Hormuz, Malaka dan Gagasan Laut Bebas

Selasa, 21 April 2026 - 17:51 WIB
loading...
Hormuz, Malaka dan Gagasan...
Zezen Zaenal Mutaqin, Ahli Hukum Internasional Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Foto/Dok.Pribadi
A A A
Zezen Zaenal Mutaqin

Ahli Hukum Internasional Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

DALAM negosiasi damai yang sedang dilakukan antara Amerika dan Iran, Selat Hormuz dan isu pengayaan uranium adalah dua hal yang paling susah menemukan titik temu. Bagi Iran, Selat Hormuz adalah titik cekikkan untuk bernegosiasi dengan Amerika. Bagi Amerika, sepenuhnya memulihkan jalur laut Hormuz seperti sebelum konflik adalah simbol kemenangan.

Pentingnya Hormuz sekarang adalah karena selat yang lebarnya 33 kilometer itu menjadi jantung logistik energi dunia. Komoditas energi, bahan kimia, dan logistik lainnya berasal dari wilayah Teluk yang harus diangkut melewati selat itu.

Gangguan pasokan dalam waktu lama akan menciptakan krisis di dunia, sesuatu yang sekarang mulai dirasakan oleh kita semua.

Perebutan Malaka


Bagi sarjana yang mempelajari sejarah pembentukan hukum internasional, peristiwa perebutan Selat Hormuz ini mengingatkan pada episode perebutan Malaka pada abad ke 16. Setelah merebut dan menguasai Selat Malaka pada tahun 1511, Portugis mendeklarasikan Malaka sebagai wilayah laut tertutup (mare clausum) yang sepenuhnya berada dalam kedaulatan mereka. Malaka dimiliki oleh Portugis.

Klaim hak eksklusif itu penting untuk Portugis karena dengan demikian mereka memiliki akses pada sumber daya utama komoditas dunia, yakni rempah-rempah dari wilayah Nusantara. Jika saat ini produk komoditas incaran dunia adalah minyak dan gas, saat itu komoditas utama adalah rempah-rempah.

Perdagangan dimonopoli Portugis. Setiap kapal yang melintas harus mendapatkan izin dari Portugis. Malaka adalah gerbang emas untuk mengamankan jalur logistik antara Laut Cina Selatan dan Lautan Hindia.

Pada saat yang sama, kekuatan Eropa lain, Belanda, juga memulai eksplorasi di wilayah yang kelak akan menjadi wilayah jajahannya. Belanda keberatan atas klaim "mare clausum" sepihak dari Portugis. Dan untuk itu, lewat perwakilan dagang di Nusantara, VOC, Belanda mulai menjalin kekuatan dengan para sultan di wilayah selat Malaka dan Nusantara.

Puncak persaingan itu terjadi pada 25 Februari 1603, ketika salah satu kapal kargo raksasa Portugis, Santa Catarina, direbut oleh VOC di bawah pimpinan Admiral Jacob van Heemskerk. Pertempuran berlangsung sengit dan VOC berhasil menang karena dibantu Sultan Johor, Alauddin Ri'ayat Syah III dan adiknya Raja Bongsu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo Terima Menlu...
Prabowo Terima Menlu Turki di Hambalang, Bahas Palestina hingga Timur Tengah
Hari ke-83 Perang Iran:...
Hari ke-83 Perang Iran: Ketika Diplomasi Menjadi Jeda Kematian
Fenomena Rupiah Melemah...
Fenomena Rupiah Melemah dan Dilema Impossible Trinity: Membaca Kepanikan Investor di Tengah Ketidakpastian Global
Imbas Selat Hormuz Ditutup,...
Imbas Selat Hormuz Ditutup, Prabowo Ungkap Banyak Negara Minta Pupuk dari Indonesia
Pakar Hubungan Internasional:...
Pakar Hubungan Internasional: China Punya Kepentingan Redam Konflik AS-Iran
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Kehancuran di Pangkalan Udara Israel Akibat Serangan Iran
Rekomendasi
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Poco F8 Ultra Kembali...
Poco F8 Ultra Kembali Dijual di Indonesia: HP Gaming Buas dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5
Bacok Pelajar di Jakbar,...
Bacok Pelajar di Jakbar, 2 Pelaku Ditangkap Polsek Palmerah
Berita Terkini
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Tersangka Kasus Ijazah...
Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Desak Polisi Buat Kepastian Hukum
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Kecam Ketimpangan Layanan...
Kecam Ketimpangan Layanan Dialisis, KPCDI Desak Pemerintah Benahi Sistem
Pengacara Jokowi: Ada...
Pengacara Jokowi: Ada Dugaan Manipulasi Bukti Elektronik dalam Kasus Ijazah Jokowi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved