Menerapkan Cukai MBDK 2026: Menyelamatkan Masa Depan Anak Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 - 06:18 WIB
loading...
A A A
Selanjutnya Meksiko (2014), konsumsi MBDK turun 12% dan penurunan terbesar terjadi di kalangan kelompok miskin perkotaan. Filipina (2018), lewat Train Law konsumsi turun 22% dalam setahun. Filipina tidak jauh beda dengan kita bisa.

Afrika Selatan (2018), gula dalam minuman berkurang 29%. Bisa dicapai tanpa menunggu konsumen berubah. Produsen yang berubah duluan. Singapura (2022), dengan sistem label Nutri-Grade dan larangan iklan, 50% produk menurunkan kadar gula sebelum regulasi diberlakukan penuh. Chile (2016), dengan label peringatan hitam bergambar dan larangan iklan untuk anak, menghasilkan penurunan pembelian minuman tinggi gula sebesar 23,7% dalam 18 bulan.

Pengalaman sukses yang menghasilkan perubahan nyata di atas, bukan kebetulan. Ada pola yang konsisten, regulasi tegas, dan dibarengi edukasi.

Rekomendasi Kebijakan
Pertama, cukai minuman manis. Terapkan tarif berjenjang berdasarkan kadar gula, dengan pendapatan yang dialokasikan secara khusus untuk program gizi dan kesehatan anak. Ini adalah intervensi paling efektif yang telah terbukti di banyak negara. Kedua, label peringatan bergambar yang wajib. Bukan sekadar teks kecil, sulit dibaca di bagian belakang kemasan. Kita butuh logo 'tinggi gula' yang langsung terlihat, seperti di Chile dan Singapura.

Ketiga, larangan iklan MBDK pada jam anak. Anak-anak tidak boleh menjadi target pemasaran produk berbahaya bagi kesehatannya. Keempat, regulasi kantin sekolah. Tetapkan standar wajib kadar gula maksimum untuk produk yang dijual di kantin sekolah dan larangan penjualan MBDK di area sekolah.

Kelima, perkuat kapasitas lembaga pengawas. Terapkan sanksi tegas dan pastikan tidak ada produk tanpa izin edar yang beredar menyasar anak-anak. Keenam, edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Ketujuh, masukkan literasi gizi dan pangan ke dalam kurikulum sekolah.

Kedelapan, perkuat kampanye ”Isi Piringku”, fokus pada pengurangan konsumsi minuman manis. Kesembilan, libatkan secara aktif organisasi profesi kesehatan dan stakeholder lain dalam pelaksanaannya.

Catatan Akhir dan Seruan
Pertama, bukti ilmiah tidak terbantahkan, konsumsi gula berlebih berdampak nyata pada kesehatan anak-anak, jangka pendek maupun seumur hidup. Kedua, anak-anak tidak dapat melindungi diri sendiri dari paparan produk tinggi gula. Negara wajib hadir melalui regulasi yang kuat.

Ketiga, regulasi bukan hambatan bagi industri, melainkan katalis inovasi menuju produk lebih sehat. Terbukti di Inggris, Chile, Afrika Selatan, Singapura, Filipina, dan negara lain. Keempat, Indonesia sudah memiliki banyak regulasi. Tinggal political will dan keberanian untuk implementasi sungguh-sungguh, pengawasan konsisten, koordinasi lintas sektor, memperbaiki atau menutup cela regulasi, dan tidak menunda lagi penerapannya.

Kelima, cela regulasi yang perlu ditutup, antara lain: Cukai khusus MBDK, label peringatan bergambar, larangan iklan pada jam anak-anak menonton, pengaturan penjualan yang ketat dan konsisten di lingkungan sekolah, penegakan hukum terhadap pemanis ilegal, serta pembatasan kadar gula spesifik untuk produk yang dipasarkan kepada anak. Wallahu a'lam bish-shawab.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
Viral Mitos Lemak Berbahaya...
Viral Mitos Lemak Berbahaya untuk MPASI Anak, Ini Penjelasan Dokter!
Peringatan WDHD 2026,...
Peringatan WDHD 2026, Orang Tua Diajak Pahami Kesehatan Saluran Cerna Anak
Rekomendasi
Bangun MIN 5 Pidie Jaya...
Bangun MIN 5 Pidie Jaya yang Hanyut Akibat Banjir, Kemenag Alokasikan Rp12 Miliar
Akhirnya Eropa Izinkan...
Akhirnya Eropa Izinkan Fitur FSD Tesla Digunakan
Pejuang Hizbullah Sergap...
Pejuang Hizbullah Sergap Pasukan Israel di Lebanon
Berita Terkini
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Noel Divonis 4,5 Tahun...
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara, KPK Tidak Ajukan Banding
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Kompolnas Diperkuat...
Kompolnas Diperkuat dalam UU Polri Baru, Boni Hargens Yakin Gagasan Restorasi Kapolri Bakal Terwujud
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Dikritik Akademisi: Melihat Dukungan Manajemen Jangan Sempit
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved