Menjaga Kampus Tetap Relevan Tanpa Menjadi 'Pabrik'
Jum'at, 12 Juni 2026 - 16:11 WIB
loading...
A
A
A
Keempat, pabrik selaku produsen harus siap menerima umpan balik (feed back) dari pengguna. Maka, layanan pelanggan harus disediakan.
Karena perguruan tinggi zaman sekarang harus cepat beradaptasi dengan perkembangan terkini, maka selalu mendengar apa kata “pasar” adalah jalan terbaik. Aspirasi mahasiswa, alumni dan perusahaan selaku mitra, tidak dapat diabaikan.
Kelima, karena pabrik berproduksi sesuai permintaan pasar, maka jika produk dianggap tidak lagi diperlukan, karena tren telah berubah, maka tidak menutup kemungkinan untuk menghentikan atau mengganti dengan produk baru lain, dengan konsekuensi, mengubah proses produksi lama yang biasa dijalankan.
Jika kampus sepenuhnya menjalankan proses itu, memang layak disebut sebagai pabrik. Jika tidak, karena ada hal-hal tertentu di luar itu, karena menyangkut penyiapan sumber daya manusia yang unggul, maka kampus tak pantas disebut sebagai pabrik tenaga kerja. Memperlakukan manusia seperti barang, tentu di luar kepatutan.
Maka “lagu” lama yang harus dijalankan adalah menjaga agar kampus tetap relevan dengan perkembangan zaman. Kurikulum harus cepat beradaptasi, bukan program studinya yang ditutup. Entah apa sering kali langkah tergesa sering dilakukan, karena tidak mau menjalani proses yang mungkin panjang dan kadang berliku.
Mengelola dunia pendidikan bukan seperti mengelola industri yang semata mengikuti permintaan pasar. Apalagi menyangkut eksistensi sumber daya manusia yang menentukan nasib satu bangsa dan negara. Kebijakan dan kebijaksanaan patut berjalan seiring. Masa depan bangsa ini dipertaruhkan.
Karena perguruan tinggi zaman sekarang harus cepat beradaptasi dengan perkembangan terkini, maka selalu mendengar apa kata “pasar” adalah jalan terbaik. Aspirasi mahasiswa, alumni dan perusahaan selaku mitra, tidak dapat diabaikan.
Kelima, karena pabrik berproduksi sesuai permintaan pasar, maka jika produk dianggap tidak lagi diperlukan, karena tren telah berubah, maka tidak menutup kemungkinan untuk menghentikan atau mengganti dengan produk baru lain, dengan konsekuensi, mengubah proses produksi lama yang biasa dijalankan.
Jika kampus sepenuhnya menjalankan proses itu, memang layak disebut sebagai pabrik. Jika tidak, karena ada hal-hal tertentu di luar itu, karena menyangkut penyiapan sumber daya manusia yang unggul, maka kampus tak pantas disebut sebagai pabrik tenaga kerja. Memperlakukan manusia seperti barang, tentu di luar kepatutan.
Maka “lagu” lama yang harus dijalankan adalah menjaga agar kampus tetap relevan dengan perkembangan zaman. Kurikulum harus cepat beradaptasi, bukan program studinya yang ditutup. Entah apa sering kali langkah tergesa sering dilakukan, karena tidak mau menjalani proses yang mungkin panjang dan kadang berliku.
Mengelola dunia pendidikan bukan seperti mengelola industri yang semata mengikuti permintaan pasar. Apalagi menyangkut eksistensi sumber daya manusia yang menentukan nasib satu bangsa dan negara. Kebijakan dan kebijaksanaan patut berjalan seiring. Masa depan bangsa ini dipertaruhkan.
(shf)
Lihat Juga :