Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?

Senin, 15 Juni 2026 - 06:46 WIB
loading...
A A A
Ada pandangan tandingan yang perlu dihormati, seperti pemerintah jangan terlalu tunduk pada pasar (atau oligarki). Indonesia adalah negara besar, memiliki sumber daya alam, pasar domestik yang luas, dan agenda pembangunan yang tidak boleh disandera oleh investor jangka pendek. Argumen ini benar. Tetapi menolak tunduk pada pasar berbeda dengan menolak membaca sinyal pasar. Kedaulatan ekonomi bukan berarti kebal terhadap arus modal, nilai tukar dan biaya sosial. Justru negara yang berdaulat harus mampu menjaga agar agenda sosialnya tidak runtuh karena hal itu menimbulkan biaya kepercayaan yang terlalu mahal.

Karena itu, solusi tidak boleh semata-mata bersifat teknokratis. BI memang perlu menjaga stabilitas rupiah melalui suku bunga, intervensi valas dan instrumen pasar uang. BI telah menaikkan BI-Rate kembali menjadi 5,50 persen pada Juni 2026. Namun, kebijakan moneter hanya “mengulur waktu” jika akar masalahnya belum teratasi. Masalahnya adalah keraguan pasar terhadap arah fiskal dan kebijakan ekonomi yang berisiko tinggi. Pemerintah harus menunjukkan disiplin belanja, transparansi pembiayaan dan keberanian untuk mengevaluasi ulang program MBG dan KDMP yang diduga banyak mengalami kebocoran dan kurang efektif.

Sementara itu, kenaikan mendadak BBM jenis Pertamax 92 sebesar hampir 30 persen juga dinilai mengurangi daya beli kelas menengah yang sudah terbebani oleh pelemahan rupiah dan meningkatnya beban bunga. Kebijakan ini terbukti memicu demonstrasi mahasiswa di berbagai kota. Dalam situasi penuh kegelisahan rakyat ini, pemerintah perlu membangun pagar sosial sebelum volatilitas ekonomi berubah menjadi gejolak sosial-politik di masyarakat. Bantuan sosial harus tepat sasaran dan segera diberikan. Stabilitas pangan harus dijaga dengan data stok yang akurat, bukan sekadar operasi pasar simbolik. Dunia usaha perlu diberi kepastian aturan agar tidak menunda investasi. Serikat pekerja dan asosiasi bisnis harus diajak bicara sebelum tekanan berubah menjadi konflik terbuka. Dalam krisis kepercayaan, komunikasi bukan sekadar kosmetik karena merupakan bagian dari kebijakan.

Indonesia tidak sedang menuju krisis hanya karena rupiah melemah, IHSG jatuh dan BBM semakin mahal. Namun, Indonesia bisa menciptakan krisis jika meremehkan dampaknya secara sosial-politik. Pasar menjual aset karena adanya keraguan. Masyarakat bisa kehilangan kepercayaan karena merasa ditinggalkan. Tugas pemerintah dan BI hari ini bukan sekadar menghentikan “Sell Indonesia”, melainkan mencegahnya berubah menjadi “Distrust Indonesia”. Sebab ketika ekonomi kehilangan kepercayaan, kekuasaan biasanya tidak lama kemudian kehilangan legitimasi.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
IHSG Dibuka Melesat...
IHSG Dibuka Melesat 1,85% ke 6.118, Mayoritas Saham Menghijau
IHSG Besok Berpeluang...
IHSG Besok Berpeluang Lanjut Reli ke Level 6.100, Intip Faktor Pendongkraknya
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Rekomendasi
Kena PHK Dapat Uang...
Kena PHK Dapat Uang Tunai 60% dari Gaji selama 6 Bulan, Ini Syaratnya
Kisah Yasin Ayari dan...
Kisah Yasin Ayari dan Gol Perdana Swedia di Piala Dunia Setelah 2.893 Hari
Ruben Onsu Syok Lihat...
Ruben Onsu Syok Lihat Betrand Peto Menangis, Siap Ajak Onyo Bicara dari Hati ke Hati
Berita Terkini
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman...
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman Sepakat Konflik Harus Diselesaikan lewat Perundingan
Selain Bos Maktour,...
Selain Bos Maktour, KPK Panggil Tiga Saksi Lain Kasus Kuota Haji
Pertemuan Prabowo dengan...
Pertemuan Prabowo dengan Steinmeier Perkuat 75 Tahun Diplomatik Indonesia-Jerman
Ketua Dewan Pers Komaruddin...
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Tekankan Sikap Kritis dan Konstruktif Media Massa
Kepala BPOM: Masa Depan...
Kepala BPOM: Masa Depan Indonesia Ditentukan SDM Unggul, Bukan Lagi Kekayaan SDA
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved