MPLS Ramah dan Gernas Rana: Memulai Pendidikan dengan Rasa Aman, Bukan Rasa Takut
Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:54 WIB
loading...
A
A
A
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2022 masih menemukan bahwa kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan merupakan salah satu bentuk pengaduan yang dominan. Mengapa sekolah ramah menjadi kebutuhan mendesak? Abraham Maslow (1943) menempatkan kebutuhan akan rasa aman sebagai kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi sebelum individu mampu mencapai aktualisasi diri. Anak yang merasa takut, terancam, atau dipermalukan akan sulit berkonsentrasi untuk belajar secara optimal.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Lev Vygotsky (1978) melalui teori konstruktivisme sosial. Ia mengatakan bahwa perkembangan kognitif berlangsung melalui interaksi sosial yang positif. Lingkungan sekolah yang penuh intimidasi akan menghambat kolaborasi dan mengurangi keberanian peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, maupun mengeksplorasi pengetahuan baru.
Sementara itu, Urie Bronfenbrenner (1979) menjelaskan bahwa sekolah merupakan bagian penting dari microsystem yang secara langsung membentuk perkembangan sosial, emosional, dan intelektual anak. Ketika sekolah menghadirkan suasana aman dan suportif, dampaknya tidak hanya dirasakan selama proses pembelajaran, tetapi juga membentuk karakter anak dalam kehidupan jangka panjang.
Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama diajarkan Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasional itu menempatkan pendidikan sebagai proses "menuntun" tumbuhnya kodrat anak. Menuntun berarti memfasilitasi perkembangan anak dengan penuh penghormatan terhadap martabatnya, bukan melalui tekanan ataupun kekerasan. Filosofi "ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani" tetap relevan sebagai landasan moral bagi seluruh pendidik Indonesia.
Berbagai penelitian internasional mendukung fakta bahwa sekolah aman berkontribusi nyata terhadap peningkatan mutu pembelajaran. John Hattie (2009) dalam sintesis lebih dari 800 meta-analisis mengungkapkan bahwa iklim kelas yang positif, hubungan guru dan murid yang baik, serta rasa aman memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan belajar. Mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau fasilitas, tetapi juga oleh kualitas relasi manusia di sekolah.
Menjadi sebuah keniscayaan bahwa implementasi MPLS Ramah memerlukan pendekatan manajemen pendidikan yang komprehensif. Seperti dikatakan Edward Sallis (2002) melalui konsep Total Quality Management in Education bahwa mutu pendidikan harus dibangun melalui budaya organisasi yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. MPLS Ramah tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial lima hari, tetapi harus menjadi budaya sekolah sepanjang tahun.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Lev Vygotsky (1978) melalui teori konstruktivisme sosial. Ia mengatakan bahwa perkembangan kognitif berlangsung melalui interaksi sosial yang positif. Lingkungan sekolah yang penuh intimidasi akan menghambat kolaborasi dan mengurangi keberanian peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, maupun mengeksplorasi pengetahuan baru.
Sementara itu, Urie Bronfenbrenner (1979) menjelaskan bahwa sekolah merupakan bagian penting dari microsystem yang secara langsung membentuk perkembangan sosial, emosional, dan intelektual anak. Ketika sekolah menghadirkan suasana aman dan suportif, dampaknya tidak hanya dirasakan selama proses pembelajaran, tetapi juga membentuk karakter anak dalam kehidupan jangka panjang.
Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama diajarkan Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasional itu menempatkan pendidikan sebagai proses "menuntun" tumbuhnya kodrat anak. Menuntun berarti memfasilitasi perkembangan anak dengan penuh penghormatan terhadap martabatnya, bukan melalui tekanan ataupun kekerasan. Filosofi "ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani" tetap relevan sebagai landasan moral bagi seluruh pendidik Indonesia.
Pendekatan Manajemen Pendidikan Komprehensif
Berbagai penelitian internasional mendukung fakta bahwa sekolah aman berkontribusi nyata terhadap peningkatan mutu pembelajaran. John Hattie (2009) dalam sintesis lebih dari 800 meta-analisis mengungkapkan bahwa iklim kelas yang positif, hubungan guru dan murid yang baik, serta rasa aman memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan belajar. Mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau fasilitas, tetapi juga oleh kualitas relasi manusia di sekolah.
Menjadi sebuah keniscayaan bahwa implementasi MPLS Ramah memerlukan pendekatan manajemen pendidikan yang komprehensif. Seperti dikatakan Edward Sallis (2002) melalui konsep Total Quality Management in Education bahwa mutu pendidikan harus dibangun melalui budaya organisasi yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. MPLS Ramah tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial lima hari, tetapi harus menjadi budaya sekolah sepanjang tahun.
Lihat Juga :