Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?

Senin, 15 Juni 2026 - 06:46 WIB
loading...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute. Foto: Istimewa
A A A
Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute

“Sell Indonesia” tidak boleh dibaca hanya sebagai aksi jual di pasar saham dan obligasi saja. Ia adalah sinyal sosial-politik yang datang dari jantung ekonomi. Ketika rupiah melemah, IHSG tertekan, dan investor asing menarik dana, yang terguncang bukan hanya grafik di layar broker. Yang ikut bergetar adalah harga pangan, ongkos produksi, rasa aman kelas menengah, keberanian pelaku usaha untuk membuka lapangan kerja dan pada akhirnya, mulai lunturnya kepercayaan publik kepada negara.

Di sinilah masalahnya menjadi serius. Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada triwulan I-2026 menurut BPS, tetapi angka pertumbuhan yang baik tidak otomatis meredakan kegelisahan jika pasar membaca arah kebijakan fiskal, moneter dan regulasi yang kurang konsisten. Reuters bahkan menggambarkan tekanan pasar Indonesia sebagai krisis kepercayaan investor, dengan kekhawatiran atas perubahan kebijakan, pelemahan mata uang, tekanan terhadap saham dan meningkatnya risiko tata kelola. Narasi seperti ini boleh saja diperdebatkan, tetapi tidak boleh diremehkan. Pasar mungkin sering bereaksi berlebihan (overreaction), namun pasar juga memberi sinyal tentang kepercayaan.

Rupiah yang melemah bekerja seperti pajak tersembunyi. Tidak ada pengumuman kenaikan tarif, tetapi dampaknya terasa di dapur rumah tangga. Bahan pangan berbasis impor, bahan baku obat, komponen elektronik, mesin industri, energi, perawatan kendaraan dan input produksi menjadi lebih mahal. Awalnya produsen berupaya menahan harga. Setelah itu, margin tergerus. Bila tekanan berlanjut, harga terpaksa dinaikkan, perekrutan karyawan ditunda, lembur dikurangi, bahkan efisiensi tenaga kerja mulai dibahas. Pada titik ini, kurs dan suku bunga bukan lagi urusan elit pasar uang. Ia menjadi urusan buruh pabrik, pengojek, pedagang kecil, ibu rumah tangga hingga anak muda pencari kerja.

IHSG yang jatuh juga tidak hanya melukai investor kaya. Perlu diingat, kelas menengah di Indonesia semakin banyak yang menyimpan dana di reksa dana, saham, dana pensiun, asuransi dan produk keuangan lainnya. Ketika nilai aset turun, kerugian mendera dan rasa aman ikut menurun. Konsumsi ditahan, pembelian rumah ditunda. Rencana pendidikan anak dihitung ulang. Dalam ekonomi modern, ekspektasi adalah bahan bakar. Ketika ekspektasi memburuk, masyarakat tidak selalu langsung miskin, tetapi mereka mulai bersikap seolah-olah sedang menghadapi krisis. Itu cukup untuk memperlambat ekonomi.

Dampak sosial-politiknya muncul dalam tiga lapisan. Pertama, tekanan harga menciptakan kemarahan yang tersimpan diam-diam. Publik mungkin tidak memahami neraca pembayaran, tetapi mereka memahami harga beras, telur, transportasi dan cicilan. Kedua, tekanan kerja memperbesar kecemasan. Anak muda yang sulit mendapatkan pekerjaan akan lebih mudah kehilangan kepercayaan terhadap ekspektasi pertumbuhan. Ketiga, ketidakpastian kebijakan akan melemahkan legitimasi. Ketika pemerintah tampak sering mengubah aturan, sementara BI dipersepsikan harus menanggung beban stabilisasi sendirian, publik mulai bertanya: siapa sebenarnya yang mengendalikan keadaan?

Risiko instabilitas tidak selalu muncul dalam bentuk ledakan besar. Ia bisa muncul sebagai fragmentasi kepercayaan: demonstrasi mahasiswa, keresahan ibu rumah tangga, kemarahan digital, penolakan terhadap kebijakan, tekanan serikat pekerja, penurunan kepatuhan pajak, atau meningkatnya sentimen anti-elit. Dalam masyarakat yang semakin terkoneksi, kenaikan harga kecil dapat menjadi isu politik besar bila dibingkai sebagai bukti bahwa negara tidak hadir. Media sosial akan mempercepat proses tersebut. Kecemasan ekonomi yang dahulu berhenti di meja makan kini dapat berubah menjadi opini publik nasional, bahkan internasional, dalam hitungan jam.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
IHSG Senin Depan Diprediksi...
IHSG Senin Depan Diprediksi Lanjut Koreksi, Cermati Area 6.074-6.146
Sepekan ke Depan, Rupiah...
Sepekan ke Depan, Rupiah Masih Akan Dibayangi Tekanan
IHSG Naik 0,34% dalam...
IHSG Naik 0,34% dalam Sepekan, Ini Daftar Saham Cuan dan Rugi Terbesar
Rekomendasi
10 Pesepak Bola dengan...
10 Pesepak Bola dengan Kenaikan Followers Instagram Terbanyak Selama Piala Dunia 2026
Pakar Asal AS Ini Yakin...
Pakar Asal AS Ini Yakin Rusia Dijamin Memenangkan Perang Ukraina, Ini 4 Alasannya
AS: Turki Belum Memenuhi...
AS: Turki Belum Memenuhi Syarat untuk Memiliki Jet Tempur Siluman F-35
Berita Terkini
Menlu Sugiono Bertemu...
Menlu Sugiono Bertemu Menteri Palestina, Tegaskan Dukungan Kemerdekaan dan Rekonstruksi Gaza
Minta Maaf ke Presiden,...
Minta Maaf ke Presiden, Febrie Adriansyah Akan Buktikan Kebenaran Sesuai Fakta Hukum
Londo Ireng di Republik...
Londo Ireng di Republik Antikritik
KPK Geledah Rumah Kadis...
KPK Geledah Rumah Kadis PUPR Bengkulu, Sita Uang Rp4 Miliar
Royal Dinner UKSW, Sultan...
Royal Dinner UKSW, Sultan Ternate ke-49 Desak Sahkan RUU Masyarakat Adat
Presiden Prabowo Dijadwalkan...
Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved