Jelang Muktamar NU, Prinsip Asal Bukan Koruptor Menjadi Relevan
Kamis, 23 April 2026 - 14:43 WIB
loading...
Warga NU Kiai Kampung HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan digelar pada Juli-Agustus 2026. Muktamar didahului oleh Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) pada April 2026. Dalam Muktamar NU 2026, prinsip 'Abuktor' dianggap menjadi relevan.
Menurut Warga NU Kiai Kampung HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Muktamar NU tidak cukup dimaknai sebagai forum pergantian kepemimpinan, tetapi harus dibaca sebagai arena penentuan arah moral organisasi.
"Di titik itulah, satu prinsip perlu ditegaskan secara terang: Abuktor—Asal Bukan Koruptor," katanya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Maju di Muktamar ke-35 NU, Gus Salam Silaturahmi ke Abuya Muhtadi Dimyati Banten
Menurutnya, prinsip itu penting karena realitas yang dihadapi PBNU saat ini yang mengalami krisis kepercayaan. Dalam perspektif ilmu sosial, kata dia, NU tidak hanya organisasi keagamaan, melainkan jaringan sosial yang menopang kepercayaan publik.
"Robert D. Putnam menyebutnya sebagai social capital: kumpulan norma, kepercayaan, dan relasi sosial yang memungkinkan masyarakat bekerja sama secara efektif. Jika kepercayaan itu terganggu, maka yang rusak bukan hanya organisasi, tetapi juga kohesi sosial yang lebih luas," katanya.
Karena itu, lanjutnya, Muktamar NU harus dimulai dari upaya memulihkan kepercayaan. Dan pemulihan itu tidak mungkin dilakukan tanpa integritas. Dia mengatakan, krisis integritas pada PBNU saat ini sangat nyata, terutama terkait isu tata kelola haji—mulai dari kuota, katering, pemondokan, hingga pengadaan layanan.
Menurut Warga NU Kiai Kampung HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Muktamar NU tidak cukup dimaknai sebagai forum pergantian kepemimpinan, tetapi harus dibaca sebagai arena penentuan arah moral organisasi.
"Di titik itulah, satu prinsip perlu ditegaskan secara terang: Abuktor—Asal Bukan Koruptor," katanya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Maju di Muktamar ke-35 NU, Gus Salam Silaturahmi ke Abuya Muhtadi Dimyati Banten
Menurutnya, prinsip itu penting karena realitas yang dihadapi PBNU saat ini yang mengalami krisis kepercayaan. Dalam perspektif ilmu sosial, kata dia, NU tidak hanya organisasi keagamaan, melainkan jaringan sosial yang menopang kepercayaan publik.
"Robert D. Putnam menyebutnya sebagai social capital: kumpulan norma, kepercayaan, dan relasi sosial yang memungkinkan masyarakat bekerja sama secara efektif. Jika kepercayaan itu terganggu, maka yang rusak bukan hanya organisasi, tetapi juga kohesi sosial yang lebih luas," katanya.
Karena itu, lanjutnya, Muktamar NU harus dimulai dari upaya memulihkan kepercayaan. Dan pemulihan itu tidak mungkin dilakukan tanpa integritas. Dia mengatakan, krisis integritas pada PBNU saat ini sangat nyata, terutama terkait isu tata kelola haji—mulai dari kuota, katering, pemondokan, hingga pengadaan layanan.
Lihat Juga :