Menjaga Kampus Tetap Relevan Tanpa Menjadi 'Pabrik'
Jum'at, 12 Juni 2026 - 16:11 WIB
loading...
A
A
A
Akibatnya sangat mungkin terjadi, seleksi yang sesungguhnya tidak terjadi. Calon mahasiswa yang diterima di bawah kualitas minimal.
Dosen dipaksa bekerja keras “mengubah” kondisi yang “tidak bagus” menjadi “lumayan” ketika mereka lulus. Proses pembelajaran yang melelahkan, terjadi.
Tidak semata mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Syarat kampus sebagai “pabrik” tampaknya tidak memenuhi untuk kriteria ini. Proses “memanusiakan manusia” tidak dapat disetarakan dengan pabrik penghasil produk.
Kedua, proses yang dijalankan dalam menghasilkan produk juga harus memenuhi standar yang diakui dunia industri. Banyak kampus mengikuti standar ISO atau sertifikasi lainnya. Atau minimal akreditasi yang dipersyaratkan oleh pemerintah melalui BAN (Badan Akreditasi Nasional) dan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM).
Cara kerja perguruan tinggi berproses seperti layaknya sebuah industri dalam arti umum, tidak selalu identik dengan lembaga pendidikan konvensional yang penuh pengabdian dan dedikasi.
Ketiga, kendali kualitas (quality control/qc) harus dijalankan sebelum produk “dilempar” ke pasar. Produk jadi yang dianggap tidak memenuhi standar, harus dibuang.
Rasanya tidak ada perguruan tinggi yang “setega” ini. Mahasiswa dibantu semaksimal mungkin agar mereka dapat lulus dengan memenuhi segala persyaratan, yang minimal sekalipun. Bahkan seperti cerita di awal, kampus tetap “ngejagain” lulusannya agar cepat memperoleh pekerjaan yang layak dan sesuai.
Dosen dipaksa bekerja keras “mengubah” kondisi yang “tidak bagus” menjadi “lumayan” ketika mereka lulus. Proses pembelajaran yang melelahkan, terjadi.
Tidak semata mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Syarat kampus sebagai “pabrik” tampaknya tidak memenuhi untuk kriteria ini. Proses “memanusiakan manusia” tidak dapat disetarakan dengan pabrik penghasil produk.
Kedua, proses yang dijalankan dalam menghasilkan produk juga harus memenuhi standar yang diakui dunia industri. Banyak kampus mengikuti standar ISO atau sertifikasi lainnya. Atau minimal akreditasi yang dipersyaratkan oleh pemerintah melalui BAN (Badan Akreditasi Nasional) dan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM).
Cara kerja perguruan tinggi berproses seperti layaknya sebuah industri dalam arti umum, tidak selalu identik dengan lembaga pendidikan konvensional yang penuh pengabdian dan dedikasi.
Ketiga, kendali kualitas (quality control/qc) harus dijalankan sebelum produk “dilempar” ke pasar. Produk jadi yang dianggap tidak memenuhi standar, harus dibuang.
Rasanya tidak ada perguruan tinggi yang “setega” ini. Mahasiswa dibantu semaksimal mungkin agar mereka dapat lulus dengan memenuhi segala persyaratan, yang minimal sekalipun. Bahkan seperti cerita di awal, kampus tetap “ngejagain” lulusannya agar cepat memperoleh pekerjaan yang layak dan sesuai.
Lihat Juga :