IHSG, Rupiah, dan Ujian Ketahanan Ekonomi Nasional
Rabu, 13 Mei 2026 - 06:40 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, memperkuat kualitas institusi ekonomi. Kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, dan kredibilitas tata kelola menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar jangka panjang.
Keempat, memperbesar investasi pada riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Ketahanan ekonomi modern tidak hanya dibangun dari cadangan devisa, tetapi juga dari kapasitas inovasi nasional.
Dalam konteks ini, kritik terhadap struktur ekonomi seharusnya tidak dipahami sebagai pesimisme terhadap Indonesia. Sebaliknya, kritik diperlukan agar negara tidak terjebak pada rasa puas semu ketika indikator makro terlihat stabil di permukaan, padahal fondasi produktivitas jangka panjang belum cukup kuat.
Ekonomi yang sehat bukan ekonomi yang tidak pernah mengalami tekanan. Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang memiliki kapasitas beradaptasi, memperbaiki kelemahan struktural, dan membangun daya tahan secara berkelanjutan.
Karena itu, pelemahan IHSG dan Rupiah saat ini sebaiknya dibaca bukan sebagai pertanda kiamat ekonomi, melainkan sebagai pengingat bahwa agenda transformasi struktural Indonesia belum selesai.
Di tengah perubahan ekonomi global yang semakin keras, kemampuan membaca risiko secara jernih sekaligus menjaga optimisme rasional akan menjadi faktor penting bagi masa depan ekonomi nasional.
Keempat, memperbesar investasi pada riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Ketahanan ekonomi modern tidak hanya dibangun dari cadangan devisa, tetapi juga dari kapasitas inovasi nasional.
Dalam konteks ini, kritik terhadap struktur ekonomi seharusnya tidak dipahami sebagai pesimisme terhadap Indonesia. Sebaliknya, kritik diperlukan agar negara tidak terjebak pada rasa puas semu ketika indikator makro terlihat stabil di permukaan, padahal fondasi produktivitas jangka panjang belum cukup kuat.
Ekonomi yang sehat bukan ekonomi yang tidak pernah mengalami tekanan. Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang memiliki kapasitas beradaptasi, memperbaiki kelemahan struktural, dan membangun daya tahan secara berkelanjutan.
Karena itu, pelemahan IHSG dan Rupiah saat ini sebaiknya dibaca bukan sebagai pertanda kiamat ekonomi, melainkan sebagai pengingat bahwa agenda transformasi struktural Indonesia belum selesai.
Di tengah perubahan ekonomi global yang semakin keras, kemampuan membaca risiko secara jernih sekaligus menjaga optimisme rasional akan menjadi faktor penting bagi masa depan ekonomi nasional.
(rca)