IHSG, Rupiah, dan Ujian Ketahanan Ekonomi Nasional
Rabu, 13 Mei 2026 - 06:40 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, pendekatan yang terlalu alarmistik justru berisiko menciptakan distorsi persepsi publik dan memperburuk sentimen pasar secara tidak perlu. Yang dibutuhkan saat ini bukan kepanikan, melainkan kejujuran membaca tantangan secara lebih dewasa.
Kita perlu mengakui bahwa struktur ekonomi Indonesia hingga saat ini masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi pada ekspor berbasis komoditas, impor bahan baku dan teknologi, serta aliran dana asing portofolio yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga global. Dalam kondisi eksternal yang bergejolak, struktur seperti ini membuat perekonomian nasional lebih rentan terhadap tekanan dari luar.
Dalam lanskap global yang semakin terfragmentasi, diwarnai perang dagang, tensi geopolitik energi, dan ketidakpastian arah suku bunga The Fed, model pertumbuhan ekonomi seperti ini menghadapi tantangan yang kian kompleks. Namun, tekanan eksternal juga bisa menjadi momentum koreksi strategis.
Indonesia perlu mempercepat agenda transformasi ekonomi yang lebih substantif: bukan sekadar mengejar pertumbuhan angka, tetapi membangun ketahanan ekonomi jangka panjang.
Ada beberapa langkah penting yang perlu diprioritaskan.
Pertama, memperkuat industrialisasi berbasis nilai tambah domestik. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada ekspor semi-finished goods, tetapi harus mendorong pembentukan ekosistem manufaktur nasional yang lebih dalam.
Kedua, memperluas basis investor domestik dan memperdalam pasar keuangan nasional. Selama struktur pasar terlalu bergantung pada aliran dana asing jangka pendek, volatilitas akan terus menjadi persoalan berulang.
Kita perlu mengakui bahwa struktur ekonomi Indonesia hingga saat ini masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi pada ekspor berbasis komoditas, impor bahan baku dan teknologi, serta aliran dana asing portofolio yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga global. Dalam kondisi eksternal yang bergejolak, struktur seperti ini membuat perekonomian nasional lebih rentan terhadap tekanan dari luar.
Dalam lanskap global yang semakin terfragmentasi, diwarnai perang dagang, tensi geopolitik energi, dan ketidakpastian arah suku bunga The Fed, model pertumbuhan ekonomi seperti ini menghadapi tantangan yang kian kompleks. Namun, tekanan eksternal juga bisa menjadi momentum koreksi strategis.
Indonesia perlu mempercepat agenda transformasi ekonomi yang lebih substantif: bukan sekadar mengejar pertumbuhan angka, tetapi membangun ketahanan ekonomi jangka panjang.
Ada beberapa langkah penting yang perlu diprioritaskan.
Pertama, memperkuat industrialisasi berbasis nilai tambah domestik. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada ekspor semi-finished goods, tetapi harus mendorong pembentukan ekosistem manufaktur nasional yang lebih dalam.
Kedua, memperluas basis investor domestik dan memperdalam pasar keuangan nasional. Selama struktur pasar terlalu bergantung pada aliran dana asing jangka pendek, volatilitas akan terus menjadi persoalan berulang.