Smartwatch di Pergelangan Bangsa: Membaca Indonesia Melalui Heidegger, Merleau-Ponty, dan Simondon
Selasa, 12 Mei 2026 - 19:12 WIB
loading...
A
A
A
Indonesia dalam Kelas, Tubuh, dan Pertanyaan yang Tertunda
Tiga lensa ini menjadi lebih tajam ketika ditempelkan ke realitas Indonesia hari ini. Pertama, soal kelas. Smartwatch dijual sebagai democratized healthcare—deteksi dini bagi semua. Tapi siapa yang punya akses ke Watch FIT 5 Pro dengan studi risiko diabetes, dan siapa yang puas dengan smartwatch dua ratus ribuan yang hanya menghitung langkah?
Pengemudi ojol yang justru paling rentan terhadap stres kerja, paparan polusi, dan jam tidur kacau, adalah yang paling tidak mungkin punya akses ke fitur kesehatan mahal. “Demokratisasi kesehatan” lewat wearable adalah janji yang, dalam praktiknya, malah memperkuat segregasi tubuh berdasarkan kelas: tubuh mana yang layak dipantau dengan presisi medis, dan tubuh mana yang hanya layak dihitung langkahnya.
Kedua, soal struktur. Smartwatch menjanjikan wellness, sementara struktur yang menghasilkan ketidaksejahteraan dibiarkan utuh. Pekerja muda dianjurkan “mengelola stres” lewat breathing exercise di sela rapat yang berkepanjangan; mahasiswa diminta “menjaga skor tidur” sambil tugas datang tanpa henti dari dosen di luar jam wajar.
Mood tracker menjadi substitusi murah untuk perubahan struktural. Tanggung jawab atas kesejahteraan ditimpakan pada individu yang harus rajin self-monitoring, sementara sistem kerja, sistem pendidikan, dan sistem kesehatan publik yang membuat kita sakit, dibiarkan tak tersentuh. Heidegger akan menyebut ini Gestell yang menang sempurna: bahkan kritik terhadap sistem diserap kembali sebagai tanggung jawab individu untuk lebih rajin mengoptimalkan diri.
Ketiga, soal identitas. Memakai Apple Watch, atau memamerkan grafik VO2 max di Instagram Stories, telah menjadi penanda kelas dan disposisi diri di kalangan Gen Z urban Indonesia. Apakah ini “kesadaran tubuh” Merleau-Pontian yang otentik, atau membingkai-diri Heideggerian untuk meraih nilai pasar dalam ekonomi perhatian? Mungkin keduanya sekaligus—dan justru karena itulah kita butuh ketiga filsuf ini.
Bukan Menolak, Bukan Memuja
Argumen tulisan ini bukan ajakan untuk membuang smartwatch—itu nostalgia naif yang tidak menjawab apa-apa. Bukan juga rayuan untuk memeluknya tanpa kritik—itu fetishisme konsumen yang sama menyesatkannya. Yang dibutuhkan masyarakat Indonesia 2026, di tengah euforia wearable yang sedang menanjak, adalah sikap ketiga.
Dari Simondon, kita belajar bahwa hubungan yang sehat dengan smartwatch dimulai dari pemahaman tentang kenyataan teknisnya: data Anda mengalir ke mana, algoritma menafsir dengan standar siapa, klaim medis mana yang valid dan mana yang sekadar pemasaran. Literasi data dan literasi algoritma harus jadi bagian dari literasi digital di sekolah dan media kita.
Dari Merleau-Ponty, kita belajar bahwa alat ini benar-benar masuk ke tubuh kita—maka pilihan untuk memakainya bukan pilihan sepele tentang gadget, melainkan pilihan tentang medium persepsi apa yang ingin kita pelihara. Mendengarkan tubuh tanpa watch sesekali, berjalan tanpa langkah dihitung, tidur tanpa skor—bukan ritual nostalgia, melainkan latihan agar skema tubuh tidak sepenuhnya didefinisikan oleh satu perusahaan teknologi.
Dari Heidegger, kita belajar untuk waspada terhadap pembingkaian. Tubuh bukan hanya Bestand. Kesehatan bukan hanya optimasi. Tidur bukan hanya skor. Ada cara-cara lain mengenal tubuh dan dunia yang juga punya nilai—cara yang lebih puitis, lebih komunal, lebih ritmis dengan alam dan dengan sesama. Cara-cara ini perlu kita pelihara, bukan untuk menggantikan teknologi, tapi agar teknologi tidak menjadi cara-tunggal memandang manusia.
Di pergelangan kita, tahun ini, sebuah benda kecil mengubah Indonesia. Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan “smartwatch mana yang sebaiknya saya beli?”, tetapi: tubuh seperti apa yang sedang kita bentuk, dan untuk dunia seperti apa?
*Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili lembaga manapun.
Tiga lensa ini menjadi lebih tajam ketika ditempelkan ke realitas Indonesia hari ini. Pertama, soal kelas. Smartwatch dijual sebagai democratized healthcare—deteksi dini bagi semua. Tapi siapa yang punya akses ke Watch FIT 5 Pro dengan studi risiko diabetes, dan siapa yang puas dengan smartwatch dua ratus ribuan yang hanya menghitung langkah?
Pengemudi ojol yang justru paling rentan terhadap stres kerja, paparan polusi, dan jam tidur kacau, adalah yang paling tidak mungkin punya akses ke fitur kesehatan mahal. “Demokratisasi kesehatan” lewat wearable adalah janji yang, dalam praktiknya, malah memperkuat segregasi tubuh berdasarkan kelas: tubuh mana yang layak dipantau dengan presisi medis, dan tubuh mana yang hanya layak dihitung langkahnya.
Kedua, soal struktur. Smartwatch menjanjikan wellness, sementara struktur yang menghasilkan ketidaksejahteraan dibiarkan utuh. Pekerja muda dianjurkan “mengelola stres” lewat breathing exercise di sela rapat yang berkepanjangan; mahasiswa diminta “menjaga skor tidur” sambil tugas datang tanpa henti dari dosen di luar jam wajar.
Mood tracker menjadi substitusi murah untuk perubahan struktural. Tanggung jawab atas kesejahteraan ditimpakan pada individu yang harus rajin self-monitoring, sementara sistem kerja, sistem pendidikan, dan sistem kesehatan publik yang membuat kita sakit, dibiarkan tak tersentuh. Heidegger akan menyebut ini Gestell yang menang sempurna: bahkan kritik terhadap sistem diserap kembali sebagai tanggung jawab individu untuk lebih rajin mengoptimalkan diri.
Ketiga, soal identitas. Memakai Apple Watch, atau memamerkan grafik VO2 max di Instagram Stories, telah menjadi penanda kelas dan disposisi diri di kalangan Gen Z urban Indonesia. Apakah ini “kesadaran tubuh” Merleau-Pontian yang otentik, atau membingkai-diri Heideggerian untuk meraih nilai pasar dalam ekonomi perhatian? Mungkin keduanya sekaligus—dan justru karena itulah kita butuh ketiga filsuf ini.
Bukan Menolak, Bukan Memuja
Argumen tulisan ini bukan ajakan untuk membuang smartwatch—itu nostalgia naif yang tidak menjawab apa-apa. Bukan juga rayuan untuk memeluknya tanpa kritik—itu fetishisme konsumen yang sama menyesatkannya. Yang dibutuhkan masyarakat Indonesia 2026, di tengah euforia wearable yang sedang menanjak, adalah sikap ketiga.
Dari Simondon, kita belajar bahwa hubungan yang sehat dengan smartwatch dimulai dari pemahaman tentang kenyataan teknisnya: data Anda mengalir ke mana, algoritma menafsir dengan standar siapa, klaim medis mana yang valid dan mana yang sekadar pemasaran. Literasi data dan literasi algoritma harus jadi bagian dari literasi digital di sekolah dan media kita.
Dari Merleau-Ponty, kita belajar bahwa alat ini benar-benar masuk ke tubuh kita—maka pilihan untuk memakainya bukan pilihan sepele tentang gadget, melainkan pilihan tentang medium persepsi apa yang ingin kita pelihara. Mendengarkan tubuh tanpa watch sesekali, berjalan tanpa langkah dihitung, tidur tanpa skor—bukan ritual nostalgia, melainkan latihan agar skema tubuh tidak sepenuhnya didefinisikan oleh satu perusahaan teknologi.
Dari Heidegger, kita belajar untuk waspada terhadap pembingkaian. Tubuh bukan hanya Bestand. Kesehatan bukan hanya optimasi. Tidur bukan hanya skor. Ada cara-cara lain mengenal tubuh dan dunia yang juga punya nilai—cara yang lebih puitis, lebih komunal, lebih ritmis dengan alam dan dengan sesama. Cara-cara ini perlu kita pelihara, bukan untuk menggantikan teknologi, tapi agar teknologi tidak menjadi cara-tunggal memandang manusia.
Di pergelangan kita, tahun ini, sebuah benda kecil mengubah Indonesia. Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan “smartwatch mana yang sebaiknya saya beli?”, tetapi: tubuh seperti apa yang sedang kita bentuk, dan untuk dunia seperti apa?
*Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili lembaga manapun.
(poe)
Lihat Juga :