Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?

Senin, 15 Juni 2026 - 12:51 WIB
loading...
A A A
Jika sanksi dicabut, maka minyak Iran kembali mengalir ke pasar global, dan investasi asing mulai masuk, maka Republik Islam Iran akan memperoleh legitimasi baru yang selama ini sulit diraih. Rezim dapat mengklaim bahwa revolusi yang lahir pada 1979 akhirnya mampu memenuhi janji kesejahteraan kepada rakyatnya. Namun, sejarah mengajarkan bahwa tidak ada kemenangan geopolitik yang bersifat permanen.

Kesepakatan yang sedang dirundingkan hari ini bisa menjadi fondasi perdamaian baru. Tetapi ia juga bisa menjadi jeda sebelum konflik berikutnya meledak. Banyak hal masih belum jelas: masa berlaku kesepakatan, tingkat pengayaan uranium yang diizinkan, mekanisme inspeksi, hingga klausul yang memungkinkan Iran kembali memperluas programnya di masa depan.

Memang, perang hari ke-103 telah menghasilkan satu kenyataan baru: Iran berhasil mengubah dirinya dari objek tekanan menjadi subjek negosiasi. Bagi Dunia Selatan, khususnya Indonesia, pelajaran ini penting.

Dalam sistem internasional yang masih didominasi oleh kekuatan besar, negara-negara berkembang sering diposisikan sebagai penerima keputusan, bukan pembuat keputusan. Iran menunjukkan bahwa posisi tersebut dapat digeser, meskipun dengan biaya yang sangat mahal.

Namun, ada pertanyaan yang lebih besar yang harus diajukan. Apakah tujuan akhir politik internasional adalah memenangkan negosiasi, atau menyelamatkan manusia? Sebab di balik setiap kesepakatan yang sedang dirancang, di balik setiap kalkulasi geopolitik yang canggih, terdapat jutaan warga biasa yang selama lebih dari seratus hari hidup di bawah bayang-bayang perang.

Mereka tidak fasih berbicara tentang sentrifugal, Hormuz, atau leverage strategis. Mereka, tak diragukan, hanya ingin hidup yang aman dengan keluarganya. Dan mungkin, pungkasannya, itulah ukuran kemenangan perang yang sejati.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perang Berkepanjangan...
Perang Berkepanjangan AS Vs Iran, Indonesia Wajib Perkuat Ketahanan Nasional dan Diplomasi Strategis
Siapa dan Apa yang Mempengaruhi...
Siapa dan Apa yang Mempengaruhi Trump untuk Menghentikan Perang Iran?
2 Hari Tanpa Serangan...
2 Hari Tanpa Serangan AS, Iran: Strategi Kami Adalah Pembalasan
Korsel Terjunkan Robot...
Korsel Terjunkan Robot PiBot untuk Kemudikan Kapal Perang
Rekomendasi
Meski Wilayahnya Dicaplok...
Meski Wilayahnya Dicaplok Zionis, Presiden Suriah Tidak Tertarik Perang Melawan Israel
KONI Pusat Yakin Indonesia...
KONI Pusat Yakin Indonesia Cycling Mampu Berprestasi di Asian Games 2026
906 Atlet dari 29 Provinsi...
906 Atlet dari 29 Provinsi Adu Akurasi di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026
Berita Terkini
Kabar Duka, Mantan Dubes...
Kabar Duka, Mantan Dubes Prof Bachtiar Aly Meninggal Dunia
Prabowo, Jokowi, SBY...
Prabowo, Jokowi, SBY Kompak Hadiri Pernikahan Putra Boy Thohir
Hasto Singgung Febrie...
Hasto Singgung Febrie Tak Diborgol: Peringatkan Bahaya Ketidakadilan Hukum
Hari Mangrove Sedunia,...
Hari Mangrove Sedunia, Pemerintah dan APHI Dorong Pengelolaan Berkelanjutan
Prabowo Bentuk 7 Kejari...
Prabowo Bentuk 7 Kejari Baru Lewat Perpres 40 Tahun 2026, Raja Ampat hingga Pangandaran Masuk Daftar
Indonesia Dorong Dewan...
Indonesia Dorong Dewan Keamanan PBB Perkuat Pencegahan Konflik-ASEAN dan Jadi Mitra Perdamaian
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved