Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?

Senin, 15 Juni 2026 - 12:51 WIB
loading...
Perang Iran: Dari Bertahan...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Ridwan al-Makassary
Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.

SERATUS tiga hari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengubah banyak hal, termasuk cara pandang. Yang paling menarik dibicarakan bukanlah tentang berapa jumlah rudal yang telah ditembakkan, berapa kapal tanker yang sudah diblokade di Selat Hormuz, atau berapa kali ancaman pemusnahan yang telah diumbar dari podium-podium kekuasaan. Saat ini, yang paling penting dicermati justru adalah perubahan cara Iran memandang dirinya sendiri.

Di awal perang berkecamuk, banyak pengamat mempercayai bahwa Iran hanya berusaha untuk bertahan hidup dari gempuran militer terkuat di dunia. Dalam logika konflik asimetris, bertahan saja sudah dianggap sebagai kemenangan. Negara yang tidak runtuh, tidak menyerah, dan tidak kehilangan rezimnya setelah dekapitasi (tumbangnya pimpinan tertinggi) dianggap berhasil menang melawan kekuatan yang lebih besar. Karena menang secara militer terhadap AS adalah tidak mungkin.

Namun, memasuki hari ke-103, narasi itu tampaknya telah bergeser. Iran kini tidak lagi berbicara sekadar tentang strategi bertahan. Bahkan, Teheran mulai berbicara tentang masa depan kawasan. Perubahan ini terlihat jelas dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan pemerintahan Donald Trump. Ironisnya, presiden Trump yang pada 2018 menghancurkan perjanjian nuklir warisan Barack Obama kini tampak berupaya memperoleh kesepakatan yang substansinya tidak jauh berbeda dengan perjanjian yang dulu ia kecam habis-habisan tersebut.

Di sinilah paradoks sejarah bekerja. Perang yang dimaksudkan untuk memaksa Iran tunduk dan menyerah justru menghasilkan ruang tawar yang lebih luas bagi Teheran. Ultimatum lima belas poin yang dikirim Washington pada awal konflik perlahan kehilangan taringnya. Program rudal balistik yang sebelumnya menjadi syarat utama nyaris menghilang dari meja perundingan.

Hubungan Iran dengan kelompok-kelompok sekutunya atau poros perlawanan di Lebanon, Irak, dan Yaman tidak lagi menjadi fokus utama. Bahkan, pembahasan program nuklir harus didahului oleh isu pembukaan Selat Hormuz dan pelonggaran tekanan ekonomi.

Dengan kata lain, medan perang telah mengubah posisi tawar. Selama bertahun-tahun, Barat membayangkan bahwa sanksi ekonomi dan tekanan militer akan memaksa Iran menerima syarat-syarat yang ditentukan Washington. Namun, perang ini memperlihatkan kenyataan yang lebih rumit. Iran berhasil memanfaatkan geografi sebagai senjata politik. Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah urat nadi ekonomi global.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
4 Respons Cepat Akibat...
4 Respons Cepat Akibat Perang Iran dan AS Berakhir, Pasar Saham Bergairah dan Harga Minyak Turun
Trump Marahi Netanyahu:...
Trump Marahi Netanyahu: 'Mengapa Harus Lakukan Serangan Sialan Itu?'
Kapten Iran: Perang...
Kapten Iran: Perang Merampas Euforia Piala Dunia 2026
Rekomendasi
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
Pengembangan CBG Perkuat...
Pengembangan CBG Perkuat Transisi dan Kemandirian Energi Nasional
Dukung Program MBG Dilanjutkan,...
Dukung Program MBG Dilanjutkan, Akademisi: Bermanfaat bagi Anak dan Masyarakat
Berita Terkini
Ketua Dewan Pers Komaruddin...
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Tekankan Sikap Kritis dan Konstruktif Media Massa
Kepala BPOM: Masa Depan...
Kepala BPOM: Masa Depan Indonesia Ditentukan SDM Unggul, Bukan Lagi Kekayaan SDA
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Demokrat Ajak Semua...
Demokrat Ajak Semua Elemen Bangsa Jaga Ruang Publik yang Kondusif dan Beradab
Gugatan CLS terkait...
Gugatan CLS terkait Ijazah Wapres Gibran Lanjut ke Pemeriksaan Pokok Perkara
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved