal penting yang memungkinkan masyarakat dan perekonomian bekerja lebih efisien.

Dalam konteks Indonesia hari ini, kedua pemikiran tersebut terasa relevan. Semakin tinggi kepercayaan terhadap konsistensi arah kebijakan, kredibilitas institusi, kepastian hukum, dan kualitas pengambilan keputusan, semakin kecil premi risiko yang diminta pelaku ekonomi. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, negara harus membayar lebih mahal melalui suku bunga yang lebih tinggi, intervensi pasar yang lebih intensif, atau biaya pendanaan yang meningkat.

Menariknya, sejumlah indikator makro Indonesia sebenarnya masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. BPS mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan. Inflasi Juni 2026 sebesar 3,34%, masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia 2,5±1 persen. Sistem perbankan juga tetap tumbuh. Hingga Mei 2026, OJK mencatat kredit perbankan meningkat 11,51 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp8.918 triliun.

Namun, angka-angka agregat tersebut perlu dibaca lebih dalam. Pertumbuhan yang tinggi tidak otomatis berarti kualitas pertumbuhan juga sama baiknya. Pada triwulan I-2026, konsumsi rumah tangga memang tumbuh kuat, tetapi momentum tersebut bertepatan dengan rangkaian Ramadan dan Idulfitri yang tahun sebelumnya sebagian masuk pada triwulan II bergeser maju menjadi hampir seluruhnya berada pada triwulan I 2026.

Pengeluaran konsumsi pemerintah bahkan tumbuh 21,81% secara tahunan. Artinya, tantangan berikutnya adalah memastikan momentum pertumbuhan tetap kuat ketika dorongan musiman dan akselerasi belanja pemerintah mulai normal.

Hal serupa terlihat dalam intermediasi perbankan. Di balik pertumbuhan kredit dua digit, kredit UMKM tumbuh jauh lebih lambat. OJK mencatat pertumbuhan kredit UMKM hanya sekitar 0,60% secara tahunan pada Mei 2026, sementara total kredit perbankan tumbuh 11,51%. Nilai kredit UMKM sekitar Rp1.500 triliun, atau kurang dari seperlima total kredit perbankan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
Rupiah Ditutup Menguat...
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.986 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?
Rekomendasi
Pemberdayaan Masyarakat...
Pemberdayaan Masyarakat Unusa, Tingkatkan Kesadaran tentang Penyakit Kulit
Trisno Pas Band Abaikan...
Trisno Pas Band Abaikan Kaki Bengkak sebelum Divonis Gagal Ginjal Kronis
Mahasiswa Universitas...
Mahasiswa Universitas Paramadina Pelajari Investasi Syariah Bersama MNC Sekuritas
Berita Terkini
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas soal Kopdes Merah Putih, Gibran Duduk di Sebelah Kirinya
Dokter Tifa Klaim Simpan...
Dokter Tifa Klaim Simpan Bukti Kejanggalan Ijazah Jokowi Meski Eksepsinya Diterima
Sudaryono Jadi Kepala...
Sudaryono Jadi Kepala BGN, Aktivis 98 Yakin Program MBG Jadi Lebih Baik
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas selama 3,5 Jam di Istana, Ini yang Dibahas
Hakim Kabulkan Eksepsi...
Hakim Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa, Khozinudin Sebut Tidak Ada Kejelasan tentang Ijazah Jokowi
Kejagung: Jadi Deputi...
Kejagung: Jadi Deputi di BGN, Ketut Sumedana Tak Lagi Jabat Kajati Sumsel
Infografis
Harga Emas Diramal akan...
Harga Emas Diramal akan Tembus Rp2,1 Juta per Gram
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved