Smartwatch di Pergelangan Bangsa: Membaca Indonesia Melalui Heidegger, Merleau-Ponty, dan Simondon
Selasa, 12 Mei 2026 - 19:12 WIB
loading...
A
A
A
Smartwatch yang dipakai bertahun-tahun mengalami nasib serupa. Ia tidak lagi sesuatu yang “kita lihat”, melainkan sesuatu yang “kita rasai melaluinya”. Getaran di pergelangan adalah sensasi, bukan sinyal eksternal. Saya tidak melirik watch untuk tahu saya stres; saya “tahu” saya stres karena watch saya berdenyut dengan cara tertentu. Tubuh saya dan tubuh-teknis di pergelangan saya melebur menjadi satu medan persepsi.
Konsekuensinya tidak melulu negatif, dan di sinilah Merleau-Ponty memberi keseimbangan terhadap Heidegger. Banyak orang Indonesia—terutama generasi yang dibesarkan dalam budaya “kuatkan saja, jangan cengeng”—memang baru mulai mendengarkan tubuhnya lewat alat ini.
Bagi seorang ibu yang seumur hidup mengabaikan jantungnya demi keluarga, notifikasi aritmia bisa benar-benar menyelamatkan nyawa. Bagi seorang anak muda yang tidak pernah belajar mengenali kelelahan emosional, mood log harian bisa menjadi pintu menuju refleksi diri yang lebih dalam.
Tetapi Merleau-Ponty juga memaksa kita bertanya: kalau persepsi-tubuh saya terus-menerus dimediasi oleh algoritma, apakah yang saya rasakan masih “tubuh saya”? Mahasiswa yang merasa baik-baik saja di kelas, lalu cemas setelah melihat skor stres watch-nya tinggi—apakah ia menjadi lebih sadar tubuh, atau justru menjadi pasien dari diagnosis algoritmik?
Di tahun ketika self-diagnosis lewat aplikasi dan media sosial menjadi tren yang diakui Kementerian Kesehatan sebagai bermasalah, pertanyaan ini bukan akademis. Kita berisiko mengalami iatrogenesis algoritmik: cemas karena diberi tahu cemas, sakit karena diberi tahu mungkin sakit.
Simondon: Menolak Dua Dosa Modern
Gilbert Simondon, filsuf Prancis yang baru hangat dibaca lagi belakangan ini, menyumbangkan lensa ketiga yang paling produktif untuk konteks Indonesia. Dalam Du mode d’existence des objets techniques, ia mendiagnosis dua sikap modern yang sama-sama keliru: memandang teknologi sebagai sihir atau musuh di satu sisi, atau memperlakukannya sebagai sekadar budak instrumental di sisi lain. Kedua sikap ini, kata Simondon, sama-sama gagal melihat objek teknis sebagai kenyataan tersendiri yang punya mode keberadaannya sendiri.
Smartwatch, kata Simondon, bukan jin pelayan yang ajaib mengetahui kesehatan kita, dan bukan juga “tirani digital” yang harus ditolak. Ia adalah individu teknis yang hidup dalam milieu asosiatif-nya: sensor optik dan elektroda, algoritma machine learning yang sudah dilatih dengan jutaan titik data, server cloud yang menyimpan riwayat denyut Anda, ekosistem aplikasi pihak ketiga, kontrak data dengan korporasi asing, baterai berbahan lithium yang punya jejak ekologis tersendiri.
Untuk berhubungan dengan benda ini secara sehat, kita perlu apa yang Simondon sebut culture technique: kebudayaan teknis. Bukan kemampuan reparasi, tapi pemahaman tentang mode keberadaan benda yang kita pakai.
Inilah yang kira-kira tidak kita miliki di Indonesia 2026. Pasar wearable kita riuh dengan diskusi estetika (“bezel-nya elegan, cocok ke kantor”), benchmark sederhana (“baterai 80 hari”, “GPS dual-band”), dan promo PayLater.
Yang jarang dibicarakan: ke mana data tidur Anda mengalir setiap malam? Algoritma deteksi diabetes Huawei dilatih dengan populasi mana, dan apakah relevan dengan tubuh orang Indonesia? Notifikasi “stres tinggi” itu didefinisikan berdasarkan baseline siapa? Mengapa Huawei sendiri secara jujur mengatakan fitur risiko diabetesnya adalah “referensi awal, bukan alat medis resmi”—dan apakah pengguna membaca disclaimer itu, atau langsung percaya pada angka?
Tanpa kebudayaan teknis Simondonian, kita terjebak bergantian antara dua dosa: memuja smartwatch sebagai dokter pribadi yang infalibel, atau mencibirnya sebagai “gaya-gayaan” semata. Keduanya menghalangi kita menjalin hubungan yang matang dengan teknologi yang sudah menempel di kulit kita.
Konsekuensinya tidak melulu negatif, dan di sinilah Merleau-Ponty memberi keseimbangan terhadap Heidegger. Banyak orang Indonesia—terutama generasi yang dibesarkan dalam budaya “kuatkan saja, jangan cengeng”—memang baru mulai mendengarkan tubuhnya lewat alat ini.
Bagi seorang ibu yang seumur hidup mengabaikan jantungnya demi keluarga, notifikasi aritmia bisa benar-benar menyelamatkan nyawa. Bagi seorang anak muda yang tidak pernah belajar mengenali kelelahan emosional, mood log harian bisa menjadi pintu menuju refleksi diri yang lebih dalam.
Tetapi Merleau-Ponty juga memaksa kita bertanya: kalau persepsi-tubuh saya terus-menerus dimediasi oleh algoritma, apakah yang saya rasakan masih “tubuh saya”? Mahasiswa yang merasa baik-baik saja di kelas, lalu cemas setelah melihat skor stres watch-nya tinggi—apakah ia menjadi lebih sadar tubuh, atau justru menjadi pasien dari diagnosis algoritmik?
Di tahun ketika self-diagnosis lewat aplikasi dan media sosial menjadi tren yang diakui Kementerian Kesehatan sebagai bermasalah, pertanyaan ini bukan akademis. Kita berisiko mengalami iatrogenesis algoritmik: cemas karena diberi tahu cemas, sakit karena diberi tahu mungkin sakit.
Simondon: Menolak Dua Dosa Modern
Gilbert Simondon, filsuf Prancis yang baru hangat dibaca lagi belakangan ini, menyumbangkan lensa ketiga yang paling produktif untuk konteks Indonesia. Dalam Du mode d’existence des objets techniques, ia mendiagnosis dua sikap modern yang sama-sama keliru: memandang teknologi sebagai sihir atau musuh di satu sisi, atau memperlakukannya sebagai sekadar budak instrumental di sisi lain. Kedua sikap ini, kata Simondon, sama-sama gagal melihat objek teknis sebagai kenyataan tersendiri yang punya mode keberadaannya sendiri.
Smartwatch, kata Simondon, bukan jin pelayan yang ajaib mengetahui kesehatan kita, dan bukan juga “tirani digital” yang harus ditolak. Ia adalah individu teknis yang hidup dalam milieu asosiatif-nya: sensor optik dan elektroda, algoritma machine learning yang sudah dilatih dengan jutaan titik data, server cloud yang menyimpan riwayat denyut Anda, ekosistem aplikasi pihak ketiga, kontrak data dengan korporasi asing, baterai berbahan lithium yang punya jejak ekologis tersendiri.
Untuk berhubungan dengan benda ini secara sehat, kita perlu apa yang Simondon sebut culture technique: kebudayaan teknis. Bukan kemampuan reparasi, tapi pemahaman tentang mode keberadaan benda yang kita pakai.
Inilah yang kira-kira tidak kita miliki di Indonesia 2026. Pasar wearable kita riuh dengan diskusi estetika (“bezel-nya elegan, cocok ke kantor”), benchmark sederhana (“baterai 80 hari”, “GPS dual-band”), dan promo PayLater.
Yang jarang dibicarakan: ke mana data tidur Anda mengalir setiap malam? Algoritma deteksi diabetes Huawei dilatih dengan populasi mana, dan apakah relevan dengan tubuh orang Indonesia? Notifikasi “stres tinggi” itu didefinisikan berdasarkan baseline siapa? Mengapa Huawei sendiri secara jujur mengatakan fitur risiko diabetesnya adalah “referensi awal, bukan alat medis resmi”—dan apakah pengguna membaca disclaimer itu, atau langsung percaya pada angka?
Tanpa kebudayaan teknis Simondonian, kita terjebak bergantian antara dua dosa: memuja smartwatch sebagai dokter pribadi yang infalibel, atau mencibirnya sebagai “gaya-gayaan” semata. Keduanya menghalangi kita menjalin hubungan yang matang dengan teknologi yang sudah menempel di kulit kita.
Lihat Juga :