Mantan Komisioner KPU Lebih Sepakat Pilkada 2020 Ditunda

Selasa, 22 September 2020 - 14:43 WIB
loading...
Mantan Komisioner KPU...
Hadar Nafis Gumay. Foto/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Keputusan DPR, pemerintah, dan penyelenggara pemilu yang sepakat melanjutkan pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) 2020 menuai kekhawatiran publik, tak terkecuali mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hadar Navis Gumay.

Dia sepakat bila tetap dipaksakan, pilkada bisa berpotensi memunculkan penyebaran virus Corona (Covid-19) kian melonjak. Hal itu sudah terbukti dengan jumlah kasus yang masih tinggi setiap hari. Apalagi, banyak pelanggaran protokol kesehatan dan kerumunan massa yang marak terjadi dalam tahapan pendaftaran bakal pasangan calon (paslon) pilkada.

(Baca: Pilkada Dilanjutkan, Cakada Didorong Beri Teladan untuk Protokol Kesehatan)

Hadar menilai ada kekeliruan pendekatan dalam menyelenggarakan pilkada di tengah pandemi. Banyaknya kasus terpapar Covid-19 yang menimpa peserta hingga petugas penyelenggara pemilu, seharusnya dapat direspon dengan perubahan pendekatan.

“Kalau kita tidak lakukan penataan, ubah pendekatan cara melihat penyelenggaraan di masa pandemi, saya kira akan menjadi percuma saja,” ujar Hadar dalam diskusi daring, Selasa (22/9/2020).

Meski sudah ada Perppu 2/2020 yang sudah menjadi UU No. 6/2020, isi perubahan aturan itu lebih pada penyebab penundaan pilkada karena faktor bencana non alam seperti wabah virus Corona. Termasuk di dalamnya mencakup pergeseran pelaksanaan pilkada dari September menjadi Desember.

“Sama sekali tidak menyentuh bagaimana penyelenggaraan pilkada di masa pandemi. Ini harus diubah kepada suatu penyelenggaraan yang disesuaikan betul dengan kondisi pandemi. Minimal tidak ada kontak satu sama lain. Itu yang harus diupayakan dalam lanjutan penyelenggaraan pilkada,” ujarnya.

(Baca: Guru Besar UIN Golput di Pilkada, Pengamat: Banyak, Tapi Tak Menampakkan)

Perspektif lainnya yang harus diubah yakni terkait sanksi dalam cara pandang pencegahan. Menurut Hadar, harus ada peningkatan dan penguatan sanksi, terutama pembatalan terhadap peserta yang melanggar protokol Covid-19.

Pendiri Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) itu meminta jangan lagi ada asumsi bahwa pemerintah maupun penyelenggara pemilu mampu mencegah kerumunan selama pilkada. “Itu berat sekali. Modal sosial tidak cukup. Politisi juga modelnya dalam berpilkada ya rame-rame ngumpulin orang banyak, unjuk kekuatan untuk bisa kelihatan hebat, dan seterusnya,” imbuh dia.

Lantaran itu, ia menyarankan perlunya penundaan pilkada selama 3-6 bulan ke depan. Namun, bukan berarti bahwa pilkada ditunda sampai pandemi selesai. Sebaliknya, Hadar ingin pilkada dilaksanakan di waktu pandemi sudah lebih terkontrol dan semua pihak siap menyelenggarakan dengan model atau cara, minimal tanpa adanya pertemuan.

“Itu yang kita harapkan bisa terjadi dalam rangka penyelenggaraan pilkada yang bisa menjamin keselamatan dan kesehatan publik. Kita tidak ingin pilkada justru menjadi bencana buat kita semua. Itu yang ingin kita hindari,” tandasnya.

Faorick Pakpahan
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Partai Perindo Dorong...
Partai Perindo Dorong Aturan Pemilu Harus Adil dan Setara: Nomor Urut Parpol Dikocok Ulang
MK: Parpol Melanggar...
MK: Parpol Melanggar Kuota 30 Persen Keterwakilan Perempuan Bakal Didiskualifikasi
Ungkap Alasan Tidak...
Ungkap Alasan Tidak Teliti Ijazah Presiden Selain Jokowi, Abdul Gafur: Punya Indikasi Palsu Gak?
Roy Suryo Ungkap Ada...
Roy Suryo Ungkap Ada Perbedaan di Salinan Ijazah Jokowi dari KPU
Bonatua Diperiksa Kasus...
Bonatua Diperiksa Kasus Ijazah Jokowi, Dicecar 27 Pertanyaan
Bonatua Bakal Unggah...
Bonatua Bakal Unggah Salinan Ijazah Jokowi Terlegalisir Tanpa Sensor ke Medsos, Ini Penampakannya!
DPD Perindo Jaktim Optimistis...
DPD Perindo Jaktim Optimistis Lolos Verifikasi 2027, Matangkan Struktur lewat Rakorda
DPRD Kabupaten Waropen...
DPRD Kabupaten Waropen Diminta Hentikan Proses PAW Nixon Yenusi
Pendidikan Ketua KPU...
Pendidikan Ketua KPU M Afifuddin yang Disanksi DKPP Sewa Jet Pribadi Rp90 Miliar
Rekomendasi
Samuel Cipta Hadirkan...
Samuel Cipta Hadirkan Makna Cinta Lewat Single Terbaru Jagat Rasa
The Banjoemas, Diplomasi...
The Banjoemas, Diplomasi Identitas Banyumas di Pusat Budaya Ibu Kota
BMKG Ungkap Daftar Wilayah...
BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Bakal Alami Kemarau Panjang
Berita Terkini
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Tersangka Kasus Ijazah...
Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Desak Polisi Buat Kepastian Hukum
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Kecam Ketimpangan Layanan...
Kecam Ketimpangan Layanan Dialisis, KPCDI Desak Pemerintah Benahi Sistem
Pengacara Jokowi: Ada...
Pengacara Jokowi: Ada Dugaan Manipulasi Bukti Elektronik dalam Kasus Ijazah Jokowi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Infografis
Profil Gatot Nurmantyo,...
Profil Gatot Nurmantyo, Mantan Panglima TNI yang Masuk Bursa Menko Polkam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved