Menerapkan Cukai MBDK 2026: Menyelamatkan Masa Depan Anak Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 - 06:18 WIB
loading...
A A A
Berikut, UU No 17/2023 tentang Kesehatan: Menjamin setiap anak mendapat gizi seimbang dan perlindungan dari produk pangan berbahaya. PP 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan: Mengatur pembatasan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dan memberi amanat pengenaan cukai pada minuman berpemanis (Pasal 194 Ayat 4).

Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2025: Mengamanatkan percepatan penyusunan aturan teknis cukai MBDK. Terakhir, RPJMN 2025–2029: Target penurunan konsumsi gula, garam, lemak.

Mengapa regulasi pembatasan gula sangat penting? Pertama, anak tidak bisa melindungi dirinya sendiri. SKI 2023 menunjukkan 45% lebih anak tidak tahu risikonya. Mereka tidak punya kapasitas kognitif untuk membaca label, mengevaluasi kandungan gizi, serta menolak tekanan iklan yang sangat canggih.

Kedua, industri makanan dan minuman tidak akan sukarela mengurangi kadar gula, karena gula adalah kunci “palatabilitas” produk mereka. Tanpa regulasi, insentif bisnis akan selalu mengalahkan kepentingan kesehatan publik. Ketiga, beban kesehatan nyata. Sekitar 82,8% penduduk mengalami karies, 19,7% anak overweight atau obesitas, dan 11,7% dewasa mengidap diabetes. Ini adalah kondisi yang sebagian besar dapat dicegah.

Keempat, keadilan sosial. SKI 2023 membuktikan bahwa konsumsi minuman manis, lebih tinggi pada kelompok ekonomi bawah, 48,4% dibanding 44% pada kelompok teratas. Kelompok yang paling sedikit akses informasinya adalah paling terpapar. Regulasi adalah instrumen keadilan sosial.

Kelima, regulasi terbukti efektif. Lebih dari 50 negara telah menerapkan cukai MBDK, hasilnya konsisten. Konsumsi turun 10 sampai 30% dalam dua tahun pertama. Ini bukan teori tapi pengalaman nyata dari banyak negara yang sudah melangkah lebih maju.

Belajar dari contoh sukses beberapa negara, mulai dari Inggris. Mengapa Inggris? Karena kebijakannya paling banyak diteliti dan hasilnya paling kuat secara ilmiah.

April 2018, Inggris memberlakukan UK Soft Drinks Industry Levy, cukai minuman manis. Sistemnya berjenjang. Produsen membayar 18 sen pound per liter untuk minuman yang mengandung 5 sampai 8 gram gula per 100 mililiter, dan 24 sen pound per liter untuk yang lebih dari 8 gram gula per 100 mililiter. Hasilnya luar biasa.

Dalam dua tahun pertama, kandungan gula minuman yang beredar turun rata-rata 28,8%. Banyak produsen sudah mereformulasi produknya sebelum pajak berlaku, karena tidak mau terkena tarif tertinggi. Bukti bahwa regulasi bisa menjadi katalis inovasi, bukan hambatan.

Pendapatan dari cukai sekitar 340 juta Pound Sterling per tahun sepenuhnya dialokasikan untuk program olahraga di sekolah. Jadi kembali langsung kepada kesehatan anak-anak. Dan yang paling menyentuh, sebuah studi di Jurnal BMJ 2023 menemukan tingkat obesitas pada anak perempuan usia 10 sampai 11 tahun turun 8% setelah kebijakan ini berlaku. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok berpenghasilan rendah atau kelompok paling rentan.

Mengapa berhasil? Karena sistemnya cerdas, berjenjang berdasarkan kadar gula sehingga memberi insentif untuk reformulasi. Hasil pajaknya earmarked untuk anak, industri diberi waktu persiapan yang cukup, dan dikombinasikan dengan edukasi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
Viral Mitos Lemak Berbahaya...
Viral Mitos Lemak Berbahaya untuk MPASI Anak, Ini Penjelasan Dokter!
Peringatan WDHD 2026,...
Peringatan WDHD 2026, Orang Tua Diajak Pahami Kesehatan Saluran Cerna Anak
Rekomendasi
Ratusan Kepsek di Sulsel...
Ratusan Kepsek di Sulsel Mundur Buntut Temuan BPK Terkait Dana BOS, DPR Dorong Evaluasi
Bangun MIN 5 Pidie Jaya...
Bangun MIN 5 Pidie Jaya yang Hanyut Akibat Banjir, Kemenag Alokasikan Rp12 Miliar
Perikhsa Riders Touring...
Perikhsa Riders Touring Perdana Malang-Bali, Bamsoet Tekankan Disiplin dan Persatuan
Berita Terkini
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Noel Divonis 4,5 Tahun...
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara, KPK Tidak Ajukan Banding
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Kompolnas Diperkuat...
Kompolnas Diperkuat dalam UU Polri Baru, Boni Hargens Yakin Gagasan Restorasi Kapolri Bakal Terwujud
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Dikritik Akademisi: Melihat Dukungan Manajemen Jangan Sempit
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved