Amerika Serikat di Persimpangan Damai Pada Perang Iran

Senin, 11 Mei 2026 - 16:26 WIB
loading...
A A A
Penulis berpandangan bahwa narasi seperti ini penting menjelang dinamika politik dalam negeri AS. Setelah perang panjang di Timur Tengah yang menguras legitimasi selama dua dekade terakhir, publik AS cenderung lelah terhadap intervensi luar negeri.

Karenanya, kemenangan simbolik jauh lebih berguna daripada perang panjang tanpa akhir. Namun, kemenangan politik semacam ini rapuh. Bila Iran kembali menyerang kepentingan AS atau menutup kembali Selat Hormuz, maka klaim kemenangan AS akan runtuh dalam semalam.

Skenario kedua adalah AS menggunakan gencatan senjata sebagai alat tekanan politik untuk memaksa Iran masuk ke meja perundingan baru. Blokade laut, sanksi ekonomi, dan tekanan sekutu akan dipertahankan sampai Teheran menerima syarat Washington: pembatasan rudal, program nuklir, dan pengaruh regional Iran. Ini yang sedang berjalan. Juga, indikasi ke arah ini sudah terlihat. Pemerintahan AS masih menunggu jawaban Iran atas proposal damai, dan juga tetap memperluas sanksi terhadap jaringan drone Iran.

Bila berhasil, AS akan memperoleh sesuatu yang gagal dicapai selama bertahun-tahun, yaitu Iran yang ditekan bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara strategis. Namun, sejarah menunjukkan bahwa Iran bukanlah aktor yang mudah dipaksa untuk takluk. Negeri itu sejak Revolusi Iran 1979 telah terbiasa hidup di bawah embargo ekonomi dan piawai mengubah tekanan menjadi nasionalisme domestik dan menyatukan rakyat dan oposisi di bawah bendera.

Skenario ketiga, ini mungkin skenario paling realistis, di mana tidak ada perang total, tetapi juga tidak ada damai sejati. Hubungan AS-Iran akan masuk ke fase “perang beku”, yaitu serangan siber, sabotase maritim, proksi bersenjata, ancaman rudal, dan juga perang ekonomi.

Dalam model ini, Washington tidak perlu melakukan invasi besar. Ia cukup menjaga tekanan konstan sambil menahan Iran agar tidak terlalu kuat. Sebaliknya, Iran pun akan membalas secukupnya agar tidak terlihat menyerah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
Prabowo Terima Menlu...
Prabowo Terima Menlu Turki di Hambalang, Bahas Palestina hingga Timur Tengah
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Trump Akui Mendamprat...
Trump Akui Mendamprat Netanyahu dengan Makian Kasar: 'Saya Sedikit Terganggu...'
Meski AS-Iran Musuh...
Meski AS-Iran Musuh Bebuyutan, Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Rekomendasi
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Trump Akui Mendamprat...
Trump Akui Mendamprat Netanyahu dengan Makian Kasar: 'Saya Sedikit Terganggu...'
Jerman Gagal Rebut Kursi...
Jerman Gagal Rebut Kursi DK PBB untuk Pertama Kalinya
Berita Terkini
Balada Silmy Karim,...
Balada Silmy Karim, dari Pindad, Krakatau Steel, Dirjen Imigrasi, Wamen Imipas, dan Pakai Rompi KPK
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
KPK Tahan Wamen Imipas...
KPK Tahan Wamen Imipas Silmy Karim dan Eks Plt Dirjen Imigrasi Saffar Godam
Wamen Imipas Silmy Karim...
Wamen Imipas Silmy Karim Kenakan Rompi Oranye dan Diborgol
Prabowo: Makan Masalah...
Prabowo: Makan Masalah Sakral, Tidak Boleh Jadi Sarana Korupsi
Sidang Gugatan PLK,...
Sidang Gugatan PLK, Saksi Sebut Organisasi Penerus HCL Tak Punya Dasar Hukum
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved