Dari Cinta Menjadi Luka: Kekerasan Berpacaran Perspektif Psikologi

Senin, 29 Juni 2026 - 08:05 WIB
loading...
A A A
Dari perspektif psikologi forensik, tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan perilaku kekerasan. Perilaku tersebut umumnya merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, perkembangan, kepribadian, proses belajar sosial, dan lingkungan (American Psychiatric Association [APA], 2022; Meloy & Hoffmann, 2021).

Kebutuhan untuk Menguasai Pasangan


Pada kasus kekerasan yang berlangsung kronis, motivasi utama pelaku sering kali bukan sekadar kemarahan, melainkan kebutuhan untuk mengontrol kehidupan pasangan. Pelaku secara bertahap membatasi kebebasan korban melalui intimidasi, ancaman, isolasi sosial, manipulasi psikologis, hingga kekerasan fisik. Kekerasan menjadi alat untuk mempertahankan hubungan yang timpang, di mana seluruh keputusan berada di bawah kendali pelaku (Stark, 2007).

Gangguan Fungsi Kepribadian


Literatur menunjukkan bahwa sebagian pelaku kekerasan berat memiliki gangguan fungsi kepribadian, terutama pada aspek identitas, pengarahan diri, empati, dan kemampuan membangun hubungan yang sehat (APA, 2022). Penelitian menemukan bahwa pelaku sering menunjukkan empati yang rendah, kebutuhan tinggi untuk mengontrol pasangan, kecenderungan mengeksploitasi orang lain, sulit menerima penolakan, serta menggunakan intimidasi sebagai strategi menyelesaikan konflik (Day et al., 2025).

Namun demikian, karakteristik tersebut tidak otomatis berarti pelaku mengalami gangguan kepribadian. Diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan psikologi forensik dan psikiatri secara menyeluruh.

Ciri Antisosial dan Rendahnya Empati


Sebagian pelaku juga memperlihatkan karakteristik yang beririsan dengan ciri antisosial, seperti melanggar hak orang lain, manipulatif, minim rasa bersalah, dan rendah empati (Meloy & Hoffmann, 2021). Pada kondisi ini, penderitaan korban tidak lagi menjadi penghambat munculnya perilaku agresif.

Agresi sebagai Alat untuk Mengontrol


Tidak semua kekerasan terjadi karena pelaku kehilangan kontrol emosi. Dalam psikologi dikenal adanya agresi instrumental, yaitu kekerasan yang dilakukan secara sadar sebagai alat mencapai tujuan tertentu, misalnya membuat korban takut, patuh, dan tidak berani meninggalkan hubungan (Anderson & Bushman, 2002). Pada kasus yang berlangsung bertahun-tahun disertai penyekapan, pola ini lebih mungkin dibandingkan sekadar ledakan emosi sesaat.

Pengalaman Masa Kecil dan Pembelajaran Sosial


Perilaku agresif juga dapat dipelajari dari lingkungan. Individu yang tumbuh dalam keluarga dengan kekerasan atau terbiasa melihat kekerasan sebagai cara menyelesaikan konflik memiliki risiko lebih tinggi menjadi pelaku pada masa dewasa (Bandura, 1977; Capaldi et al., 2012). Namun, penting dipahami bahwa pengalaman masa kecil bukanlah pembenaran terhadap tindakan kekerasan. Banyak individu dengan riwayat serupa tetap mampu membangun hubungan yang sehat.

Apakah Pelaku Pasti Mengalami Gangguan Jiwa?


Jawabannya adalah belum tentu.
Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat adalah menganggap setiap pelaku kekerasan pasti mengalami gangguan jiwa. Padahal, sebagian besar pelaku kekerasan dalam hubungan tetap mampu bekerja, berinteraksi secara sosial, dan memahami konsekuensi hukum dari tindakannya.

Oleh karena itu, informasi dari media tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami psikopati, gangguan kepribadian antisosial, atau gangguan kejiwaan lainnya. Penegakan diagnosis hanya dapat dilakukan melalui asesmen psikologi forensik yang komprehensif sesuai standar ilmiah (APA, 2022).

Untuk itu untuk memastikan jenis gangguan/profil kepribadian perilaku perlu dilakukan asesmen yang mendalam oleh psikolog dan psikiater

Dampak Kekerasan Pada Pelaku


Pertanyaan netizen di media sosial adalah kenapa dia tidak melawan? Kenapa tidak lari? Ini tentu saja bisa dijelaskan oleh korban, namun dalam kasus-kasus berpacaran banyak korban yang tidak bisa melawan karena alasan berikut :

1) Manipulasi Siklus Kekerasan: Pelaku sering memutarbalikkan fakta, melontarkan ancaman, atau membatasi ruang gerak, yang kemudian diikuti oleh permintaan maaf manis untuk membuat korban merasa bersalah atau kasihan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Kisah Rofi, Anak Pedagang...
Kisah Rofi, Anak Pedagang Ikan Keliling yang Lolos SNBP dan Kuliah di UGM
Mantan ART Gugat Erin...
Mantan ART Gugat Erin Wartia Rp1 Miliar, Ungkap Alasan di Baliknya
Erin Wartia Buka Suara...
Erin Wartia Buka Suara soal Ajakan Damai Mantan ART, Singgung Gugatan Rp1,1 Miliar
Rekomendasi
Dewan Eropa Tuding FIFA...
Dewan Eropa Tuding FIFA Buka Pintu Kecurangan
Jambret Bercelurit Ditangkap...
Jambret Bercelurit Ditangkap Petugas Dishub di CFD Rasuna Said, 1 Pelaku Kabur
Produksi CPO RI Capai...
Produksi CPO RI Capai 53 Juta Ton, Hilirisasi Sawit Perlu Dipercepat
Berita Terkini
Pemerintah Bangun Ekosistem...
Pemerintah Bangun Ekosistem Pendidikan Berkualitas lewat Revitalisasi Sekolah
Seskab Teddy dan Menteri...
Seskab Teddy dan Menteri Ara Sirait Bahas Target Bedah 400.000 Rumah
APH Didorong Usut Tuntas...
APH Didorong Usut Tuntas Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus
Sekjen PKS: Pemilih...
Sekjen PKS: Pemilih Muda Jadi Kunci, Kader Harus Siap Menangkan Pemilu 2029
Viral Dua WNI Diduga...
Viral Dua WNI Diduga Disekap di Myanmar, Polri Lakukan Koordinasi
DPR Minta KPK Transparan...
DPR Minta KPK Transparan Usut Kasus Dugaan Gratifikasi Menhut
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved